Benarkah Pokemon Go Mulai Ditinggalkan?

Penulis: Darmansyah

Jumat, 26 Agustus 2016 | 16:21 WIB

Dibaca: 1 kali

Benarkah Pokemon Go sudah mulai ditinggalkan alias tidak popular lagi?

Untuk menjawabnya Anda bisa membaca berita heboh yang datang dari Taipeh, Taiwan.

Sebagaimana diketahui, Taiwan memiliki gim berbasis augmented reality  dan ternyata Pokemon Go  masih sangat digemari.

Mengutip informasi dari laman Huffington Post, Jumat, 26 Agustus 2016, ratusan pemain Pokemon Go menyerbu jalanan untuk menangkap salah satu monster langka.

Seperti yang terlihat dalam video, kehebohan yang terjadi membuat macet jalanan yang dipenuhi oleh pemain Pokemon Go.

Mereka berusaha menangkap Snorlax, yang muncul di dekat Beitou Park.

Setelah kemunculan Snorlax di area tersebut, ratusan pemain Pokemon Go mulai rutin menyambangi area Beitou Park.

Tak ingin kecolongan dan tak ingin ada kecelakaan yang terjadi di daerah tersebut, pemerintah daerah dan kepolisian setempat bekerja sama untuk menghadapi kejadian serupa di masa mendatang.

Sejak itu, tiga ratus lima puluh pengendara motor di Taipei harus berhadapan dengan kepolisian setempat karena bermain Pokemon Go sembari mengendarai motor atau mobil.

Antusiasme pemain di Taipei ini terbilang cukup wajar. Walau gim ini mulai kehilangan popularitasnya di Amerika Serikat, Pokemon Go baru dirilis resmi di Asia pada 6 Agustus 2016.

Memang di beberapa media diberitakan  melandainya popularitas Pokemen Go

Data survei sebuah firma asing menunjukkan penurunan drastis permainan tersebut.

Riset Android Headlines misalnya menunjukkan mulai bosannya pengguna  dan  mereka meninggalkan gim  Pokemon Go

Ekonomi disruptif nampaknya memang amat ringkih, sangat volatile.

Di sisi lain, banyak sisi negatif muncul, mulai dari pelarangan main Pokemon Go di Iran hingga dikeluarkannya fatwa larangan di Malaysia.

Gabungan resiko keamanan secara online maupun offline dikhawatirkan ganggu kedaulatan negara.

Selain itu, isu keselamatan juga menjadi salah satu isu besar, khususnya beberapa kecelakaan dan perampokan terjadi karena pemain tidak memperhatikan lingkungan sekitar.

Untuk itulah, ada dua pelajaran penting yang dapat diambil.

Kita harus ambil pelajarannya bahwa konvergensi cyber space dan physical space itu melejitkan bisnis online.

Riset menunjukkan, AR mampu menjadi kanal pemasaran lebih efektif untuk mainan anak dari pola konvensional.

Di lain pihak,  sebagai contoh riilnya adalah wahana terbaru Disney bertemakan Star Wars yang menampilkan berbagai konten eksklusif, animasi dan kesempatan berfoto menggunakan AR.

Menurunnya popularitas Pokemon Go ini i sesuai dengan prediksi beberapa pengamat di kala Pokemon Go masih di atas angin.

Menurut mereka, kesuksesan instan yang diperoleh Pokemon Go bisa jadi tak bertahan lama.

Pasalnya, masyarakat di era teknologi mudah terpengaruh penyebaran informasi di internet. Ketika banyak yang membicarakan Pokemon Go, orang-orang bakal tergerak untuk mencoba permainan tersebut.

Lama-kelamaan, bakal tersaring sendiri pemain Pokemon Go sejati dan yang hanya ikut-ikutan. Hal ini yang perlu dipikirkan lebih lanjut oleh Niantic dan Nintendo.

Di industri teknologi, para pelaku dituntut untuk terus berinovasi. Pokemon Go pun telah beberapa kali diperbarui agar pengguna tak bosan dan kualitas permainan lebih baik.

Pembaruan itu antara lain dari segi antarmuka dan performa game. Niantic telah sesumbar bakal meluncurkan beberapa fitur baru yang menambah keseruan Pokemon Go.

Beberapa di antaranya meliputi kemampuan saling bertukar dan berdagang Pokemon (trade), bertarung dengan Pokemon lain di luar Gym, dan penambahan fungsi Gym. Belum jelas kapan fitur-fitur itu bisa dinikmati para pengguna.

Penurunan memang biasa terjadi. Dan ada kemungkinan jumlah pengguna harian yang melonjak pada saat itu dikarenakan viral Pokemon Go sangat luar biasa.

Karenanya, bila terjadi penurunan itu mungkin disebabkan oleh hengkangnya gamer Pokemon Go yang penasaran dan hanya ingin ikut-ikutan. Pokemon Go sudah memiliki basis gamer yang cukup luas, oleh sebab itu penurunan tidak terjadi dengan cepat.

Namun, setidaknya data statistik ini bisa cukup bikin Niantic ketar-ketir. Penurunan akan terus terjadi apabila Niantic tidak tanggap dalam menangani bugs dan berbagai isu, juga fitur baru yang paling tidak harus dihadirkan secara berkala.

Komentar