Harga Emas Naik Rp 17.000 Per Gram

Penulis: Darmansyah

Jumat, 25 September 2015 | 10:51 WIB

Dibaca: 0 kali

Hari ini, Jumat, 25 September 2015, harga emas yang dijual PT Aneka Tambang Tbk, atau Antam, melompat sebesar Rp 17.000 per gram dan bertengger pada angka Rp 586.000 per gram. Lompatan harga ini merupakan yang tertinggi sepanjang satu tahun terakhir.

Kenaikan “gila” harga jual ini diikuti pula harga pembelian kembal atau dikenal dengan istilah “buyback,” logam mulia Antam yang juga menguat Rp 7.000 per gram menjadi Rp 508 ribu per gram.

Artinya, jika Anda menjual emas yang dimiliki maka Antam akan membelinya di harga Rp 508 ribu per gram.

Saat ini, Antam menjual ukuran emas dari satu gram hingga 500 gram. Hingga menjelang siang WIB, emas Antam dengan berbagai ukuran masih tersedia, dan tingginya animo masyarakat, transaksi pembelian emas batangan, Antam membatasi hingga maksimal seratus lima puluh nomor antrean per hari

Kenaikan harga emas di pasar spot ini, merupakan penguatan harian terbesar selama hampir delapan bulan setelah dipicu pelemahan dolar Amerika Serikat.

Dilansir dari Reuters, emas mencetak kenaikan harian terbaik sejak akhir Januari dengan menyentuh level tertinggi satu bulan dari US$ 1.156 per ounce karena dolar AS melemah usai laporan barang tahan lama AS tercatat turun dua persen pada Agustus.

Investor terus memantau pidato Gubernur Federal Reserve Janet Yellen untuk dijadikan petunjuk kapan Bank Sentral AS akan mulai menaikkan suku bunga acuan.

Sebelumnya The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan mendekati nol dipicu oleh kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global. Namun, Bank Sentral AS memastikan akan tetap menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini.

Beberapa hari lalu harga emas memang sudah membuat isyarat akan naik tinggi setelah mencapai level tertinggi dalam enam minggu dan mencetak kenaikan mingguan terbesar sejak pertengahan Januari 2015 karena data ekonomi yang lebih buruk dari China mengguncang pasar keuangan dan menekan dolar Amerika Serikat lebih lebih.

Dilansir dari Bloomberg, harga saham di dunia anjlok ke level terburuk dalam setahun.

Sementara indeks dolar AS melemah ke level terendah dalam dua bulan setelah data manufaktur China membawa keraguan bahwa Bank Sentral AS atau The Fed akan menaikkan suku bunga acuan pada bulan depan.

Data ekonomi China membawa ketakutan investor soal melambatnya pertumbuhan global. Hal ini membuat investor bergegas mengalihkan investasinya ke emas.

Pergerakan emas berjangka bergerak rally pada hari Jumat WIB dan membuat dolar AS melemah terhadap sebagian besar rival mata uang ketika penurunan di pasar saham global mendorong daya tarik investasi logam mulia.

Pertumbuhan ekonomi dan risiko inflasi telah membuat investor mulai melakukan penghindaran risiko.

Pasar menilai dengan cukup jelas melihat kebijakan moneter yang berjalan pada saat ini dan diperkirakan langkah berikutnya dari the Fed untuk menaikan suku bunga akan tertunda.

Pada saat ini, risiko terbesar adalah mungkin resesi dengan disinflasi dan the Fed harus memberikan kemudahan bukan pengetatan.

Dengan suku bunga yang berada di kisaran nol, pertanyaannya sekarang apa mungkin pelonggaran moneter diperlukan?

Suku bunga negatif atau QE4 adalah jawaban yang cukup jelas. Emas sudah pasti akan diuntungkan dengan bias kebijakan moneter yang lebih mudah dimana ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed akan sedikit berkurang.

Hari ini, Bank Sentral Taiwan secara tiba-tiba memotong suku bunga menjadi 1,75%, di tengah merosotnya sektor ekspor. Bank sentral Norwegia juga melakukan penurunan suku bunga sebanyak 25 bps dan mencatat bahwa “prospek pertumbuhan ekonomi Norwegia telah melemah, dan inflasi diproyeksikan akan berkurang lebih jauh.”

Secara historis, pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah, ekspor yang melembut dan tekanan disinflasi telah mendorong kebijakan moneter agar lebih akomodatif. Reserve Bank of New Zealand telah memangkas suku bunga pada beberapa minggu yang lalu dan mengisyaratkan kemungkinan pelonggaran lebih lanjut.

Reserve Bank of Australia secara luas diperkirakan akan memotong 50 bps ketika melakukan pertemuan pada minggu pertama bulan Oktober.

PBOC telah mendevaluasi yuan dan memompa likuiditas uang melalui operasi pasar terbuka. Pertumbuhan ekonomi Eropa terus-menerus melemah dan memberikan petunjuk baru-baru ini bahwa ECB akan untuk menambah jumlah program QE.

Pelemahan yang sedang berlangsung dalam ekonomi Jepang juga meningkatkan perkiraan bahwa BoJ akan melakukan double QE.

Pergerakan emas yang rebound ini menandai situasi hari Kamis. Logam emas sedang didukung oleh kekhawatiran yang sedang berlangsung pada pertumbuhan global dan risiko inflasi yang masih berada dalam kondisi negatif.

Sektor manufaktur negara ekonomi terbesar kedua di dunia terlihat berkontraksi berturut-turut pada bulan September.

Direktura IMF, Christine Lagarde kemarin mencatat bahwa risiko pertumbuhan terus meningkat, mengutip harga komoditas yang bergerak rendah ketika kebijakan moneter global kembali sedang di tata melihat kondisi ekonomi China sebagai Negara ekonomi utama yang sedang melambat.

Jika kita lihat saat ini The Fed masih terus bersikukuh dengan tetap berbicara mengenai kenaikan suku bunga yang mungkin hampir pasti tidak akan dilakukan dalam waktu dekat ini.

Presiden ECB, Mario Draghi memperingatkan bahwa ada risiko penurunan baru untuk inflasi yang sepertinya risiko telah terus-menerus jelas untuk beberapa waktu sekarang.

Draghi mengatakan bahwa bank sentral “tidak akan ragu untuk bertindak” dengan melakukan “kebijakan moneter yang diperlukan.” Dengan kata lain, Draghi kemungkinan akan melakukan QE lebih lanjut dalam beberapa pekan terakhir.

Jelas, kebijakan moneter super akomodatif masih jauh dari selesai.

Pergeseran sebagian dari kekayaan seseorang dari mata uang kertas menjadi aset keras seperti emas akan menjadi pilihan.

Divergensi kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral global dengan the Fed akan membuat momen manis bagi pergerakan emas selanjutnya

Komentar