Ali Sang The Greatest, Yang Manusia Biasa

Penulis: Darmansyah

Kamis, 9 Juni 2016 | 15:39 WIB

Dibaca: 0 kali

“Saya tak mau seperti Joe Lois,” kata Ali pada sebuah kesempatan dan sangat terkenal untuk dikenang.

Nggak mau seperti Lois?

“Ya.”

Ali tak mau terjebak dan hancur oleh wanita..

Muhammad Ali memang punya “mulut besar”. Tapi ia selalu hati-hati bicara soa; wanita.

“Ia memang tanpa pedal rem kala bicara. Tapi soal;wamita ia mampu membuat rem pakem.”

Menurut Odella Clay, sang ibu, Ali memang punya kepercayaan diri agak berlebihan sejak kecil.

“Bahkan, saat bermain dengan teman-temannya, dia selalu ingin jadi pemimpin,” kata Odella dikutip Thomas Hauser dalam bukunya, Muhammad Ali: His Life and Times.

Ketika Cassius mulai belajar bertinju, bocah itu dengan yakin mengatakan kepada ibunya bahwa satu hari nanti dia akan jadi juara dunia.

Dia selalu bilang sayang kepadaku…. Tapi dia selalu bercanda. Aku tak pernah menanggapi dengan serius.”

Di atas ring, Cassius punya kepercayaan diri selangit. Tapi, di depan gadis-gadis, pemuda ini rupanya sangat pemalu.

Wilbert McClure, teman sekamarnya di Roma, juga saat berlatih di Chicago, bercerita bagaimana Cassius mengajak mereka mencari teman gadis.

“Man, lihat banyak sekali gadis cantik di jalan…. Kita harus berkenalan dengan mereka,” Cassius mengompori teman-temannya. “Ayolah, pakai jaket kalian dan kita bikin gadis-gadis itu terkesan.”

Tapi, saat mereka berkunjung ke kantin SMA Marshall dan di depan matanya duduk gadis-gadis cantik, menurut Wilbert, Cassius justru malah diam.

Cassius malah sibuk dengan makanan di depannya. Demikian pula saat mereka menghadiri pesta di Roma.

Cassius hanya duduk diam dan tak ikut berjoget bersama teman-temannya. “Aku pikir dia tak pernah belajar berjoget dan tak cukup percaya diri berjoget dengan gayanya sendiri,” kata Wilbert.

Cassius sebenarnya tak lugu-lugu amat dalam berhubungan dengan perempuan. Saat masih SMA, dia beberapa kali berpacaran.

Tapi dia memang tak pernah benar-benar serius dengan perempuan. Cassius tak mau ada yang menghalangi kariernya bertinju.

“Aku akan punya banyak uang. Aku tak mau bernasib seperti Joe Louis. Perempuan tak akan membuatku jatuh,” Indra Leavell Brown, sobat Cassius sejak kecil, menirukan sahabatnya.

Tapi seperti juga sebayanya, Cassius juga “bersenang-senang” dengan teman-teman gadis di SMA.

“Dia selalu bilang sayang kepadaku…. Tapi dia selalu bercanda. Aku tak pernah menanggapi dengan serius,” kata Dorothy McIntyre Kennedy kepada Sports Illustrated. “Cassius selalu menjadi badut di kelas.”

Salah satu gadis Cassius saat di SMA adalah Mildred Davis.

Entah serius atau hanya membanyol, Cassius sering bicara soal pernikahan dengan Mildred. “Kita segera menikah dan punya rumah besar dengan kolam renang.

Kita akan punya banyak anak, dan anak-anak tetangga akan datang bermain di kolam renang kita,” Cassius berbisik kepada Mildred.

Tak ada satu pun pacar Cassius di SMA yang bertahan lama. Cassius yang telah menjadi petinju amatir pun, menurut Indra, juga tak terlalu serius dengan gadis-gadisnya.

Kepada Indra, Cassius mengaku masih tetap perjaka sampai lulus SMA. Cassius memang lebih banyak ngobrol dengan pacar-pacarnya.

