Suku Bunga The Fed Naik, Emas “Runtuh”

Penulis: Darmansyah

Kamis, 15 Juni 2017 | 07:45 WIB

Dibaca: 0 kali

Harga emas global,  hari ini, Kamis pagi WIB, 15 Juni, terjungkal bersamaan dengan pernyataan Janet Yellen, bos besar “the fed,” bank sentral Amerika Serikat, yang menikkan suku bunga perbankan secara bertahap.

Usai pernyataan itu harga emas langsung terkulai dantidak mampu pertahankan penguatannya.

Sejak awal perdagangan, harga emas belum mampu menguat signifikan seiring pernyataan pimpinan bank sentral AS dan proyeksi pertumbuhan ekonomi.

Aksi jual pun terjadi lantaran perhatian bank sentral AS terhadap inflasi.

Harga emas untuk pengiriman Agustus turun

Tekanan harga emas didorong usai pernyataan Yellen soal kondisi inflasi yang kemungkinan naik.

Pernyataan ini didorong usai, data indeks harga konsumen menunjukkan kenaikan satu koma tujuh persen.

“Jangan terlalu overreaksi terhadap data yang keluar,” ujar Yellen, mengutip laman Kitco, Kamis pagi WIB.

Yellen menuturkan, melihat kondisi ekonomi saat ini, pihaknya juga mengantisipasi kenaikan suku bunga pada tahun ini dan tahun depan.

“Saya pikir sangat penting untuk menaikkan suku bunga secara bertahap. Kami ingin tetap stabil,” ujar Yellen.

Ia menambahkan kalau sangat berisiko jika membiarkan suku bunga rendah terlalu lama. Ini dapat menekan ekonomi AS.

Oleh karena itu, pihaknya bertindak agresif .

Selain itu, bank sentral AS juga berencana untuk menormalkan neraca segera mungkin.

Pernyataan Yellen itu memang langsung menerpa  penurunan tajam harga emas pada perdagangan Kamis.

Penurunan ini menghapus keuntungan mingguan yang didapat oleh komoditas ini.

Penurunan harga emas terjadi menyusul pelemahan mata uang euro dan memberikan dukungan pada dolar jelang pertemuan kebijakan moneter European Central Bank.

Logam kuning ini gagal untuk mendapatkan dukungan.

Investor juga menunggu posisi perdagangan di Mercantil Comex Exchange New York.

Penurunan pada hari Kamis  itu menghapus keuntungan yang sudah didapat selama seminggu.

Tidak hanya emas, saham juga kembali tertekan

Selain itu, investor khawatir terhadap pertumbuhan ekonomi usai angka inflasi lebih rendah dan kenaikan suku bunga bank sentral AS atau the Federal Reserve turut mempengaruhi wall street.

Pergerakan wall street juga dipengaruhi sentimen the Federal Reserve.

Dalam pertemuan bank sentral AS itu juga menyatakan kalau pertumbuhan ekonomi dan data tenaga kerja AS akan menguat.

Namun, investor khawatir dengan pernyataan the Fed yang agresif dan mempertimbangkan menaikkan suku bunga kembali.

Selain itu, aksi jual masih terjadi di sektor saham teknologi juga menekan sektor itu. Sektor saham teknologi turun nol koma lima persen.

Sektor saham teknologi telah naik delapan belas persen pada awal tahun ini.

“Ini dimulai pada pekan lalu ketika perdagangan saham begitu padat. Kini semakin gugup di pasar saham, dan terjadi aksi jual,” ujar William Delwiche, Investment Strategist Robert W.Baird and Co, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis, 15 Juni.

Data ekonomi juga menunjukkan kalau harga konsumen secara tak terduga turun pada Mei, dan penjualan ritel cetak penurunan terbesar dalam enam belas bulan.

“Saham teknologi yang melemah juga didorong pertumbuhan ekonomi melambat atau komponen software dan peralatan lainnya juga turun.”

“Aksi jual di sektor teknologi seiring kekhawatiran terhadap prediksi pertumbuhan perusahaan teknologi ke depan usai the Fed menaikkan suku bunga,” kata Daniel Morgan, Portfolio Manager Synovus Trust.

Sektor keuangan yang tertekan pada tahun ini mendapatkan dampak positif dari kenaikan suku bunga bank sentral AS.

Komentar