Ujung Tahun, Harga Emas Membaik

Penulis: Darmansyah

Senin, 30 Desember 2013 | 10:13 WIB

Dibaca: 4 kali

Dua hari menjelang penutupan tahun harga emas batangan domestic yang diperdagangkan PT Aneka Tambang Tbk atau Antam mengalami kenaikan sebesar Rp 3.000 per gram akibat buruknya nilai tukar rupiah terhadap dollar US.

Dalam pembukaan perdagangan di pusat penjualan emas Antam, harga emas secara global masih mengalami tekanan. Tapi di Logam Mulia milik PT Antam Tbk emas naik ke hingga Rp 3.000 per gram dan bertengger pada angka Rp 527.000 setiap gramnya di banding dengan Rp 524 pada penutupan perdagangan pekan lalu.

Untuk harga jual kembali atau buyback Antam bersedia menebusnya pada level harga Rp 467.000 per gram.

Seperti dikutip “nuga.co” dari situs resmi Antam “logammulia.com,” Senin, 30 Desember 2013, rincian harga emas milik BUMN itu, untuk satu garm harganya Rp 527.000, lima gram Rp 2.490.000, sepuluh gram Rp 4.930.000, 50 gram Rp 24.450.000, dan 500 gram dihargai Rp 243.800.000

“Untuk transaksi pembelian Emas Batangan datang Langsung ke PT Antam Tbk Jakarta setiap harinya kami batasi hingga maksimal 150 nomor antrian saja,” terang Antam dalam situs resminya.

Penurunan harga emas di tingkat perdagangan diperkirakan masih akan berlanjut di 2014. Harga emas dunia diprediksikan akan berada di level US$ 1.200 per troy ounce. Akhir pekan lalu di London Bullion Market, emas jatuh hampir 27% sepanjang 2013. Berkurangnya permintaan dan tingginya inflasi membuat harga emas terus anjlok.

Terakhir kali harga emas mengalami penurunan adalah pada 2000 ketika turun 5,6% gara-gara kondisi yang serupa, permintaan rendah tapi inflasi tinggi.

“Ada dua faktor utama yang membuat harga emas jatuh tahun ini. Yang pertama adalah penjualan besar-besaran oleh investor,” kata Analis Macquarie Matthew Turner.

Salah satu pemicu aksi jual ini adalah rencana The Federal Reserve mengurangi besaran stimulusnya mulai tahun depan. Harga emas dunia pun menyentuh titik terendahnya dalam tiga tahun pada bulan Juni yaitu di US$ 1.180,50 per ounce gara-gara kabar The Fed itu.

Selain itu, kata Matthew, rencana pengurangan stimulus itu membuat nilai tukar dolar melambung. Hal ini mempengaruhi daya beli emas di negara-negara berkembang. Harga emas semakin tinggi gara-gara dolar semakin kuat.

Namun begitu, awal yang baik itu ditutup dengan harga yang sangat buruk. Kilau emas terus memudar di tahun ini.

Di awal tahun 2013, emas masih bersinar di kisaran U$ 1.500 per troy ounce. Sementara dari dalam negeri, harga emas batangan di Logam Mulia milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) 1 gramnya mencapai Rp 585.200.

“Hal ini dikarenakan kejatuhan emas di akhir tahun 2012 membuat pelaku pasar mengambil kesempatan beli di harga murah. Pada saat itu pula harga emas fisik antam melonjak terus hingga level Rp 589.000/gram,” kata Senior Analyst dan Corporate Trainer PT Millennium Penata Futures, Suluh Adil Wicaksono.

Hingga Maret 2013, isu stimulus bergulir, khawatir akan hal tersebut sebagian pelaku pasar melepas aset emasnya dan membuat spot emas jatuh hingga U$ 1.189 per troy ounce.

“Ini merupakan kejatuhan tertinggi sejak September 2011 di mana emas menyentuh level tertinggi sepanjang masa. Emas fisik antam turun di bawah Rp 500.000/gram,” ungkap Suluh.

Setelah Juni 2013, aksi beli kembali terjadi terhadap emas fisik sehingga sempat naik tetapi sesaat hanya dibawah U$ 1.400 per troy ounce. Tetapi akhirnya emas harus anjlok karena isu penghentian stimulus yang bergulir terkait membaiknya data ekonomi AS beberapa bulan terakhir.

Gubernur Bank Sentral AS, Ben S Bernanke pun sempat mengungkapkan sedikit kekecewaannya terhadap emas akibat harganya yang tidak bisa diprediksi. Bernanke mengatakan tidak mengerti arah dari harga emas.

AS merupakan negara yang menderita banyak kerugian akibat jatuhnya harga emas. Bayangkan, negeri Paman Sam ini menderita kerugian hingga US$ 545 miliar atau sebesar Rp 5.000 triliun sejak tahun 2011 karena mengumpulkan emas di cadangan devisanya.

“Tak ada yang mengerti mengenai harga emas, saya pun demikian,” ungkap Bernanke.

Ketika bank sentral berlomba-lomba untuk membeli emas, hal ini menyebabkan investor ritel pun ikut berinvestasi. Akhirnya, investor pun kecewa akibat harganya yang jeblok

Komentar