Emas Tergelincir dari Posisi Tertingginya

Penulis: Darmansyah

Jumat, 22 Februari 2019 | 08:48 WIB

Dibaca: 0 kali

Setelah mengalami “pesta” kenaikan harga selama satu pecan terakhir, hari ini,  Jumat, 22 Februari, harga emas global di Comex Exchange New York,   tegelincir dari posisi puncaknya

Tidak hanya emas  harga paladium  juga keluar dari rekornya.

Seperti ditulis laman keuangan “bloomberg,” pagi ini, Jumat,, harga emas tergelincir dari level tertinggi dalam sepuluh bulan di sesi sebelumnya. Ini setelah risalah dari pertemuan terakhir Federal Reserve membuka peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini. Sementara paladium jatuh dari posisi puncaknya sepanjang masa.

Harga emas di pasar spot turun nol koma dua persen  per ounce, setelah mencapai level tertinggi sejak April  tahun lalu

Adapun harga emas berjangka AS turun lebih dalam, nol koma tujuh persen per ounce.

“Risalah The Fed telah membuat sebagian dovishness keluar dari pasar dan (itu) menyebabkan sedikit pelunakan emas,” kata Analis Capital Economics, Ross Strachan.

Dalam risalah pertemuan terbarunya, The Fed mengatakan ekonomi AS dan pasar tenaga kerja menguat, mendorong beberapa harapan setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi tahun ini.

Tingkat suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani emas yang tidak memberi imbal hasil.

Di sisi lain, Dolar AS kembali menguat terhadap mata uang utama lainnya, dan mengurangi daya tarik emas.

Morgan Stanley mengatakan dalam sebuah catatan, emas akan membutuhkan lebih dari sekedar dolar yang lebih lemah dan sikap dovish dari The Fed untuk mendorong harganya naik. Bahkan perbankan telah menutup posisi dalam logam.

Investor juga terus mengawasi perundingan yang bertujuan mengakhiri sengketa perdagangan antara China dan Amerika Serikat.

Harga emas telah naik empat persen tahun ini dipicu ekspektasi jika Bank Sentral AS akan menghentikan siklus kenaikan suku bunganya, dan pada harapan untuk kesepakatan perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia.

Selama sepekan, secara terus menerus harga emas benar-benar kinclong dan berada di posisi tertingginya  sejak sepuluh bulan terakhir, tepatnya sejak April tahun lalu.

Hari ini harga emas masih dibayangi kenaikan bersamaan dengan sentimen pembicaraan perdagangan Amerika Serikat -China yang mendukung permintaan logam mulia itu

Selain itu, ada harapan negosiasi tersebut mendukung kemungkinan permintaan tinggi terhadap emas dari China.

Di perdagangan elektronik, mengikuti rilis rapat the Federal Reserve atau bank sentral AS pada Januari, harga emas bergerak lebih rendah.

Hasil rapat the Federal Reserve menunjukkan akan ada kenaikan suku bunga lebih banyak jika inflasi di atas target.

Sementara lainnya menunjukkan kalau kenaikan suku bunga dibutuhkan jika ekonomi berkembang sesuai yang diharapkan.

The Federal Reserve atau bank sentral AS mengejutkan pasar pada akhir bulan lalu ketika tiba-tiba menunda kenaikan suku bunga di masa mendatang.

Jelang berita the Federal Reserve, harga emas untuk pengiriman April di divisi Comex naik nol koma dua persen  per ounce

Harga perak untuk pengiriman Maret bertambah juga naik satu koma tiga persen  per ounce.

“Ada banyak alasan bagus untuk perbaikan harga baru-baru ini dalam emas, di antaranya dolar AS melemah,” ujar Direktur Pelaksana RBC Wealth Management, George Gero, seperti dikutip dari laman “blomberg.”.

Ia menuturkan, kekhawatiran perlambatan global, brexit dan politik AS adalah semua alasan tambahan bagi investor untuk mencari tempat berlindung lain seperti emas.

Adapun pembicaraan perdagangan AS-China yang dilanjutkan di Washington pada pekan ini usai diskusi tingkat tinggi pada pekan lalu di Beijing. Kesepakatan perdagangan akan positif untuk prospek pasar negara berkembang terutama untuk keuntungan emas.

“Sementara terutama dilihat sebagai safe haven, emas sangat terpapar ke pasar negara berkembang, yang merupakan lebih dari setengah permintaan globalnya,” ujar Carsten Menke, Analis Julius Baer.

Ia menuturkan, latar belakang ekonomi yang membaik di pasar negara berkembang dan penguatan mata uang lokal serta dolar AS menjadi pertanda baik untuk permintaan emas.

Hal ini terutama berlaku untuk China. Permintaan emas selama beberapa tahun terakhir makin lemah karena konsumen semakin khawatir tentang prospek ekonomi.

Dalam catatan Morgan Stanley juga menyebutkan untuk pegang emas dalam jangka panjang.

Sejumlah faktor pengaruhi antara lain the Federal Reserve. Saat ini ada harapan the Federal Reserve selesai menaikkan suku bunga.

“Harga tembaga telah bertahan karena optimism pembicaraan perang dagang akan berhasil. Hasil positif dipandang sebagai positif untuk perdagangan global,” ujar Scott Gecas, Chief Market Strategist Walsh Trading.

Namun, prospek global untuk pertumbuhan mengisyaratkan perlambatan. Pergerakan logam, menurut Gecas akan tergantung dari data ekonomi.

Komentar