Kini Harga Emas Sudah Paling Murah

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 1 November 2014 | 10:51 WIB

Dibaca: 1 kali

Hari ini, Sabtu pagi WIB, atau bersamaan dengan Jumat sore waktu Ne York, harga emas global di divisi COMEX New York Mercantile Exchange turun tajam, setelah keputusan mengejutkan dari bank sentral Jepang untuk memompa lebih banyak uang ke dalam perekonomiannya.

Harga emas dunia sedang tenggelam pada angka terendah. Logam mulia ini jatuh ke harga terendah semenjak tahun 2010.

Tumbangnya emas dikarenakan faktor menguatnya mata uang yang berpengaruh di dunia, seperti dolar Amerika Serikat dan juga yen Jepang.

Selain itu kebijakan pemerintah Jepang yang memperpanjang stimulus kepada perbankan mengagetkan pasar global. Dilansir CNBC, harga emas di pasar Spot terpuruk hingga US$1.180 per ounce.

Presiden dan kepala investasi Sica Wealth Management, Jeffrey Sica, mengungkapkan alasan utama jatuhnya harga emas adalah karena menguatnya dolar. Apalagi saat ini Bank of Japan mengaku telah pasrah Yen mereka menguat.

“Emas masih bisa jatuh lebih jauh lagi dan dolar dalam jangka pendek juga masih bisa menguat lagi,” katanya.

Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Desember, setelah kebijakan bank sentral Jepang itu, kehilangan 27 dollar AS dan ditutup 1.171,6 dollar AS per ounce.

Bank of Japan, pada Jumat mengumumkan bahwa mereka akan mulai menambahkan lebih banyak uang untuk ekonomi Jepang dengan membeli surat utang pemerintah. Langkah mengejutkan itu mendorong para investor meningkatkan pembelian pada ekuitas dan dollar AS serta menjauhi safe haven emas.

Dollar AS hampir mencapai posisi tertinggi dalam tujuh tahun terakhir terhadap yen Jepang pada Jumat, mendorong indeks dollar AS, ukuran kekuatan dollar terhadap enam mata uang utama dunia lainnya, ke tertinggi baru empat tahun. Emas diperdagangkan dalam dolar dan menjadi lebih mahal untuk pembeli yang menggunakan mata uang lainnya.

Selain itu, sebuah laporan dari University of Michigan menunjukkan sentimen konsumen berada pada tingkat tertingginya sejak Juli 2007. Indeks ini lebih tinggi dari angka di bulan September.. Ini juga memberikan tekanan pada emas.

Di situasi berbeda, permintaan fisik untuk emas dari India menguat menjelang Festival Diwali dan awal musim pernikahan di negara itu. Sementara itu, volume perdagangan emas di Tiongkok naik ke tingkat tertinggi sejak Mei 2013.

Kekhawatiran atas melambatnya pertumbuhan ekonomi global juga memicu permintaan “safe haven” untuk emas.

Kepemilikan emas dari SPDR Gold Trust, dana berbasis emas terbesar di dunia yang diperdagangkan di bursa, naik pada pekan lalu, pemasukan mingguan pertama sejak awal September.

Meski demikian, pendapat analis pasar tentang masa depan emas terpecah. Kebanyakan dari mereka percaya permintaan akan berkurang dalam waktu dekat, meskipun permintaan fisik dari Asia pada saat ini menguat.

Analis Societe Generale SA Michael Haigh mengatakan, harga emas akan terus turun dan bisa mencapai level 1.000 dollar AS per troy ounce bersamaan dengan anjloknya harga minyak dunia.

“Kejutan dari harga minyak semakin menambah amunisi tekanan terhadap harga emas. Harga energi yang semakin murah berarti rendahnya inflasi dan menambah faktor bearish emas,” jelas Haigh di New York.

Asal tahu saja, harga emas menghapus kenaikan di sepanjang tahun ini kemarin setelah pemerintah AS melaporkan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi AS terbilang cepat, melampaui estimasi analis pada kuartal III.

Kuatnya perekonomian semakin memvalidasi optimisme yang mendorong the Fed mengakhiri program pembelian asetnya. Kebijakan ini pula dipastikan akan memudarkan pesona emas sebagai alat lindung nilai dari inflasi.

“Akan terjadi tekanan bertahap terhadap harga emas. Harga emas akan turun ke level 1.000 dalam dua tahun ke depan dollar AS,” kata Haigh.

Di sisi lain, kepemilikan emas pada exchange traded products menuju penurunan bulanan ketiga dan mencapai level terendah dalam lima tahun terakhir pada pekan ini.

Komentar