Prospek Emas Tahun Depan Cerah

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 31 Desember 2016 | 12:06 WIB

Dibaca: 0 kali

Harga emas turun pada perdagangan hari-hari terakhir di Desember tahun ini, seblum tutup tahun

Namun begitu, berdasarkan catatan dari “bussines week,”  harga emas menguat secara tahunan dan mingguan.

Harga emas untuk pengiriman Februari diperdagangkan di level US$ 1.157 per ounce, atau naik dua koma dua  persen sejak pekan lalu.

Secara tahunan harga emas naik sembilan persen.

Analis pun masih optimistis harga emas dapat kembali menguat pada awal Januari tahun depan.

“Harga emas mendapat keuntungan dari pelemahan doalr AS pada pekan ini. Kami mencari tren penguatan untuk berlanjut pada nanti. Harga emas positif pada kuartal pertama sejak 2005, dan kami harapkan kuartal I menunjukkan pertumbuhan ekonomi,” tulis analis iiTrader, seperti dikutip dari laman Kitco, Sabtu , 31 Desember 2016.

Menjelang penutupan tahun, sejumlah konsensus menyebutkan kalau harga rata-rata minyak di kisaran US$ 1.300 per ounce.

Analis menilai, emas potensial sebagai aset safe haven di tengah kondisi geopolitik global tak pasti.

Belum terlihat dampak dari proposal fiskal kebijakan Donald Trump dan kebijakan ekonominya. Selain itu, suku bunga global cenderung rendah.

Namun, Jim Wyckoff, Analis Kitco melihat harga emas cenderung netral.

Untuk jangka panjang secara teknikal, harga emas cenderung tertekan pada tahun ini secara bulan.

Agar harga emas tetap menguat maka harga emas harus didorong di atas level harga tahun ini  di kisaran US# 1.375.

Bila harga emas berada di zona tertekan agar dapat untung dalam jangka panjang maka harga emas harus didorong dari level bawha US$ 1.050.

Pada pekan depan, perdagangan cenderung pendek lantaran ada libur akhir tahun.

Namun pelaku pasar akan mulai masuk dan mencermati data ekonomi seperti data tenaga kerja di sektor non pertanian. Selain itu, ada rilis kebijakan bank sentral AS, data manufaktur, dan pekerja sektor swasta.

Emas dianggap sebagai investasi yang aman bagi investor, saat terjadi guncangan di pasar. Kondisi ini yang biasanya mendorong harga emas naik.

Pada tahun ini, harga emas sempat melonjak setelah Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa.

Khusus di tahun depan, para ahli mengatakan pola yang sama bisa terjadi pada harga emas, di tengah kekacauan politik di Italia dan pemilu Perancis serta Jerman.

Julian Jessop dari Capital Economics, seperti mengutip express.co.uk) memprediksi permintaan akan mendorong harga emas ke posisi US$ 1.050 pada akhir depan.

“Satu pelajaran dari tahun ini adalah permintaan safe haven dapat menguat sedikit saat terjadi guncangan politik yang  besar,” jelas dia.

Namun dia menambahkan guncangan baru pada tahun 2017 mungkin tidak begitu lemah.

“Dan perlu ditekankan bahwa Brexit belum terjadi dan Trump belum menjadi Presiden, sehingga masih ada banyak waktu untuk kembali terjadinya guncangan dari 2016,” dia menambahkan.

Harga emas juga bisa tetap di bawah tekanan seiring penguatan dolar, yang membuat komoditas lebih mahal bagi investor.

Mata uang AS ini melonjak pada tahun ini setelah Federal Reserve AS menaikkan suku bunga dan diprediksi akan terjadi kembali pada tahun nanti.

Sheridan Admans, Manajer Riset Investasi The Share Centre, mengatakan para pengamat emas memiliki berbagai pandangan soal harga emas dalam jangka menengah.

“Apa yang kita bisa yakini dalam masa ketidakpastian pasar emas cenderung adil dan relatif baik. Kita juga tahu bahwa emas baik ketika dolar AS melemah,” kata dia.

Dia menilai, investor juga menghargai emas yang merupakan lindung nilai yang baik terhadap inflasi.

“Harga emas juga tetap kuat terhadap aset lainnya saat deflasi, dan cenderung bereaksi positif ketika negara-negara berkembang sedang tumbuh,” dia menandaskan.

Harga emas sempat melonjak lebih dari satu persen menjelang tahun baru

Hal ini berkat dukungan  pergerakan dolar yang melemah sehingga membuat momentum terbalik pada pergerakan saham di akhir tahun ini.

Aksi harga emas pada akhir tahun ini, sangat mengesankan dibanding tahun lalu. Setahun yang lalu, emas sangat tertekan ketika the Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade.

Butuh satu tahun bagi The Fed untuk memulai kenaikan suku bunga berikutnya.

Emas sempat bergerak rally hampir sebanyak tiga puluh persen hingga bulan Juli pada tahun ini dan membuat ekpektasi kenaikan suku bunga AS kembali berada di bawah tekanan di semester kedua pada tahun ini.

Beberapa FedWatchers percaya bahwa bank sentral AS akan menahan suku bunga setidaknya hingga kuartal pertama pada tahun depan dan malah ada beberapa yang menilai tidak akan melihat kenaikan suku bunga AS hingga bulan Juni karena ekspektasi kenaikan suku bunga harus dilihat dari data ekonomi yang masuk.

Minggu depan atau awal tahun depan, penyelamatan Bank Italia dan arah mata uang yuan China kemungkinan akan mendikte pergerakan emas dalam jangka waktu dekat, terutama jika pasar saham mulai gugup terhadap perkembangan salah satu dari dua kasus ini.

Pasar akan mengawasi semua ini dengan melihat apakah harga emas yang berada di level rendah akan menjadi tempat yang cerah pada tahun depan.

Emas biasanya akan menjadi tempat perlindungan dari aset berisiko seperti saham.

Komentar