Darah Martir Hamas Membasuh Luka Gaza

Penulis: Darmansyah

Senin, 21 Juli 2014 | 15:43 WIB

Dibaca: 0 kali

Empat belas hari sudah Gaza berkecamuk. Bom, tembakan mortil dan letusan senjata terus bersahutan dengan satu tujuan, bunuh dan bunuh semua. Korban jiwa terus berjatuhan di Gaza. Warga Palestina yang tewas akibat serangan-serangan Israel kini telah melampaui angka lima rtus orang.

Pagi tadi, waktu setempat, Senin, 21 Juli 2014, sebuah bom udara Israel menewaskan satu keluarga yang terdiri dari sembilan orang, termasuk tujuh anak-anak.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Senin siang, korban jiwa terbesar akibat bombardir Israel terjadi pada Minggu, 20 Juli 2014, yang merenggut lebih dari seratus lima puluh nyawa warga Palestina.
Ini disebut-sebut sebagai hari paling mematikan dalam konflik Gaza. Banyak dari para korban tersebut adalah wanita dan anak-anak.

Sementara itu, Sekjen PBB Ban Ki-moon menyerukan Israel untuk menerapkan pengendalian diri maksimum.

“Terlalu banyak orang tak bersalah yang mati … dan hidup dalam ketakutan terus-menerus,” ujar Ban Doha, Qatar.

Barack Obama, yang dulunya mengesankan sebagai humanis, hanya bisa menyerukan gencatan senjata segera. Seruan ini, dengan nada lunak, disampaikan menyusul terus bertambahnya korban jiwa warga Palestina akibat serangan-serangan Israel.

Obama menelepon Benjamin Netanyahu untuk menyampaikan keprihatinannya atas jatuhnya korban jiwa di kedua belah pihak.

Menurut Gedung Putih, seperti dilansir AFP, dalam percakapan tersebut, Obama mempertegas bahwa Israel berhak mempertahankan diri. Namun Obama juga menyerukan gencatan senjata segera di Gaza.

Dari Inggris, David Cameron juga telah berbicara dengan Netanyahu. Cameron menekankan dukungan kuat Inggris atas hak Israel untuk mengambil tindakan semestinya guna mempertahankan diri dari serangan-serangan roket Gaza.

Cameron juga menyampaikan belasungkawa atas korban jiwa di pihak Israel serta keprihatinan atas meningkatnya korban jiwa di Gaza.

Operasi militer Israel di wilayah Gaza ini telah berlangsung sejak 8 Juli lalu. Operasi yang diberi nama “Operation Protective Edge” ini diklaim Israel untuk menghentikan serangan-serangan roket militan Gaza.

Pada Minggu, 20 Juli waktu setempat, militer Israel menyatakan, 13 tentaranya tewas di Gaza di hari ketiga berlangsungnya serangan darat. Dengan demikian, sejauh ini sudah 18 tentara Israel yang tewas dalam konflik dengan Hamas tersebut. Kemudian dua warga sipil Israel juga tewas akibat serangan roket dari Gaza.

Jumlah warga Palestina yang tewas di Gaza telah meningkat menjadi 469 orang, kata sejumlah petugas medis, setelah mengumumkan kematian 31 orang lagi pada Senin pagi.

Qudra mengatakan, delapan puluh persen korban tewas di Shejaiya adalah “orangtua, wanita, dan anak-anak”. Dia mengatakan, sekitar empat ribu warga Palestina di Shejaiya terluka.

Angka kematian yang disampaikan Qudra sudah mencakup korban tewas selama 15 hari terakhir.

Dua warga Amerika Serikat yang juga memegang paspor Israel dan menjadi anggota Angkatan Pertahanan Israel tewas dalam pertempuran di Gaza.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan, dua warga AS tewas dalam kekerasan di Gaza dan merilis nama-nama mereka, tetapi tidak segera mengungkapkan pekerjaan kedua orang itu.

“Kami dapat memastikan kematian warga AS, Max Steinberg dan Sean Carmeli, di Gaza,” kata Juru Bicara Deplu AS Jen Psaki dalam sebuah pernyataan berisi dua kalimat. “Karena menghormati mereka yang terimbas peristiwa ini, kami tidak memberikan informasi tambahan saat ini.”

Sayap bersenjata kelompok Hamas Palestina mengklaim pada hari Minggu bahwa mereka telah menculik seorang tentara Israel. Klaim itu mendorong perayaan di jalan-jalan kota Gaza. “Prajurit Israel, Shaul Aaron, berada di tangan Qassam,” kata seorang juru bicara yang menggunakan nama samaran Abu Obeida dalam pidato di televisi.

Komentar