Pergerakan Emas Hari Ini Melambat

Penulis: Darmansyah

Selasa, 19 April 2016 | 10:42 WIB

Dibaca: 0 kali

Pergerakan harga emas dunia hari ini, Selasa, 19 April 2016,  melambat bersamaan dengan “wait and see”nya para “spekulan” logam mulia di pusat perdagangan dunia, Comex Exchange, New York, Amerika Serikat.

Pelambatan ini disebabkan adanya gejala harga minyak menaik ditambah melemahnya nilai tukar dolar yang tidak menentu sehingga para pedagang memilih untuk lebih hati-hati.

Dampak dari pelambatan ini langsung dirasakan oleh penjualan emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk, atau Antam.

Harga emas yang dijual oleh Antam bpada perdagangan Selasa pagi WIB, tak berubah jika dibandingkan dengan harga sehari sebelumnya.

Antam tetap mematok harga emas di angka Rp 566 ribu per gram.

Sedangkan harga pembelian kembali alias buyback emas Antam naik Rp 1.000 menjadi Rp 520 ribu per gram dari harga buyback sehari sebelumnya yang ada di angka Rp 519 ribu per gram.

Harga buyback ini artinya jika Anda menjual emas yang dimiliki, maka Antam akan membelinya di harga Rp 520 ribu per gram.

Pembayaran buyback dengan volume di atas satu kilogram  akan dilakukan maksimal dua hari setelah transaksi dengan mengacu kepada harga buyback hari transaksi.

Antam menjual emas dengan ukuran mulai 1 gram hingga 500 gram dan menjelang siang Selasa WIB, emas ukuran 500 gram, 50 gram, dan 10 gram sudah habis terjual.

Mengingat tingginya animo masyarakat, transaksi pembelian emas batangan yang datang langsung ke Antam dibatasi hingga maksimal 150 nomor antrean per hari.

Di pasar global, emas bergerak sedikit lebih tinggi pada awal perdagangan minggu, didukung oleh dolar yang melemah dan anjloknya harga minyak dunia.

Namun, emas tidak mampu mempertahankan keuntungan dan akhirnya logam emas kembali ke kisaran semula.

Investor sedang menunggu komentar dari beberapa pembuat kebijakan dari Federal Reserve. Yellen telah mengirim indikasi kuat bahwa Komite Pasar Terbuka Federal akan selalu berhati-hati ketika akan menaikkan suku bunga lebih lanjut pada tahun ini.

FOMC telah membuat dan menahan patokan federal Funds Rate pada kisaran yang ditargetkan di masing-masing dua pertemuan pertama pada tahun ini.

Meskipun demikian, the Fed diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga jangka pendek pada pertemuan berikutnya.

Bank sentral AS dapat melakukan kenaikan sebanyak dua puluh lima basis pada pertemuan berikutnya di bulan Juni.

Emas kemungkinan akan berjuang untuk bersaing dengan aset yang memberikan keuntungan tinggi ketika berada di lingkungan suku bunga yang meningkat.

Pertemuan negara-negara penghasil minyak di Doha Qatar, yang seharusnya melakukan pembekuan produksi telah membuat Arab Saudi untuk menolak berpartisipasi jika Iran tidak melakukan pembekuan produksi.

Harga minyak turun tajam pada awalnya dan membebani pergerakan saham global, di tengah meningkatnya risk aversion.

Meskipun demikian, jika Iran tidak berpartisipasi dalam pembekuan produksi maka Arab Saudi harus menjaga harga minyak dunia dan berpotensi akan menyebabkan volatilitas harga di pasar.

Jika harga minyak kembali mendapat tekanan maka deflasi akan kembali meningkat. Yang pada gilirannya akan membuat sebagian besar bank-bank sentral utama akan melakukan stimulus dan bahkan the Fed akan kembali melakukan mode stimu

Sementara itu, kegagalan pertemuan negara produsen minyak utama untuk menstabilkan pasokan minyak membuat harga minyak West Texas Intermediate melemah enam persen hingga akhirnya kembali pulih pada penutupan perdagangan di awal pekan ini.

“Harga minyak mempengaruhi pasar saham dan lainnya,” ujar Analis Kitco Jim Wyckoff seperti dikutip dari laman Marketwatch, Selasa.

Akan tetapi, ia menambahkan emas cukup tangguh sehingga kembali menguat.

Analis masih optimistis kalau emas dan yen masih menjadi pilihan untuk aset investasi lebih aman.

“Yen juga kandidat utama untuk mencetak kinerja luar biasa setelah sejumlah sentimen negatif yang membayangi mulai dari Doha dan gempa bumi di Ekuador pada akhir pekan lalu. Emas pun juga mendapatkan dukungan sentimen,” kata Analis Hantec Markets Richard Perry.

Komentar