close
Nugatama

Apple Watch Bakal Jadi Fesyen Global

Pekan depan, tepatnya 09 Maret 2015, salah satu kreasi seni, yang dituangkan dalam produk arloji pintar, atau “smartwatch,” milik Apple akan masuk ke pasar untuk menjadi tren baru global.

Arloji produk Apple itu dinamakan dengan “Apple Watch.”

Banyak orang percaya “smartwatch” Apple ini akan menjadi bagian yang terpisahkan dari tren “fesyen” yang akan menjangkiti para selebritas dan masyarakat kaya dunia.

Tentu tidak semuanya berpendapat optimis mengiringi kemunculan smartwatch tersebut. Ada pula yang pesimis.

Sebut saja, Steve Wozniak, sang pioner Apple. Lelaki yang mendirikan perusahaan teknologi informasi ini, biasanya, selalu berkomentar jujur perihal produk yang dirilis oleh perusahaan tersebut.

Jika merasa produk Apple yang dicobanya memiliki kualitas yang tinggi, ia akan berkata bagus. Apabila jelek, Wozniak tidak akan segan untuk melancarkan kritikan tajam ke perusahaan yang didirikannya bersama Steve Jobs itu.

Woz–panggilan akrab Wozniak–pun sudah memberikan komentarnya terhadap jam tangan pintar milik Apple, Watch.

Dalam wawancara dengan BBC, Wozniak tampaknya sudah menjadi penggemar berat dari produk baru bikinan Apple itu. Ia mengungkapkan bahwa Watch jauh lebih menyenangkan ketimbang smartwatch lain.

“Saya memiliki pengalaman buruk dengan smartwatch sejauh ini. Apple membuat smartwatch yang lebih menyenangkan dari yang lain,” ujar Woz.

“Jika Anda melihat layarnya, itu hampir seperti sebuah karya seni, seperti holograph. Ini akan menjadi sangat spesial, semua orang akan menyadarinya,” lanjutnya seperti kutip “nuga” dari BGR.

Wozniak sendiri sebelumnya pernah menyatakan ketidakpuasannya terhadap produk jam tangan pintar buatan perusahaan pesaing, yakni Samsung.

Menurutnya, perangkat yang dicobanya, Galaxy Gear, tidak memiliki suatu hal yang spesial.

Wozniak pun menggunakan perangkat itu hanya setengah hari, sebelum akhirnya dijual melalui situs online eBay.

Selama ini rekam jejak penjualan smartwatch tak pernah mendulang sukses, tak seperti smartphone atau tablet.

Disinyalir, ini karena sebagian besar masyarakat belum begitu menerima konsep pemakaian wearable device, terutama dalam hal ini perangkat yang terpatri di pergelangan tangan. Apalagi, layar smartwatch terbilang kecil.

Tapi, kita sedang berbicara soal Apple. Ini adalah perusahaan yang kerap menentang tren dan berhasil. Ya, membuat produk yang dibanjiri skeptisme bukan kali pertama untuk Apple.

Sebelumnya, masyarakat juga tak tertarik dengan tablet. Kemudian saat Apple menelurkan iPad, masyarakat jadi berbondong-bondong menggunakan Apple.

Begitupun yang terjadi pada iPhone. Masyarakat tak pernah benar-benar menjadikan smartphone sebagai pelengkap hidup sebelum kemunculan iPhone.

Akankah Apple mengulangi keberhasilannya?

Untuk menangkis kemungkinan gagal, Apple telah menggodok Apple Watch dengan penuh ketelitian. Perangkat itu dirancang oleh “all star-team” atau tim berisi pekerja-pekerja cemerlang Apple.

Eksekutifnya meliputi Jony Ive sebagai kepala desain, Jeff Williams sebagai kepala operasi, serta Kevin Lynch sebagai kepala pengembangan piranti lunak. Sebelumnya, Lynch adalah eksekutif Adobe.

