Rosan Pemilik Inter Diusik Media

Penulis: Darmansyah

Jumat, 18 Oktober 2013 | 20:39 WIB

Dibaca: 0 kali

Salah satu dari “trio indonesian’s” yang mengakuisisi klub “lega calcio” Inter Milan, Rosan Roeslani, diterpa isu penggelapan dana perusahaan. Tak tanggung-tanggung, 173 juta dollar AS. Dan media yang menyeret keberadaan Rosan adalah media prestise Inggris “The Telegraph.” Dan editor yang menulisnya juga memiliki reputasi gemilang, Alistair Osborne.

Menurut “The Telegraph,” Rosan Roeslani, yang menjadi salah satu pemilik saham Inter Milan bersama Erick Thohir dan Handy Soetedjo menyisakan catatan miring bagi komunitas pasar.

“The Telegraph,” menulis bahwa mantan CEO Berau Coal dan direktur Bumi Plc, dua perusahaan tambang, batubara, di Kalimantan itu, pernah diminta pertanggungjawabannya karena telah menghilangkan dana perusahaan sebesar 173 juta dollar AS.

“Ini tentunya menjadi sesuatu yang mengejutkan, ketika Rosan Roeslani, yang pernah menjabat sebagai direktur Bumi Plc pernah terlibat dalam penggelapan dana 173 juta dollar AS. Dan saat ini, dia kembali muncul saat membeli klub Inter Milan,” tulis Osborne, pekan ini.

Alistair menyatakan bahwa pada Juni lalu, Roeslani telah menyetujui untuk mengembalikan dana sebesar 173 juta dollar AS dari total uang yang hilang mencapai 201 juta dollar AS ketika dia menjabat sebagai CEO Berau.

“Hingga saat ini Bumi Plc masih menunggu datangnya Mr Roeslani dengan membawa uang yang dijanjikan untuk dikembalikan,” tulis Osborne.

Sebelumnya, perusahaan tambang Indonesia yang terdaftar di bursa efek London, Bumi Plc, telah menandatangani perjanjian dengan mantan direktur utama PT Berau Coal Energy Tbk guna mengembalikan sebagian besar pengeluaran 201 juta dollar AS yang dinilai tidak memiliki tujuan bisnis jelas.

Rosan Roeslani, yang mengundurkan diri sebagai dirut Berau pada Januari tahun ini, telah setuju membayar 173 juta dollar AS secara tunai serta sejumlah aset kepada Berau dalam waktu 6 bulan terhitung sejak Juni.

Sementara itu, hilangnya sisa uang sebanyak 28 juta dollar AS, terjadi sebelum Bumi Plc mengakuisisi 85 persen saham Berau.

Sementara itu, di pasar modal, pembelian klub Inter Milan oleh tiga pengusaha Indonesia sebesar Rp 5,2 triliun secara perekonomian tidak banyak memberikan kontribusi.

Head of Research Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo menjelaskan Eric Thohir membeli Inter Milan tidak melalui PT Mahaka Media Tbk, sehingga hal itu tentunya tak memberikan dampak bagi pemegang saham emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia itu.

“Eric Thohir membeli melalui bendera usaha lainnya, dan tak melalui Mahaka. Kalaupun hari ini saham Mahaka menguat, mungkin itu kebetulan saja,” ujarnya.

Sementara itu terkait dengan kemungkinan brand-brand dari Indonesia bisa lebih dikenal di pasar internasional seiring dengan pembelian klub tersebut, Satrio menjelaskan bahwa Inter Milan adalah klub yang profesional.

“Kecil kemungkinannya Inter Milan memberikan harga spesial buat produk-produk Indonesia karena pemegang sahamnya dari Indonesia. Pastinya, semua diberlakukan sama karena Inter Milan klub yang profesional,” lanjutnya.

Akan tetapi, Satrio melihat ada kemungkinan keuntungan lain yang bisa diambil oleh Indonesia, yaitu dalam hal pembinaan sepakbola. “Tapi untuk urusan pembinaan sepak bola, saya tidak bisa berkomentar,” ujarnya terkekeh.

Sebelumnya diberitakan, Eric Thohir Thohir bersama dua pengusaha lain asal Indonesia, yakni Rosan Roeslani dan Handy Soetedjo, yang tergabung dalam International Sports Capital (ISC), resmi menandatangani kepemilikan 70 persen saham Inter Milan, Selasa (15/10/2013) waktu setempat. Harga pembelian ditaksir mencapai Rp 5 triliun.

Mereka nantinya bersama keluarga Massimo Moratti akan bekerja sama untuk masa depan Inter yang lebih cerah lagi di Italia, Eropa, dan dunia.

“Hari ini sangat istimewa karena kehormatan, kepercayaan, dan kesempatan yang diberikan oleh Tuan Moratti dan keluarga untuk memimpin Inter menjadi lebih baik, lebih besar, dan lebih internasional. Saya berharap kerja sama ini bisa meningkatkan hubungan Indonesia-Italia khususnya dalam aspek bisnis dan olahraga,” kata Thohir dalam rilis yang diterima Kompas.com.

Menurut Thohir, proses akuisisi Inter sangat terbantu dengan dukungan dan doa para pencinta olahraga di Indonesia. Mayoritas pencinta olahraga di Indonesia menginginkan industri olahraga nasional tumbuh pesat dengan standar internasional.

Harusnya tidak ada. Saya kira tidak ada. Ya, kita lihat, kalau saya pribadi nanti kan juga, mungkin berharap ada pengaruhnya kepada PSSI. Inter kan professional, kalau mungkin brand Indonesia. Pembinaan ke pengaruhnya … Kalau jamannya Kurniawan sekolahnya ke Italia.

Komentar