Harga Emas Melanjutkan Tren Menguat

Penulis: Darmansyah

Jumat, 5 Januari 2018 | 08:34 WIB

Dibaca: 0 kali

Hari ini, Jumat, 05 Januari, harga emas kembali mencatatkan harga di  level tertingginya  dalam tiga bulan lterakhur ketika pada perdagangan  sebelumnya didorong oleh investor mulai mencerna risalah pertemuan Bank Sentral AS atau The Federal Reserve

Sedangkan untuk paladium menyentuh level tertinggi sepanjang masa karena persediaan terus mengetat.

Seperti ditulis laman “bloomberg,” pagi ini, Jumat,  harga emas di pasar spot naik setengah  persen  per ounce pada

Sementara harga emas berjangka AS untuk pengiriman Februari naik nol koma dua puluh empat persen per ounce.

Untuk harga paladium naik satu koma dua persen  setelah sebelumnya mencapai rekor tertinggnya.

Dolar AS mencapai level terendah dalam empat bulan terhadap euro di tengah optimisme mengenai prospek ekonomi di kawasan Eropa.

Harga emas emang cenderung melawan pergerakan dolar AS. Dengan pelemahan dolar AS ini mendorong kenaikan harga emas.

Selain itu, pelaku pasar mulai mencerna hasil risalah dari pertemuan Bank Sentral AS yang dilakukan pada pertengahan Desember lalu.

Risalah tersebut memberikan petunjuk mengenai kapan Bank Sentral AS akan menaikkan suku bunga kembali di tahun ini.

“Saat ini pelaku pasar agak ragu Bank Sentral AS akan menaikkan suku bunga acuan seperti yang mereka ungkapkan di awal,” jelas analis TD Securities di Toronto, Daniel Ghali.

Harga emas memang terus menguat dalam sesi kesembilan berturut-turut hingga menyentuh posisi tertingginya sejak pertengahan September.

Penguatan harga emas ini  didukung meningkatnya permintaan untuk logam mulia  itu sehingga membuatnya menguat di tengah dolar Amerika Serikat  perkasa.

Meski demikian, harga emas sempat melemah usai rilis data hasil rapat bank sentral AS atau the Federal Reserve.

Harga emas untuk pengiriman Februari naik nol koma dua persen per ounce. Harga emas berjangka itu catatkan posisi tertinggi sejak 15 September.

Dalam perdagangan elektronik, harga emas sempat melemah usai bank sentral AS rilis hasil rapat.

Dari hasil rapat itu menunjukkan ada perbedaan pandangan pejabat bank sentral AS mengenai perkiraan kenaikan suku bunga pada tahun ini.

“Pernyataan cenderung kurang agresif mendorong investor merealisasikan keuntungan,” ujar Brien Lundin, Editor Gold Newsletter, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Kamis,04 Januari.

Sementara itu, indeks dolar AS sedikit berubah usai rilis hasil rapat bank sentral AS.Harapan suku bunga AS lebih tinggi dan reformasi pajak gagal mengangkat indeks dolar AS menguat lebih tajam.

Ini membuat pergerakan harga emas. Sebagian pelaku usaha mempertanyakan  seberapa besar dampak reformasi pajak untuk dorong ekonomi.

Sementara itu, ketidakpastian geopolitik juga membantu menopang pergerakan harga emas.

Di Iran, demonstran antipemerintah turun ke jalan di kota-kota seluruh negeri selama seminggu terakhir. Mereka mengungkap kesengsaraan ekonomi negara tersebut.

Ketidakpastian geopolitik mendorong harga emas. Selain itu, harga minyak juga menguat imbas dari sentimen geopolitik.

Dari AS, data ekonomi AS menunjukkan indeks manufaktur naik menjadi lima puluh sembilan koma tujuh persen pada Desember.

Harga logam mulia lainnya antara lain, harga tembaga turun lebih dari setengah  persen  Sedangkan harga perak menguat nol koma empat persen.

Harga minyak menguat dua persen ke level tertinggi dalam dua setengah tahun. Penguatan harga minyak didorong data ekonomi dari Amerika Serikat  dan Jerman yang memacu aksi beli. Ditambah kerusuhan masih

“Ketegangan Iran tentu saja merupakan faktor, data ekonomi yang sangat kuat juga memaksa reli,” ujar John Kiduff, Partner Again Capital LLC, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis pagi WIB.

Harga minyak AS juga menguat mendapat dorongan dari cuaca dingin di Pantai Timur. Hal itu menarik sejumlah kapal tanker yang membawa minyak membalikkan rute perdagangan tradisional.

Rilis data ekonomi juga jadi katalis positif untuk harga minyak. Tingkat pengangguran mencapai rekor terendah pada Desember di Jerman. Ini merupakan dasar dari penguatan ekonomi. Selain itu, aktivitas pabrik AS juga meningkat melebihi yang diperkirakan.

Laporan manufaktur dan konstruksi memicu ekspektasi ekonomi AS yang kuat pada tahun ini. Sentimen itu juga mendorong wall street menguat.

Ole Hanson, Kepala Analis Saxo Bank Denmark mengingatkan banyak gangguan sementara mulai dari jaringan pipa North Sea Forties dan Libya yang tutup serta protes di Iran meningkatkan taruhan spekulatif yang panjang untuk harga minyak.

Dengan proses perbaikan pipa dan demonstrasi di Iran tidak menunjukkan tanda-tanda pengaruhi produksi minyak.

Komentar