Harga Emas Lanjutkan Tren Melempem

Penulis: Darmansyah

Rabu, 2 Desember 2015 | 09:47 WIB

Dibaca: 0 kali

Hari kedua bulan Desember, Rabu pagi WIB, bersamaan dengan pembukaan perdagangan emas oleh PT Aneka Tambang Tbk, atau Antam, komoditi logam mulia itu tak bergerak dari harga sehari sebelumnya Rp 547.000 per gram

Sehari sebelumnya, Senin, 01 Desember 2015, emas batangan Antam i turun Rp 1.000 per gram

Berlainan dengan harga jual, harga pembelian kembali atau buyback emas Antam mengalami kenaikan Rp 1.000 per gram menjadi Rp 474.000 per gram.

Mengingat tingginya animo masyarakat untuk berinvestasi di logam mulia ini, transaksi pembelian emas batangan yang datang langsung ke butik Antam dibatasi hingga maksimal 150 nomor antrean.

Logam Mulia Antam saat ini memiliki tiga belas counter penjualan retail di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Palembang, Semarang, Banjarmasin, Balikpapan, Medan, dan Bali. Selain kota-kota tersebut, Logam Mulia Antam juga melayani kota-kota besar lainnya melalui Delivery order.

Di pasar global, menjelang kenaikan suku bunga perbankan di Amerika serikat oleh The Federal Reserve, harga emas tergelincir di perdagangan Rabu pagi WIB bersamaan dengan penguatan bursa saham dan mengantisipasi stimulus lanjutan di Eropa.

Mengutip Wall Street Journal, Rabu, 02 Desember, harga kontrak emas Februari yang merupakan kontrak yang paling aktif diperdagangkan turun di Divisi Comex New York Mercantile Exchange.

Harga emas memang terus-menerus tertekan dalam beberapa pekan terakhir setelah Bank Sentral Amerika Serikat memberikan sinyal yang lebih jelas mengenai rencana kenaikan suku bunga.

Rencana kenaikan suku bunga memberikan beban kepada emas karena dengan suku bunga yang tinggi maka emas harus bersaing dengan sarana investasi lain seperti obligasi yang memberikan keuntungan ganda yaitu bunga dan juga kenaikan harga.

Pada perdagangan Selasa kemarin, harga emas mengalami tekanan karena mengantisipasi rencana pemberian stimulus lanjutan oleh Bank Sentral Eropa.

Pemberian stimulus tersebut akan mendorong penguatan nilai tukar dolar AS dan menekan harga emas.

Selain itu, reli saham di Wall Street juga menekan harga emas.

“Harga saham meningkat cukup besar dan membuat sentimen negatif kepada harga emas saat ini,” jelas Senior Analis Archer Financial Services, Chicago, AS, Blake Robben.

Ia melanjutkan, emas benar-benar dalam masa sulit saat ini karena sentimen negatif tak hanya berasal dari satu sisi namun banyak sisi.

Sementara itu, Taki Tsaklanos, Kepala Riset Secular Investor menuturkan, secara teknikal grafik harga emas tidak terlihat sangat konstruktif. Level psikologis harga emas di kisaran US$ 1.000 per ounce.

“Kenaikan harga emas harus dipicu dengan minat beli yang meningkat. Target level support harga emas di kisaran US$ 850,” ujar Taki.

Sehari sebelumnya harga emas sempat menguat untuk pertama kali dalam tiga sesi perdagangan.

Setalah itu harga emas cenderung alami tekanan

“Jelang pertemuan bank sentral AS pada Desember ini semakin “ditakuti” pelaku pasar terutama rencana untuk menaikkan suku bunga. Ini menggeser harga emas dan perak ke level terendah,” ujar Kepala Riset BullionVault, Adrian Ash, seperti dikutip dari laman Marketwatch

Sementara itu, Taki Tsaklanos, Kepala Riset Secular Investor menuturkan, secara teknikal grafik harga emas tidak terlihat sangat konstruktif. Level psikologis harga emas di kisaran US$ 1.000 per ounce.

Pada pekan ini, pelaku pasar juga mengantisipasi rilis data ekonomi terutama tenaga kerja di sektor non pertanian pada Jumat pekan ini.

Data tenaga kerja ini akan menjadi petunjuk soal rencana kenaikan suku bunga bank sentral AS. Pertemuan bank sentral AS untuk menentukan suku bunga akan digelar pada pertengahan Desember 2015.

Komentar