close
Nuganomics

Harga Emas Sulit Naik, Kecuali Terjadi Krisis Global

Harga emas terus melorot. Hingga pekan lalu penurunan ini sudah mencapai 13 persen. Dan akan terus turun sepanjang tahun ini. Tidak ada isu positif yang bisa mendongkrak harga kecuali terjadi krisis global.

Masa “booming” menyimpan emas sebagai investasi, menurut pengamat, sudah berlalu. Tidak hanya berhasilnya Europa mengatasi krisis ekonominya, Amerika Serikat juga mengalami perbaikan dalam jumlah angka pengangguran. Bahkan Asia yang terus tumbuh memberi harapan terlewatinya krisis di negara maju.

Bank investasi terus mengingatkan bahwa setahun kedepan emas makin tidak menarik lagi untuk disimpan. Penurunan harga emas di pasar global, dalam pekan lalu, di picu oleh angka pengangguran di Amerika Serikat yang berkurang.

Pengumuman ini langsung menimbulkan reaksi pada kontrak emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange turun.Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Juni turun 5,1 dollar AS, atau 0,35 persen, menjadi menetap di 1.468,6 dollar AS per ounce.

Departemen Tenaga Kerja AS, Kamis, melaporkan bahwa jumlah orang yang mengajukan tunjangan pengangguran negara berkurang 4.000 menjadi 323.000 dalam pekan yang berakhir 4 Mei, tingkat terendah sejak Januari 2008.

Pandangan positif terhadap situasi ketenagakerjaan di AS memperlemah pasar emas. Dollar AS yang sedang menguat juga menekan emas berdenominasi dollar AS.

Namun demikian, penurunan emas Kamis dibatasi berkat permintaan fisik yang kuat untuk emas. Selain China, konsumen India telah bergabung dengan antrian untuk memborong emas sebanyak mungkin menjelang pengenalan aturan pembatasan impor, dan India diperkirakan akan mengimpor lagi 100 ton emas dalam waktu dekat.

Sementara perak untuk pengiriman Juli turun 1,6 sen, atau 0,07 persen, menjadi ditutup pada 23,911 dollar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli naik 11,6 dollar AS, atau 0,77 persen, menjadi ditutup pada 1.516,5 dollar AS per ounce.

Sejumlah bank investasi global memutuskan untuk mengurangi porsi emas dalam portofolio investasi mereka karena belum ada sinyal yang bisa mendongkrak harga emas dalam waktu dekat ini.

Salah satu perusahaan investasi yang mengurangi porsi emasnya adalah Coutts & Co, private banking division dari Royal Bank of Scotland Plc. Perusahaan ini sudah mengurangi portofolio emas mereka secara bertahap sejak harga komoditas ini jatuh di bawah level 1.600 dollar AS per troy ounce.

Manajemen Coutts beralasan, harga emas tidak akan naik dalam waktu dekat, kecuali terjadi krisis di Timur Tengah, pelemahan dollar AS, atau tingginya tingkat inflasi.

Berdasarkan data yang dirilis Gary Dugan, Chief Investment Officer Coutts & Co untuk Asia dan Timur Tengah, saat ini pihaknya hanya memegang 1-2 persen investasi emas dalam portofolio mereka. Sebagai perbandingan, pada akhir kuartal ketiga 2012, kepemilikan emas mereka mencapai 6-7 persen dari total portofolio.

“Lonjakan harga emas sulit terwujud, kecuali terjadi krisis global atau lonjakan inflasi yang menggila. Dalam 12 bulan ke depan, saya belum melihat kemungkinan kenaikan inflasi atau risiko guncangan geopolitik yang dapat mengerek harga minyak. Meski demikian, ada potensi krisis yang datang dari Timur Tengah,” papar Dugan.

Sekadar informasi, harga emas sudah menurun sebesar 13 persen pada tahun ini setelah menorehkan reli selama 12 tahun berturut-turut. Penurunan harga emas tetap terjadi meskipun bank sentral global, termasuk The Federal Reserve, terus mencetak uang untuk memperkuat perekonomian mereka.

“Jika semua orang tetap melakukan quantitative easing, maka setiap mata uang mendapatkan tekanan yang sama. Makanya, tidak ada pemenang ataupun pihak yang kalah. Sebelumnya, banyak yang berpendapat apa yang AS lakukan melalui QE akan menekan dollar AS. Itu sebabnya mereka ingin memiliki emas,” paparnya.

hina membeli emas besar-besaran dari Hongkong pada bulan Maret. Jumlahnya berlipat ganda dari bulan sebelumnya.

Data dari Pemerintah Hongkong kemarin menyatakan bahwa China memborong 223.519 kg emas dalam sebulan penuh di Maret. Padahal di Februari, jumlah pembelian itu hanya 97.106 kg. Bahkan, jika dibandingkan jumlah impor Maret 2012 sebesar 62,913 kg, angka itu sudah berlipat tiga.

Sementara itu, impor bersih emas China dari Hongkong mencapai 130.038 kg, dua kali lipatnya angka Februari di 60.947. Angka ini menurut hitungan Bloomberg setelah dikurangi aliran emas yang keluar dari China ke Hongkong lagi.

Pembelian emas China itu terjadi sebelum emas anjlok memasuki tren bearish di April. Harga emas jatuh 14 persen dalam dua hari di pertengahan bulan itu.

Akan tetapi, tak lama setelah kejatuhan itu, orang mulai berburu emas fisik yang harganya menjadi murah. Permintaan akan perhiasan, koin, dan emas batang melonjak di India, AS, dan China.

Data terpisah kemarin menyatakan, penggunaan emas di China tumbuh 26 persen sepanjang kuartal satu 2013.

“Menilai dari ledakan pertumbuhan volume transaksi di Shanghai Gold Exchange pada paruh kedua April, dan anekdot bahwa banyak toko perhiasan di China yang kehabisan stok, impor kemungkinan akan lebih besar lagi di April,” kata Qu.