Hanya Setengah Musim untuk Rafa

Penulis: Darmansyah

Selasa, 5 Januari 2016 | 10:19 WIB

Dibaca: 0 kali

Rafael Benitez, hari ini, Selasa, 05 Januari 2016, dipersilakan angkat “koper,” alias dipecat, dari Santiago Bernabeu, setelah setengah musim mengkerdilkan peran Real Madrid di pentas La Liga dengan menempati posisi tiga di bawah Barcelona dan Atletico Madrid.

Rafael Benitez hanya bisa bertahan selama seratus delapan puluh delapan hari di Bernabue untuk kemudian “out.”

Rafa, begitu Rafael Benitez disapa, sebelum meninggalkan Napoli untuk datang ke Bernabue, seakan memberi harapan untuk membangkitkan kembali Real Madrid dari bayang-bayang seterunya Barcelona yang mengemas juara La Liga dan Liga Champions di musim sebelumnya.

Harapan ini kandas di akhir paro musim akibat gonjang ganjingnya prestasi Real yang kalah-menang dan seri. Bukan menang-menang dan menang.

Rafael Benitez resmi meninggalkan Real Madrid setelah klub memutuskan untuk mencari pelatih kepala baru, menyusul hasil imbang melawan Valencia akhir pekan kemarin.

Posisi pelatih kepala Madrid diisi oleh legenda sepakbola asal Prancis, Zinedine Zidane, yang sebelumnya melatih tim Castilla.

Benitez memiliki hubungan yang naik turun dengan suporter Los Blancos, dan ia juga dikabarkan memiliki keretakan dengan beberapa pemain kunci klub.

Media Spanyol secara serempak mengomentari dipecatnya mantan pelatih Liverpool, FC Internazionale dan Napoli itu dengan menuding kecilnya peran Madrid di ajang La Liga.

“Dia meraih hasil mengecewakan. Di laga terakhirnya bersama Madrid Rafa hanya bisa bermain seri dengan skuat asuhan Gary Neville, sehingga Madrid kehilangan dua angka. Hasil itu membuat Real tertahan di posisi ketiga klasemen,” tulis “marca,” Selasa, 05 Januari 2016.

Madrid kini terpaut empat angka di bawah Atletico Madrid, yang duduk di puncak, dan dua angka di bawah Barcelona, yang memiliki tabungan satu laga.

Benitez hanya menelan tiga kekalahan bersama anak asuhnya – dari Sevilla, Villarreal dan Barcelona – tetapi mereka juga tersingkir dari Copa del Rey akibat menurunkan pemain yang tidak sah.

Di pertemuan Dewan Direksi klub, Senin malam WIB, 04 Januari 2016, muncul kesepakatan untuk mengambil keputusan memecat Rafa dan menempatkan Zinedine Zidane sebagai orang nomor satu.

Bagi seorang pelatih kawakan yang pernah memenangi Liga Champions, masa pendek itu tergolong menyakitkan.

Ia nyaris tidak memiliki kesempatan untuk berbenah dan memperbaiki beberapa kesalahannya.

Lantas apa yang mendorong Perez mengambil keputusan tegas mendepaknya keluar dari klub.

Suporter Real Madrid memang terkenal tanpa tedeng aling-aling dalam menjatuhkan vonis terhadap pemain atau pelatih.

Jika sudah tidak menyukai sesuatu, mereka tanpa ampun akan memberikan cemoohan dan siulan.

Salah satu contohnya adalah ketika Real Madrid menang sepuluh gol lawan dua gol atas Rayo Vallecano pada 20 Desember lalu di Stadion Santiago Bernabeu.

Kemenangan telak itu tak mampu menghapuskan kekesalan para pendukung Madrid yang kadung menilai tim Benitez sebagai membosankan.

Berbagai siulan kemudian dialamatkan kepada Los Blancos, seperti halnya pada laga-laga sebelumnya.

Benitez bukan pelatih pertama yang menerima perlakukan seperti ini. Kemenangan memang bukan menjadi faktor satu-satunya yang bisa membuat seorang pelatih diterima di Madrid, tapi juga kemampuan menghibur para penggemar.

Dengan taktik pragmatis yang cenderung mengutamakan keseimbangan tim, Benitez memang tak pernah benar-benar diterima oleh publik Santiago Bernabeu.

Menjamu Barcelona di Santiago Bernabeu di laga putaran pertama La Liga, Benitez mencicipi kekalahan pahit El Clasico pertamanya, empat gol tanpa balas.

Kala itu Benitez melakukan kesalahan fatal mengganti taktik yang telah ia gunakan sepanjang musim demi memenuhi harapan penggemar.

Pada dua bulan sebelumnya, Benitez selalu mengandalkan Casemiro sebagai gelandang bertahan dan menggunakan formasi kesayangannya yang terkenal kaku.

Tapi pada laga El Clasico itu ia meninggalkan Casemiro di bangku cadangan dan memainkan Toni Kroos dan Luka Modric untuk menopang trio Benzema-Bale-Cristiano dan juga James Rodriguez.

Hasilnya, lini tengah Madrid kosong melompong dan tak bisa menandingi pera penggawa Barcelona.

Dalam wawancaranya dengan Bild, Toni Kroos pernah mengungkapkan bahwa Carlo Ancelotti adalah pelatih paling ideal yang pernah ia temui. Bukan hanya andal soal taktik, tapi ia juga pintar dalam menangani pemain.

Menurut Kroos, hal ini terlihat dari tidak ada satu pun suara sumbang untuk Ancelotti dari ketika ia dilepas sebagai pelatih Madrid.

Hal inilah yang gagal dilakukan Benitez.

Sebagai contoh adalah hubungannya dengan Isco dan James Rodriguez, dua pemain yang sama-sama memperebutkan posisi gelandang serang.

Benitez membuat Isco marah ketika ia tidak diturunkan di laga El Clasico dari menit pertama. Padahal, Isco adalah pemain andalan Benitez untuk mengisi kekosongan ketika James Rodriguez sedang cedera.

Di saat bersamaan, Rodriguez yang dimainkan sebagai pemain inti melawan Barca juga kesal dengan Benitez karena ia ditarik keluar dan digantikan Isco.

Gelandang tim nasional Kolombia itu merasa Benitez tak mau memainkannya dalam beberapa pertandingan, meski ia sudah kembali bugar setelah cedera.

Di saat-saat kritis dan Benitez dalam ancaman pemecatan, jarang ada pemain Madrid yang memberikan dukungan terbuka.

Di bawah Rafael Benitez, Cristiano Ronaldo sempat mengalami kekeringan gol di awal-awal musim.

Pemain tim nasional asal Portugal itu juga pernah berselisih dengan Benitez di sesi latihan pra-musim dan bahkan hingga meninggalkan tempat latihan karena tak mengerti instruksi Benitez.

Hubungan ini diperburuk dengan komentar Benitez ketika ia ditanyai soal siapakah pemain terbaik di dunia.

Alih-alih memberi dukungan penuh untuk Ronaldo, Benitez malah mengatakan tak bisa memilih antara Lionel Messi atau sang bintang tim nasional Portugal.

Beberapa hari setelahnya, Benitez baru mengubah sikapnya.

Seusai Ronaldo mencetak hattrick ke gawang Shaktar Donets di Liga Champions, Benitez dengan tegas mengatakan: “Tidak ada perdebatan. Ronaldo adalah yang terbaik di dunia.”

Tapi saat itu nasi telah kadung menjadi bubur dan Ronaldo tak pernah menunjukkan performa terbaik musim ini.

Komentar