Tarif Naik, Listrik Di Aceh Masih “Byar Pet”

Penulis: Darmansyah

Senin, 1 April 2013 | 12:58 WIB

Dibaca: 0 kali

Tarif listrik naik lagi! Itu keluhan ramai yang disuarakan oleh pelanggan terhadap kenaikan kembali tarif dasar  listrik,  mulai April  ini,  sebesar 4,3 persen. Tarif yang sama, dengan angka yang sama, telah juga diberlakukan pada Januari lalu. Direncanakan sepanjang tahun ini  kenaikan itu akan mecapai 15 persen dan diberlakukan setiap kuartal.

Di Aceh, kenaikan tarif listrik ini disambut dengan sinis oleh pelanggan karena tidak paralel dengan keandalan pelayanan PLN dalam  mensuplai arus. Kondisi “byar pet”  masih  terjadi tanpa bisa diklaim pelanggan.  Selama dua bulan terakhir, khususnya di Banda Aceh, pemadaman sepihak terus berlangsung dengan alasan perbaikan jaringan dan kekurangan gardu.

Kondisi  “byar pet” ini  merupakan “penyakit lama” yang sangat menganggu kenyamanan pelanggan, terutama pelanggan usaha kecil  dan menengah yang sangat tergantung dengan arus dari PLN. .”Tiba-tiba mati. Biasanya listrik kami mati karena angin kencang. Selama ini angin nggak, hujan juga nggak, ya mati,” kata seorang pelanggan di kawasan Penayong.

General Manajer PLN Aceh Sulaiman Daud mengakui adanya pemadaman yang disebabkan oleh perbaikan jaringan di  hari Sabtu dan Minggu. Ia juga mengatakan, keandalan gardu penghubung masih kurang. Disamping itu, menurutnya, Aceh masih tergantung dengan pasokan arus dari Medan.

Ia mengatakan, April ini pasokan listrik di Aceh akan bisa diproduksi dari PLTU Suak Puntong, Nagan Raya. Sesuai dengan rencana, produksi listrik Suak Puntong sudah bisa masuk ke dalam sistem jaringan Aceh. Diharapkan, PLTU Suak Puntong akan bisa mensuplai kebutuhan listrik di Aceh bagian Barat dan Selatan serta kelebihannya akan masuk ka dalam sistem jaringan kelistrikan Aceh.

Mengenai kenaikan tarif listrik tahap dua tahun ini, Sulaiman mengatakan, itu merupakan kebijakan pemerintah. PLN hanya akan melaksanakannya. Kenaikan tarif listrik ini merupakan kesepakatan antara Pemerintah dengan DPR yang, yang menurut mereka, akan mengurangi subsidi. Subsidi listrik tahun lalu hampir mencapai Rp 100 triliun. Pemerintah pada periode mendatang akan menurunkan angka subsidi ini dengan kebijakan tarif, pengurangan pemakaian bbm dan efesiensi internal PLN lainnya.

Mmenurut pihak PLN  langkah kenaikan tariff  ini adalah kelanjutan kebijakan kenaikan listrik secara bertahap selama 2013. Kenaikan tarif listrik ini tidak berlaku bagi pelanggan rumah tangga dan industri kecil dengan daya terpasang  450 VA dan 900 VA. .
Kenaikan April ini, seperti dikatakan Dirut PLN Nur Pamudji,   menjadi kenaikan kedua  dalam tahun ini setelah sebelumnya sudah diberlakukan 1 Januari lalu. Nur Pamudji memastikan kenaikan tarif listrik tahap kedua merupakan kelanjutan dari kebijakan pemerintah untuk menaikkan tarif listrik secara bertahap sepanjang tahun ini demi menekan subsidi listrik.
“Satu April naik lagi, tapi saya belum bisa sampaikan tren konsumsi listrik Januari sampai Maret karena angkanya baru keluar 10 April,” kata Nur Pamudji.
Menurut dia, kenaikan tarif listrik ini bukanlah satu-satunya variabel yang meningkatkan biaya pokok industri. Ia berpendapat, variabel listrik hanya sebagian kecil dari input pembeban setelah upah buruh dan kenaikan harga komoditas. “Tidak mudah menghubungkan kenaikan tarif listrik dengan output industri,” katanya.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Latif Adam, mengatakan, kenaikan tarif dasar listrik tahap II pada April akan berdampak pada inflasi Mei. “Untuk kontribusi tarif listrik terhadap inflasi biasanya ada jeda sebulan karena tagihan baru masuk di bulan berikutnya,” ujarnya.
Menurut Latif kontribusi kenaikan tarif dasar listrik terhadap inflasi tidak begitu tinggi, yaitu sekitar 0,2 atau 0,3 persen. Angka tersebut tidak terlalu signifikan ketimbang ketersediaan bahan pangan yang menjadi salah satu faktor utama tingginya deflasi.
Namun, tren inflasi di Mei biasanya lebih tinggi ketimbang bulan-bulan sebelumnya. Hal ini dikarenakan faktor kenaikan bahan pangan menjelang Ramadhan. Sedangkan, tren deflasi yang biasanya terjadi pada Maret-April tidak terjadi di tahun ini. Hal ini dikarenakan beberapa masalah pangan akibat kebijakan pembatasan impor bahan makanan.
“Jadi dengan segala faktor yang biasanya terjadi di Mei ditambah tarif listrik, diperkirakan inflasi Mei bakal cukup tinggi,” kata Latif.
Tentang kenaikan tarif periode kedua ini  Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, menyarankan, pemerintah lebih bijak menerapkan kebijakan, khususnya pangan untuk mencegah inflasi lebih tinggi pada bulan depan. “April itu diperkirakan harga bahan-bahan pangan masih tinggi, ditambah tarif listrik dan lainnya,” ujarnya.

Enny mengatakan, tarif listrik menjadi salah satu komponen penting dalam biaya produksi sebuah industri dengan porsi 15 – 20 persen. Kebiasaan di Indonesia, jika biaya produksi naik maka harga barang-barang industri dipastikan juga akan naik. “Disini pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan untuk menyeimbangkan kenaikan harga tersebut.”

Komentar