Harga Emas Global Makin Memburuk

Penulis: Darmansyah

Selasa, 1 Desember 2015 | 10:27 WIB

Dibaca: 0 kali

Emas Antam milik PT Aneka Tambang Tbk, pagi Selasa, 01 Desember 2015, ini beringsut naik sebesar Rp Rp 1.000 per gram bersamaan dengan makin tidak menentunya kondisi harga emas di pasar global yang diterjang oleh menguatnya dolar ditengah kuatnya rencana The Federal Reserve menaikkan suku bunga di pertengahan bulan ini

Harga emas Antam kini berada di posisi Rp 547 ribu per. Pada perdagangan sehari sebelumnya, emas antam dijual Rp 546 ribu per gram.

Harga pembelian kembali atau harga buyback emas Antam juga mengalami kenaikan dengan nilai yang cukup besar, yaitu mencapai Rp 6.000 per gram menjadi Rp 473 ribu per gram pada perdagangan Selasa pagi WIB, dibanding dengan perdagangan sehari, yang ada di angka Rp 467 ribu per gram.

Harga buyback ini memiliki arti jika Anda menjual emas yang Anda miliki maka Antam akan membelinya di harga Rp 473 ribu per gram.

Mengingat tingginya animo masyarakat untuk berinvestasi di logam mulia ini, transaksi pembelian emas batangan yang datang langsung ke butik Antam dibatasi hingga maksimal 150 nomor antrean.

Logam Mulia Antam saat ini memiliki tiga belas counter penjualan retail di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Palembang, Semarang, Banjarmasin, Balikpapan, Medan, dan Bali. Selain kota-kota tersebut, Logam Mulia Antam juga melayani kota-kota besar lainnya melalui Delivery order.

Kabar bagus datang dari pasar global ketika hari ini, Selasa, 01 Desember 2015, harga emas menguat i untuk pertama kali dalam tiga sesi perdagangan.

Akan tetapi, harga emas cenderung alami tekanan terbesar bulanan untuk lebih dari dua tahun seiring rencana kenaikan suku bunga bank sentral AS pada Desember 2015.

Harga emas untuk pengiriman Desember naik sembilan dolar lebih Harga emas untuk Februasi menjadi kontrak paling aktif

Sepanjang November 2015, berdasarkan kontrak paling aktif, harga emas turun pada November 2015. Penurunan ini terbesar sejak Juni 2013.

“Jelang pertemuan bank sentral AS pada Desember ini semakin “ditakuti” pelaku pasar terutama rencana untuk menaikkan suku bunga. Ini menggeser harga emas dan perak ke level terendah,” ujar Kepala Riset BullionVault, Adrian Ash, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Selasa, 01 Desember 2015

Sementara itu, Taki Tsaklanos, Kepala Riset Secular Investor menuturkan, secara teknikal grafik harga emas tidak terlihat sangat konstruktif. Level psikologis harga emas di kisaran US$ 1.000 per ounce.

“Kenaikan harga emas perlu dipicu dari minat beli meningkat. Target level support harga emas di kisaran US$ 850,” ujar Taki.

Pada pekan ini, pelaku pasar juga mengantisipasi rilis data ekonomi terutama tenaga kerja di sektor non pertanian pada Jumat pekan ini. Data tenaga kerja ini akan menjadi petunjuk soal rencana kenaikan suku bunga bank sentral AS.

Pertemuan bank sentral AS untuk menentukan suku bunga akan digelar pada pertengahan Desember 2015.

Harga emas diperdagangkan mendekati level terendah dalam hampir enam tahun pada awal pekan ini.

Bahkan harga emas cenderung melemah tajam dan menjadi yang terburuk dalam dua setengah tahun.

Sentimen rencana kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat masih mempengaruhi laju harga emas.

Sementara itu, dolar AS cenderung menguat terhadap sejumlah mata uang, bahkan ke level tertinggi dalam delapan bulan ini. Penguatan dolar AS ini dapat menyakiti harga komoditas termasuk emas.

Selain menanti rilis kebijakan bank sentral AS, pelaku pasar juga menanti hasil pertemuan bank sentral Eropa pada Kamis pekan ini. Bank sentral Eropa diperkirakan memberikan stimulus tambahan.

Mengutip riset www.fortisasiafutures.com, harga emas bergerak stabil pada pasar Asia di awal pekan ini.

Seiring investor mulai meraba akan keputusan bank sentral Eropa dan AS. Investor akan fokus untuk melihat rilis data dari pertumbuhan tenaga kerja AS pada Jumat pekan ini untuk periode November 2015.

Laporan itu akan menjadi indikator bagi bank sentral AS dalam pertemuan 15-16 Desember.

Di awal pekan ini untuk kawasan Euro, Jerman akan merilis data inflasi serta laporan penjualan ritel dan AS akan merilis laporan aktivitas manufaktur Chicago serta data penjualan rumah sektor swasta yang tertunda.

Komentar