“Dosa” Kepelatihan van Gaal di Old Trafford

Penulis: Darmansyah

Selasa, 22 Desember 2015 | 09:49 WIB

Dibaca: 0 kali

Apa yang salah dari “dosa” kepelatihan Louis van Gaal di Manchester United?

Nah. Itulah pertanyaan yang belum tuntas ditemukan jawabannya hingga sang pelatih, kini, diancam akan dipecat usai kekalahan beruntun ketiganya di Liga Primer.

Betulkan van Gaal akan dipecat.

Itu juga pertanyaan yang masih simpang siur dan dispekulasikan oleh media secara luas.

Terlepas dari dipecat atau masih dipercaya, tekanan di pundak Louis van Gaal mulai menggunung.

Tersingkir dari Liga Champions usai ditundukkan VfL Wolfsburg, lalu menyerah di markas Bournemouth, Red Devils keok lagi tatkala menjamu Norwich City di Old Trafford hingga terlempar keluar dari empat besar klasemen Liga Primer Inggris.

Selain hasil, United asuhan Van Gaal mendapat sorotan tajam karena gaya main yang cenderung monoton dan membosankan.

United memang kerap mendominasi penguasaan bola, tetapi amat minim dalam penetrasi.

Bayangkan saja, dalam empat partai kandang terakhir di liga – termasuk tadi malam – Opta mencatat pasukan LvG cuma melepas total tujuh tembakan akurat!

Setelah ditekuk Norwich, Van Gaal sendiri mengaku pasrah menghadapi ancaman pemecatan.
“Kebetulan”, ada dua pelatih top yang berpotensi menjadi suksesornya.

Pertama Jose Mourinho, yang baru saja ditendang untuk kali kedua dari kursinya sebagai nakhoda Chelsea, dan nama Pep Guardiola pun mencuat ke permukaan setelah kuat diyakini dirinya siap meninggalkan Bayern Munich akhir musim ini.

Tetapi bagaimana opini fans Manchester Merah soal ini? Apakah mereka ingin melihat salah satu murid Van Gaal tampil menggantikan pria Belanda itu, atau mereka masih percaya pada sang meneer?

Manchester United memang sedang mengalami pasang surut sehingga para fans kecewa dengan kinerja Louis van Gaal.

Pelatih asal Belanda ini dianggap gagal membawa tim kesayangan mereka menjadi salah satu skuat dengan penampilan yang paling mengesankan.

Penilaian berbeda justru diutarakan pemain belakang MU, Phil Jones, yang tetap membela Van Gaal.

Mantan pemain Blackburn Rovers ini mengatakan jika era Van Gaal masih lebih baik dibanding masa pelatih sebelumnya David Moyes.

“Saya tidak mengatakan itu adalah momen terburuk. Tapi, saya pikir di bawah kepelatihan Moyes kami mengalami hal yang lebih murung. Sayangnya pada saat itu kami tidak bermain dengan baik,” ucap Jones dilansir Sky Sports.

Selain itu, Jones juga meminta rekan-rekannya untuk segera bangkit dari situasi sulit saat. Ini agar mereka kembali mampu bersaing di papan atas klasemen sementara Liga Inggris.

“Para pemain tidak bersembunyi di balik siapapun. Kami tahu jika ini menjadi tanggung jawab seluruh pemain United,” katanya.

Saat ini tidak ada cara lain, manajer sudah mengatur tim, dan kami harus bisa bangkit untuk keluar dari situasi ini, kemudian melakukan yang terbaik,” sambung pemain Inggris tersebut.

Rentetan hasil negatif menjauhkan Manchester United dari gelar juara Premier League.

Kini, mereka terpaut sembilan poin dengan Leicester City selaku pemuncak klasemen sementara.

Apa yang salah dari Manchester United?

Statistik pun ikut menjelaskannya.

Setelah pertandingan kontra Norwich, van Gaal menampik bahwa United tim Maklum, suporter selalu menyerukan para pemain untuk menyerang setiap melakoni laga kandang.

“Maksud mereka, kami harus mencetak gol,” tutur Van Gaal.

Produktivitas United memang memprihatinkan.
Mereka cuma menempati posisi kedelapan untuk catatan memasukkan hingga pekan ketujuh belas Premier League.

Bandingkan dengan tiga tim teratas. Leicester City, Manchester Cityl, dan Arsenall.

Manchester United hampir selalu superior menilik penguasaan bola dengan rata-rata 60,5 persen. Catatan ini merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan kontestan Premier League lainnya.

Akan tetapi, penguasaan bola United terasa hambar apabila disandingkan dengan jumlah peluang.

Wajar jika Manchester United tergolong tidak produktif dalam mencetak gol. Mereka juga minim melepaskan tembakan.

Untuk aspek ini, United hanya menduduki peringkat kedelapan belas. Mereka tertinggal jauh dari tiga kandidat juara lainnya. Manchester

Meski minim peluang, Manchester United sebenarnya tergolong efektif.

Hanya tiga belas peluang emas gagal dikonversi menjadi gol. Khusus aspek ini, cuma ada enam tim yang lebih baik dari Manchester United.

Menilik empat aspek tersebut, tak heran apabila Paul Scholes menyatakan, United terlalu banyak melakukan operan, tetapi jarang menebar ancaman.

“Mereka melakukan terlalu banyak operan sebelum memasuki sepertiga lapangan terakhir. Ini menjadi alasan striker seperti Wayne Rooney mengalami kesulitan mencetak gol. Mereka tidak mengalami pelayanan,” kata Scholes.

Untuk meningkatkan produktivitas, Manchester United tidak cuma memerlukan dominasi lewat penguasaan bola dan efektivitas, tetapi juga kuantitas peluang.

Komentar