Pulih, Apakah Saatnya Beli Emas?

Penulis: Darmansyah

Rabu, 17 Juli 2013 | 09:28 WIB

Dibaca: 0 kali

Harga emas menggeliat dan mengisyaratkan akan segera pulih. Betulkah? Paling tidak, dalam enam hari terakhir kenaikannya sudah mecapai 5,8 persen, dan merupakan kenaikan terbesar yang bisa dicatatkan pasar komoditi logam mulia di New York.

Tapi tunggu dulu! Para analis masih memperdebatkan apakah kenaikan ini akan berlanjut atau terhenti. Menurut para analis, baik yang optimis maupun pesmis sepakat untuk menunggu kebijakan fiskal Amerika Serikat dari “The Fed,” atau bank sentral-nya, menyangkut rencana penghentian stimulus di akhir tahun ini.
Apakah sekarang ini saat yang tepat untuk beli emas? Beberapa analis menilai ini bisa jadi momentum baru untuk penguatan emas. “Harga emas sedang dalam proses mencari titik terendah,” kata Jeff Nichols, managing director dari American Precious Metals Advisors, dalam wawancaranya di jaringan televisi berita CNN, Rabu , 17 Juli 2013.

Sejak April lalu, investor global sudah berlomba-lomba melepas emas dan masuk ke bursa saham yang memberi kepastian hasil investasi lebih tinggi. Harga emas memang sudah sangat jatuh jika dibandingkan rekor tertingginya di level US$ 1.900 per ounce pada 2011 silam. Saat ini harga emas dunia berada di kisaran US$ 1.284 per ounce, masih rendah 24% dari harga di awal tahun ini.

Jatuhnya harga emas ini terkait dengan kekhawatiran akan dicabutnya program stimulus di Amerika Serikat oleh bank sentral setempat, The Federal Reserve. Program stimulus ini yang membuat emas menjadi seksi di mata investor karena lindung nilainya bisa bertahan terhadap inflasi.

Investor sudah berlomba-lomba memburu emas sejak krisis 2008 karena percaya The Fed akan memperkuat nilai tukar dolar terhadap mata uang dunia dengan program stimulusnya sehingga membuat harga-harga terus naik, ujung-ujungnya harga emas juga naik terus.

Selain kekhawatiran dicabutnya stimulus, harga emas juga tertekan melambatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang, termasuk China dan India. Kedua negara ini merupakan pembeli emas paling rajin di dunia.

Meski demikian, beberapa investor veteran melihat anjloknya harga emas ini sebagai kesempatan dalam kesempitan. Investor jangka panjang merasa ingin mengkoleksi logam kuning ini sebanyak-banyaknya sambil menunggu harganya kembali pulih.

Nichols dari American Precious Metals Advisors yakin harga emas akan kembali mencetak rekor tertingginya dalam tiga sampai lima tahun ke depan. Maka dari itu ia meminta investor untuk bersabar. “Masih belum jelas kapan emas akan balik arah menanjak lagi,” ujarnya.

Harga emas di China, yang biasanya memberikan dukungan untuk emas selama perdagangan di Asia, juga merosot karena pedagang menunggu kepastian adanya kebijakan stimulus fiskal dari the Fed.

Kekhawatiran ini, telah membawa pergerakan emas dalam kisaran yang ketat selama tiga sesi perdagangan terakhir, dan membuat emas gagal menembus level USD1.300 per troy ons, bahkan setelah melompat tajam pekan lalu.

“The Fed akan mencoba untuk menenangkan pasar, dan membuat mereka berpikir keputusan itu (penghentian stimulus) tidak akan segera keluar. Mereka mungkin menunggu data beberapa bulan ke depan untuk membuat pengumuman ini,” seorang pedagang emas di Hong Kong, seperti dilansir dari Reutes.

Emas jenis Spot turun 0,2 persen menjadi USD1.279,25 per troy ons, setelah turun tipis sehari sebelumnya. Sementara emas AS, Comex Gold, merosot USD5 menjadi USD1.278,10 per troy ons. Daya tarik emas sebagai safe haven anjlok lantaran investor lebih memilih beralih pada dolar AS dan pasar saham. Sehingga, arus kas keluar lebih cepat dari emas yang didukung exchange traded funds.

Komentar