“Sungai Darah” Tangis Kematian di Gaza

Penulis: Darmansyah

Kamis, 24 Juli 2014 | 10:39 WIB

Dibaca: 0 kali

Jalur Gaza? Bukalah peta. Lihatlah sebuah daratan sempit dari garis tipis di pesisir Laut Tengah itu. Teliti. Ada empat sisi yang membentuk zona wilayahnya. Dan tiga dari empat sisi itu berbatasan langsung dengan Israel. sedangkan satu sisi lainnya berbatasan dengan Mesir.

Ya. Setelah meneliti peta, Jalur gaza memang daratan sempit. Mau tahu seberapa sempitkah Jalur Gaza?

Dengan menelusuri informasi tulisan di “Wikipedia” kita diberi gambaran, Jalur Gaza, hanya memiliki panjang tiga puluh lima kilometer.

Lebarnya? Cuma sepuluh kilometer. Dengan luas jalur sempit itu berapa jumlah penguninya?

Dua juta manusia.

Dengan luas itu dan jumlah penghuninya, Jalur Gaza menjadi salah satu tempat paling padat di dunia.

Makanya, ketika Israel menjatuhkan bom, melontarkan roket dan menembakkan mortil, bisa dipastikan ada korban yang tewas atau luka.

Dan kini, ketika kecamuk perang melanda Gaza, korban warga yang tewas sudah mendekati angka tujuh ratus jiwa. Sebuah angka yang membuat kita nyilu mendengarnya.

Dalam posisi sempit dan penduduk berjubel, Gaza memang bukan tempat persembunyian ketika bom menghantam rumah sakit, masjid, gang-gang sempit distrik miskin serta sarana sosial lainnya.

Gaza.memang bukan sebuah wilayah untuk pemukiman permanen. Ia sejatinya sebuah kamp pengungsi. Kamp pengungsi warga Palestina yang terusir dari kota-kota mereka yang kini berada di dalam wilayah Israel, seperti Haifa, Jaffa, dan kota-kota yang dicaplok Israel setelah perang 1948.

Jadi Gaza yang kita kenal sekarang, selama lebih dari enam puluh tahun terakhir tumbuh sebagai kamp perlawanan paling keras karena mereka berjuang mencari identitas. Harga diri. Dan pencarian itu ujungnya adalah keikhlasan untuk mati sebagai martil.

Hidup di pengungsian merupakan kehidupan yang berat. Apalagi sejak 2005, Israel memblokade Jalur Gaza dari darat dan laut membuat kehidupan di Gaza semakin berat. “Akibat kondisi yang berat ini maka timbullah kemarahan warga yang kemudian memicu bentrokan dengan Israel.”

Sebuah tulisan di majalah “Time,” pernah menggambarkan dengan netral, apa yang terjadi di Jalur Gaza saat ini adalah hasil dari beratnya kehidupan yang memicu kekerasan. Situasi seperti ini akan terus berulang jika tak dicapai penyelesaian tuntas masalah Pelestina.

Apakah penyelesaian itu harus dengan jalan perang. Jawabnya, secara jujur, tak mungkin. Tak mungkin Hamas bisa mengalahkan militer Israel. Namun, Israel juga tidak mungkin mengusir atau membunuh dua juta penghuni Gaza.

Dilematis. Kebuntuan. Itu yang dialami oleh Gaza atau Pelestina secara keseluruhan hari-hari ini. Sebuah fakta dari realitas yang tersedia dari kondisi menyeluruh di Gaza dan Pelestina.

Jadi kondisi seperti saat ini adalah sebuah kebuntuan dan tidak terselesaikan kecuali Israel menarik mundur pasukannya dan membiarkan kami mengelola Palestina dan kita bisa hidup bersama sebagai tetangga.

Akankah ada penyelesaian? Mungkin ada dan mungkin tidak. Sebab kebuntuan dari kasus ini di dominasi oleh dendam. Dendam atas sejarah panjang pertentangan antara dua “bani.”

Pertentangan atas klaim sejarah “Samaria” yang menjadi hak “bani Israili,” dan kondisi riel dari penguasaan “bani Pilistin” atas tanah yang dijanjikan sehingga berulang pada pergantian saling “pengusiran.”

Sejarah memang merupakan kasus temporar. Tapi, ia tidak boleh berjalan liar. Berjalan di atas kematian dan kematian serta tersulut oleh dendam.

Dendam, seperti hari ini kita saksikan ketika hari-hari di Gaza di isi oleh kabar kematian tragis dari tragedi kemanusiaan atas nama dendam dan harga diri.

Untuk mengingatkan betapa dahsyatnya tragedi kemanusiaan di jalur sempit dengan penduduk berdesakan ini, kami mengutipkan sebuah surat dari seorang dokter Norwegia yang ditulis oleh situs “Middle East Monitor Dia datang ke Gaza tanpa takut mati. Inilah tulisannya, yang semula dimuat di blog pribadinya. yang di muat muat “Middle East Monitor” 23 Juli 2014.

“Tadi malam sangat mencekam akibat serangan darat yang dilancarkan ke Gaza kepada semua warga sipil tak bersalah yang terluka dan meninggal akibat mengalami pendarahan serta menggigil.

Para pahlawan di ambulans dan di seluruh rumah sakit Gaza bekerja 12 sampai 24 jam tanpa dibayar. Mereka mencoba memahami dan peduli atas kekacauan ini.

Sekarang, sekali lagi manusia diperlakukan seperti binatang oleh tentara yang paling bermoral di dunia” (sic!).

Kepedulian saya tidak ada habisnya, dengan rasa sakit, penderitaan dan syok yang diterima oleh mereka. Saya kagum terhadap staf dan relawan yang tidak ada habisnya.

Kedekatan saya dengan Palestina memberi saya kekuatan, meskipun sesaat saya ingin berteriak usai melihat seseorang menangis sambil mencium kulit dan rambut anaknya yang berlumuran darah di dalam pelukan.

Lebih dari seratus korban berdatangan dari wilayah Shifa dalam dua puluh empat jam terakhir yang ditampung di sebuah rumah sakit.

Tidak ada listrik, air, pakaian, obat-obatan, dan sejumlah fasilitas di rumah sakit seperti monitor semua berkarat seolah-olah baru diambil kemarin dari museum. Namun, para pahlawan ini tidak mengeluh. Mereka langsung saja bekerja seperti prajurit dengan keteguhan yang sangat besar.

Dan ketika saya menulis surat ini sendirian di tempat tidur untuk Anda, air mata saya mengalir tapi tidak berguna untuk menyembuhkan rasa sakit atas kesedihan, kemarahan dan ketakutan. Ini tidak terjadi!

Sekarang, suara simfoni dari perang mesin Israel yang mengerikan bermunculan dari kapal angkatan laut di ujung pantai, pesawat F16 yang menderu, drone dan helikopter Apache yang bising.

Begitu banyak yang dibuat dan didanai oleh AS. Hai Amerika – apakah Anda punya hati?

Saya mengundang Anda untuk menghabiskan waktu satu malam, hanya satu malam dengan kami di Rumah Sakit Shifa. Mungkin Anda bisa menyamar sebagai petugas kebersihan.

Saya yakin, 100 persen, itu akan mengubah sejarah.

Tak seorang pun dengan hati dan kekuatan bisa berjalan pada malam hari di Shifa tanpa bertekad untuk mengakhiri pembantaian rakyat Palestina.

Aliran sungai darah akan tetap mengalir setiap malam. Aku bisa mendengar telah ada instrumen kematian yang sedang didengungkan.

Silakan lakukan yang Anda bisa lakukan.”

Komentar