“Akulah gadis pertama yang dia cium dan Cassius tak tahu bagaimana caranya. Jadi aku harus mengajarinya,” kata Aretha Swint, teman SMA Cassius.

Baru bertahun-tahun kemudian, setelah Cassius menjadi Muhammad Ali dan menjadi juara dunia tinju kelas berat, Cassius alias Ali berhubungan serius dengan perempuan.

Setelah melawat ke sejumlah negara Afrika sebagai utusan Nation of Islam, Herbert Muhammad, sang manajer, memperkenalkan Ali dengan seorang perempuan, Sonji Roi.

Ali, seperti kisah di novel, jatuh cinta pada pandangan pertama. Ali, kata Sonji dalam buku Arlene Schulman, Muhammad Ali, langsung melamarnya hanya lima menit setelah mereka bertemu.

“Mulanya aku pikir aku tak bakal suka dengan orang ini…. Aku bukan orang yang suka membual. Jika ada orang yang menyombongkan diri, biasanya aku akan kehilangan selera,” kata Sonji, dikutip Inquistr. Tapi Ali terus mengejar Sonji.

Empat puluh satu hari kemudian, pada 14 Agustus 1964, Ali menikahi Sonji di Gary, Indiana.

Pasangan muda ini—kala itu Ali baru dua p[uluh dua  tahun, sementara Sonji setahun lebih tua—tak sempat menikmati bulan madu. Ali langsung berangkat ke Florida untuk bersiap menghadapi pertarungan berikutnya.

Dari awal, pernikahan Ali dengan Sonji bisa diramal bakal berumur pendek. Tak ada kesamaan di antara mereka.

Ali mencari makan di atas ring tinju, sementara Sonji bekerja di klub malam. Ali seorang muslim, sementara Sonji biasa bergaul bebas, merokok, dan menenggak minuman beralkohol.

Sonji juga tak mau banyak dikekang aturan. Pernikahan mereka bubar sebelum berumur dua tahun.

Manila, Filipina, pada Oktober empat puluh satu tahu silam jadi “neraka” bagi Muhammad Ali. Bertempat di Araneta Coliseum, Ali menghadapi musuh bebuyutannya, Joseph “Joe” Frazier.

Sudah dua kali Ali bertukar tinju dengan Frazier. Hasilnya, sekali kalah dan sekali dia menang.

Di Araneta Coliseum siang itu, di depan ratusan  juta pasang mata di seluruh dunia, Ali babak belur dihajar tinju Frazier.

“Man, baru kali ini kondisiku sangat dekat sekali dengan sekarat,” kata Ali kepada timnya di pojok ring pada ronde kesembilan.

Ali merupakan simbol seks, semua orang menyukainya dan kita tak bisa menghentikannya.”

Tapi kondisi Frazier sama buruknya. Mata Frazier bengkak disengat jab Ali, nyaris tak mampu melihat. Pada ronde keempat belas  Eddie Futch, pelatih Frazier, melemparkan handuk putih ke atas ring.

“Frazier menyerah saat aku juga hampir menyerah…. Aku merasa tak mampu lagi bertarung,” Ali, belasan tahun kemudian, mengenang “Thrilla in Manila”, dikutip Guardian.

Di luar ring tinju, Ali menghadapi “pertarungan” lain. “Lawan”-nya justru istrinya sendiri, Belinda Boyd alias Khalilah Ali.

Khalilah terbang menyusul Ali ke Manila untuk “menghajar” suaminya. Ibu empat anak dan istri kedua Ali itu marah besar setelah membaca berita di majalah Newsweek.

Semua gara-gara ulah Ali sendiri. Beberapa pekan sebelum Rumble in the Jungle, pertarungan Ali dengan George Foreman di Kinshasa, Zaire, pada Oktober empat puluh dua tahun lalu, Ali berkenalan dengan Veronica Porsche.

Ali yang sudah beristri dan punya empat anak terpesona oleh kecantikan gadis model itu. Bahkan Ali mengajak Veronica ke Zaire, negara kecil di Afrika. Veronica pulalah yang dibawa Ali ke Filipina.