Tak ingin sama dengan smartwatch lainnya yang diklaim “tak berhasil”, Apple Watch menawarkan perbedaan. Arloji ini hadir untuk masyarakat urban yang punya selera fesyen. Tak heran, Apple rela merogoh kocek miliaran rupiah untuk beriklan di majalah fesyen kelas atas semacam Vogue.

Menurut Ben Bajarin, analis konsumer teknologi untuk Creative Strategies, ramalan tentang nasib Apple Watch belum dapat diprediksi.

“Smartwatch adalah kategori produk yang terhitung baru. Kebanyakan orang belum punya referensi atas smartwatch,” kata dia.

Tiga sumber dalam Apple yang tak bersedia dibuka identitasnya menyebut penggodokan Apple Watch sebagai tantangan berat bagi para teknisi.

Menurut mereka, sangat sulit untuk membuat chip dan sensor yang sama kuatnya dengan perangkat ciptaan Apple lainnya, ke dalam sebuah arloji berukuran kecil.

Misalnya, hampir dua tahun Apple bereksperimen untuk menggodok sensor yang bisa mengetahui tekanan darah dan tingkat stres dengan menggunakan beberapa variabel. Sayangnya, sensor tersebut terbukti tak valid dan rumit, sehingga tak diteruskan.

Selain itu, tantangan lainnya juga pada mekanisme pengisian baterai. Sebelumnya pernah dicanangkan ide untuk menggunakan pengisian tenaga matahari.

Pihak Apple juga pernah mengatakan bahwa baterai Apple Watch mampu bertahan seharian. Pengguna dapat mengisi daya saat malam hari, sama halnya dengan smartphone.

Namun ternyata menyematkan baterai dengan ukuran kecil ke dalam sebuah arloji serba canggih tak semudah konsep yang diwacanakan. Untuk itu, kata salah satu sumber, Apple Watch bakal memakai fitur “Power Reserve”.

Fitur ini memungkinkan pengurangan energi pada tampilan Apple Watch, sehingga pada saat tak digunakan, hanya angka jam yang terlihat. Ihwal penggunaan fitur ini belum pernah diungkap oleh Apple secara resmi.

Selain tanggapan dari analis produk dan teknisi Apple Watch, datang pula tanggapan dari pengembang aplikasi. Tero Kuittinen salah satunya. Ia adalah direktur dari asosiasi Frank N. Magid yang merupakan konsultan untuk para pengembang aplikasi.

Kuittinen telah berbicara dengan 20 pengembang aplikasi terkait Apple Watch. Kebanyakan dari mereka, kata Kuittinen, optimis dengan kehadiran Apple Watch.

Tapi, mereka juga khawatir bahwa performa aplikasi pada arloji pintar tersebut tak semaksimal jika disematkan pada smartphone.

Ini dikarenakan layar yang kecil, sehingga tak memungkinkan penggunaan fitur dan aplikasi yang rumit. Dengan ini, jenis aplikasi tentu akan terbatas. Pengiklan pun akan sulit jika meminta ruang pada layar sekecil itu.

Salah satu pengembang aplikasi indie, David Barnard, telah mengembangkan satu aplikasi yang akan tersemat pada Apple Watch, yakni “Launch Center Pro”. Aplikasi ini mampu mengatur koneksi internet dan membuka pintu dengan mengandalalkan temperatur termostrat.

Namun, Barnard mengaku sedikit skeptis pada penggunaan aplikasinya secara jangka panjang pada Apple Watch.

“Saya benar-benar ingin tahu kenapa saya harus menggunakan arloji itu dan seberapa sering saya akan menggunakannya,” kata dia.

Jika melihat beberapa prediksi di atas, tampaknya semua pihak masih sedikit skeptis dan berhati-hati soal Apple Watch. Belum ada yang berani memberi vonis tegas, apakah Apple Watch akan laku atau tidak di pasaran. Jadi, kita tunggu saja kenyataannya?

Sumber: The New York Times dan BGR

Tags : slide