Harga Emas Makin Mendekati “Bangkrut”

Penulis: Darmansyah

Jumat, 23 Desember 2016 | 09:19 WIB

Dibaca: 0 kali

Sehari menjelang perayaan Natal, hari ini, Jumat, 23 Desember 2016, harga emas global, terutama yang diperdagangkan di Comex Merchantil Exchange, New York, kembali tersungkur dalam  tiga sesi berturut-turun dan mencatat pelemahan paling buruk di sepanjang Desember.

Selain emas, dolar  juga melemah pada pekan ini.

Biasanya, harga emas akan naik jika dolar melemah.

Namun, pelemahan dolar kali ini tak cukup untuk mengangkat harga emas ke level positif.

Melansir marketwatch, investor menghindari asset emas  dan beralih ke saham dan minyak yang kinerjanya lebih bagus.

Penurunan emas memang cenderung terbatas Tapi banyak analis melihat ada perubahan sedikit pada gambaran fundamental yang mendukung dolar dan bunga, yang mana menjadi pengaruh paling besar untuk harga emas.

Indeks dolar terhadap sekeranjang mata uang lain turun.

Namun penurunan ini tak cukup mengangkat harga emas.

Saham AS pada awal Desember mengawali perdagangan dengan baik, setelah saham energi memimpin kenaikan, imbas dari OPEC yang sepakat untuk memangkas produksi minyak.

Harga emas sebenarnya sudah turun sebelum pertemuan OPEC, karena pelemahan mata uang Jepang, Yen menurut Chintan Karnani, Kepala Analis Pasar di Insignia Consultants.

Data gaji pada Jumat diharapkan akan memberikan pengaruh pada perdagangan emas, dan pertemuan kebijakan Federal Reserve yang akan datang juga Bank Sentral Eropa jga diharapkan bisa memberi dampak.

Melansir Marketwach,  emas untuk pengiriman Februari jatuh tipis untuk menetap di level US$ 1.130 per ounce, setelah mengalami penurunan juga di Selasa dan Rabu.

Secara mingguan, emas turun setengah persen.

Jika harga emas akan turun pada penutupan perdagangan Jumat nanti, itu akan menjadi penurunan mingguan ketujuh untuk emas secara berturut-turut.

“Pasar emas masih di dalam tekanan, tak ada hal yang mengubah tren penurunan,” tutur Direktur Pelaksana di Linn Group, Ira Eipstein.

Faktor negatif tambahan lainnya adalah penerimaan dana bailout iTalia dua puluh  miliar euro untuk menyelamatkan sektor perbankannya, kata Eipstein.

Harga emas berjangka turun pada perdagangan Jumat hari ini ke level terendah sejak Februari.

Ini adalah pelemahan kelima kalinya secara beruntun.

Salah satu penyebab melemahnya harga emas adalah penguatan dolar dari ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Federal Reserve pekan depan.

Indikator yang berdasarkan pasar menyatakan seratus persen kemungkinan The Fed akan menaikkan suku bunga pada awal tahun depan

Langkah tersebut adalah ketiga  kalinya yang dilakukan bank sentral.

Pertama dilakukan hampir satu tahun lalu pada pertemuan The Fed di Desember tahun silam.

Kenaikan suku bunga ini biasanya berimbas pada kenaikan dolar, yang akan berdampak negatif pada harga komoditas seperti emas, yang punya harga denominasi pada dolar.

“Untuk jangka pendek, putlook harga emas masih akan tetap bergantung pada dolar,” ujar Tyler Richey.

“Intinya, jika dolar terus naik, harga emas akan turun,” tuturnya.

Sementara itu investor China masih terus menukar mata uang

Yuan dengan aset lainnya seperti emas, bahkan ketika mereka berani membayar harga premi yang tinggi.

Emas fisik akan menjadi sangat penting untuk mereka pada saat ini, ketika pemerintah mengekang arus uang keluar.

Setiap kali, gejolak ekonomi terjadi, investor akan berduyun-duyun masuk ke aset tradisional lainnya.

Dalam kebanyakan kasus, saham dan obligasi akan menjadi pilihan utama, tetapi berbeda dengan Cina ketika pasar obligasi runtuh beberapa kali, investasi lain mendapatkan momentum.

Salah satu invetasi tersebut adalah emas, yang selalu menjadi komoditas yang berharga karena bersifat “global”.

Rekam jejak sejarah mengatakan bahwa emas berhasil mempertahankan nilainya sepanjang waktu. Emas batangan adalah kendaraan investasi yang besar.

Selama bertahun-tahun, investor China terus memompa banyak uang untuk membeli emas kapan saja. Emas fisik sangat menarik akhir-akhir ini di Cina.

Untuk mendapatkan emas fisik sangatlah tidak murah. Investor berani membayar harga premi yang agak curam.

Membayar premi yang lebih tinggi dan melewati kontrol modal tentu akan membuat sulit bagi investor pada saat sekarang.

Mengingat kondisi Yuan yang berpotensi akan terus terdevaluasi lebih lanjut maka akan tidak mengejutkan bahwa investor Cina akan mencari emas dengan cara apapun.

Komentar