Yang bikin runyam, Veronica digandeng Ali ke Istana Malacanang untuk bertemu dengan Presiden Filipina Ferdinand Marcos. “Istri Anda cantik sekali,” Presiden Marcos memuji Veronica.

Alih-alih menjelaskan status Veronica, Ali malah balas memuji Imelda Marcos, istri Presiden Marcos. “Istri Anda juga cantik sekali,” kata Ali.

Kesalahan kecil itulah yang ditulis Newsweek dan sampai ke telinga Khalilah di Chicago. Khalilah yang kalap dan merasa dipermalukan segera terbang ke Manila untuk melabrak suami dan selingkuhannya.

Sejumlah orang menjadi saksi mata “pertarungan” sang juara dunia tinju kelas berat, Muhammad Ali, melawan istrinya di lobi Hotel Hilton di Manila.

“Aku membayangkan Khalilah melemparkan Veronica dari jendela hotel, dan mungkin Ali akan menyusul,” kata Dave Wolf, anggota tim Joe Frazier.

Khalilah mengultimatum Ali. “Apakah perempuan itu yang angkat kaki sekarang juga atau aku yang akan pulang dengan pesawat pertama?” kata Khalilah dikutip Geoffrey M. Horn dalam bukunya, Laila Ali.

Muhammad Ali ternyata lebih memilih Veronica. “Selamat tinggal,” jawab Ali.

Tanpa sempat membongkar kopernya lagi, Khalilah balik kanan, kembali ke bandara dan terbang pulang ke Chicago. Tamatlah pernikahan kedua Muhammad Ali.

Kepada USAToday bertahun-tahun kemudian, Veronica mengatakan bahwa dia dan Ali sudah menikah secara Islam saat mereka berada di Kinshasa, Zaire.

Hanya ada dia, Ali, dan seorang laki-laki dari Zaire yang jadi saksi. Menurut Veronica, dia dan Ali hanya memberi tahu Luis Sarria, tukang pijat pribadi Ali.

Tapi menurut Khalilah, pernikahan di Zaire itu tidak sah. “Entah secara Islam atau bukan, pernikahan itu tidak sah,” kata Khalilah. Khalilah bercerai dengan Ali pada 1977. Tak berapa lama kemudian, Ali menikahi Veronica. Pernikahannya dengan Veronica juga hanya bertahan sembilan tahun. Ali menikah lagi dengan Yolanda Williams, perempuan yang menemaninya hingga akhir hayat.

Ali sering berkoar bahwa dialah The Greatest, Yang Terbesar, tapi dia tetap seorang laki-laki biasa yang berulang kali bertekuk lutut di depan perempuan cantik. Kabar soal perselingkuhan Ali bukanlah kabar baru.

“Ali merupakan simbol seks, semua orang menyukainya dan kita tak bisa menghentikannya,” kata Khalilah kepada majalah Jet, memaklumi kelakuan mantan suaminya.

Ketika Ali berkunjung ke Mesir selama dua pekan, majalah lokal Al-Musawwir, menulis soal hubungan singkat antara Ali dengan Inayat Mustafa.

Ali menuding majalah itu menulis berita bohong. Saat Ali berada di Manila pun, juga beredar kabar soal kelakuan Ali menggoda gadis-gadis Filipina.

Salah satu gadis itu adalah Rosemarie “Chiqui” Brosas. Kala itu Rosemarie, 18 tahun, baru beberapa bulan pulang dari El Salvador untuk mengikuti lomba Miss Universe. Kendati tak menang, Rosemarie ada di urutan atas. “Gadis itu cantik sekali. Aku menyukainya,” kata Ali dikutip Rogue. Tapi gadis itu tak menanggapi rayuan Ali.

“Mengapa kamu tak mengatakan sayang kepadaku? Tampangku tak buruk-buruk amat. Apakah kamu sudah punya orang lain?” Ali bertanya.

Menurut Ronnie Nathanielsz, salah satu anggota tim Ali, Muhammad Ali termehek-mehek pada Chiqui Brosas. “Benar-benar gila…. Padahal dia ada di sini bersama Veronica,” kata Ronnie.

Sepanjang hidupnya, Ali menikah empat kali dan punya enam anak dari dua istrinya.

Komentar