“Ceceran” Kisah Tangan Besi Bernie di F1

Penulis: Darmansyah

Kamis, 26 Januari 2017 | 15:01 WIB

Dibaca: 0 kali

Perginya Bernie Ecclestone dari tampuk kekuasaanya di Formula One menyisakan “ceceran” kisah bagaimana ia menjalankan roda dunia balap itu selama empat puluh tahun.

Selain sebagai “diktator” dengan tangan besi, Bernie juga dikenal sebagai “pembaharu” ajang lomba jet darat itu kala memulai kepemimpinannya di awal kekuasaannya.

Di dalam perjalanannya, Ecclestone juga membuat dirinya sendiri sebagai salah satu makelar paling berkuasa di dunia.

Seorang mantan penjual mobil bekas, Ecclestone yang kini berada di usia sepuh menjalankan Formula One  dengan kepalan tangan besi selama empat puluh tahun.

Ia menjadikan Formula One sebagai  kerajaan global dan salah satu brand paling ternama di dunia.

Era kepemimpinannya berakhir pada awal pekan ini ketika Liberty Media merampungkan proses akusisi senilai miliaran dolar dan juga menunjuk mantan pemimpin eksekutif 21st Century Fox, Chase Carey, sebagai kepala dan pemimpin eksekutif Formula One.

Liberty Media menyikut Ecclestone dan singgasananya dan hanya memberikan hadian berupa “presiden kehormatan”.

Ecclestone secara jujur merespons penunjukkan Carey dengan menyatakan bahwa “hari ini saya dipecat.”

Ecclestone adalah sosok flamboyan

Tapi kariernya juga dipenuhi kontroversi.

Sebut saja di tiga tahun silam, Ecclestone membayar seratus juta dollar kepada otoritas Jerman untuk mengakhiri persidangan tuduhan suap pada dirinya.

Persidangan itu terkait proses penjualan hak siar.

Meski Ecclestone sempat menghadapi tuntutan sepuluh tahun penjara jika terbukti bersalah, banyak pihak memilih loyal padanya.

“Formula One bisa menjadi olahraga yang saat ini adalah karena Bernie Ecclestone, berkat cara-caranya membangun olahraga ini ,” kata pemimpin tim Red Bull, Christian Horner.

“Saya kira kami akan punya masalah besar tanpa dirinya.”

Mendapatkan julukan “Napoleon” karena posturnya yang pendek untuk ukuran “barat” dan juga sifat yang senang mengendalikan segala sesuatu, Ecclestone ditaksir Forbes memiliki harta hingga senilai tiga miliar dolar.

“Saya lebih menyukai pemimpin yang kuat,” kata Ecclestone delapan tahunn lalu ketika mengklaim bawha Adolf Hitler adalah sosok yang “mampu mengeksekusi keinginannya”.

Ecclestone juga pernah mengatakan Inggris tidak cocok dengan sistem demokrasi.

Ecclestone juga mendapat sorotan karena mendonasikan satu setengah juta pound sterling untuk Partai Buruh di bawah kepemimpinan Tony Blair.

Pemerintahan Blair kemudian merestui kelanggengan penggunaan iklan rokok oleh Formula One.

Pemilik gelar sarjana ilmu kimia dari Politeknik Woolwich di London Tenggara, Eccleston yang dikenal karena rambut peraknya memulai karier dengan menjual mobil dan motor di ibu kota Inggris.

Ia juga pernah menjajal dunia balapan.

Karier membalapnya berakhir dini ketika ia mengalami serangkaian kecelakaan. Ia pun mengalihkan perhatian pada bisnis di balik balapan.

Ia kemudian menjadi manajer pebalap Inggris berbakat, Stuart Lewis-Evans, yang lalu tewas dalam kecelakaan

Satu dekade kemudian, Ecclestone mengurusi pebalap Austria, Jochen Ridnt, yang juga meninggal dalam kecelakaan

Rindt adalah satu-satunya pebalap dalam sejarah yang memastikan gelar juara dunia Formula One setelah ia meninggal dunia.

Kemudian, Ecclestone membeli tim Brabham, dan juga menjadi bagian dari Asosiasi Konstruktor Formula Satu.

Pengaruh Ecclestone semakin meningkat ketika ia mengambil-alih tanggung jawab negosiasi hak siar televisi Formula One.

Sebelum kehadiran Ecclestone, hak siar dinegosiasikan pada setiap balapan.

Uang hak siar televisi itu kemudian mengubah Formula One.

Pundi-pundi dari perjanjian kerja sama mengalir. Negara-negara pun mulai mengantre untuk mendapatkan hak menjadi tuan rumah balapan.

Semua itu membuat Ecclestone sangat kaya.

Di era kepemimpinannya, Formula One berkembang demikian pesat dari aspek keuangan.

Salah satunya didorong oleh kemampuan Ecclestone menjadikan negara-negara berkocek tebal untuk menjadi tuan rumah.

“Kontrak-kontrak yang ia negosiasikan, sirkuit dan negara-negara yang ia rekrut, semuanya sangat mengesankan,” kata Horner.

Hanya dalam waktu dua dekade, Ecclestone mampu menjadikan Formula One sebagai ajang olahraga dengan jumlah penonton ketiga tertinggi di dunia setelah Piala Dunia dan Olimpiade.

Meski harus merogoh kocek hingga satu koma tiga miliar dolarr untuk membayar Slavica –ibu dari dua anaknya– ketika bercerai, kekayaan Ecclestone nyaris tak terganggu.

Lima tahun silam ia menikah untuk kali ketiga.

Kali ini dengan seorang wanita Brasil yang lebih muda, Fabiana Flosi. Keduanya bertemu di balapan salah satu negara Amerika Selatan.

Keluarga Ecclestone kembali dalam sorotan saat ibu mertuanya, Aparecida Schunck Flosi Palmeira, diculik.

Para pelaku meminta tebusan .

Seandainya Ecclestone tak mau menebus, para penculik mengancam akan mengirimkan kepala ibu mertua Ecclestone dalam sebuah karung.

Beruntung kepolisian Brasil mampu melacak para pelaku. Salah satu di antaranya adalah seorang pilot helikopter yang pernah bekerja untuk keluarga Ecclestone.

Kisah penculikan itu bukan satu-satunya kontroversi yang ada di hidup Ecclestone.

Dari mengagumi Adolf Hitler dan Vladimir Putin, hingga tak mau menghadiri pesta perayaan putrinya sendiri menjadi kisah-kisah yang hadir dalam jalan hidupnya.

Ecclestone juga pernah menyebut bahwa Formula One  memang perlu dijalankan oleh seorang diktator seperti dirinya.

Sebuah pengakuan yang tak mungkin muncul dari orang yang tak punya kepribadian kuat seperti Ecclestone.

Kepergian Ecclestone dari dunia Formula One  sontak direspons dengan cara beragam.

Ada yang menyebut bahwa hal itu terlambat bahwa Ecclestone seharusnya sudah lama pergi. Ada yang mengucapkan terima kasih karena jasa-jasa Ecclestone dalam membangun kerajaan balapan itu.

Hanya saja satu hal yang bisa disepakati: sosok sepertinya akan sulit muncul dalam beberapa generasi ke depan.

Komentar