Harga Emas Global Benar-benar Ambruk

Penulis: Darmansyah

Jumat, 9 Maret 2018 | 08:59 WIB

Dibaca: 1 kali

Harga emas global benar-benar ambruk selama dua hari terakhir bersamaan dengan berkibarnya kekuatan dollar  setelah berada di level terendah dalam tiga minggu.

Selain kekuatan dollar, ambruknya harga emas juga dipicu oleh , rencana normalisasi kebijakan dari Bank Sentral Eropa  atau ECB.

Seperrti ditulis laman media ekonomi dan bisnis terkenal  “bloomberg,” hari ini, Jumat, 09 Maret,  harga emas di pasar spot melorot  sampai nol koma empat persen per ounce.

Harga tersebut menyentuh puncaknya selama satu pekan.

Sementara itu, untuk harga emas berjangka untuk pengiriman April  juga turun sampai setengah  persen per ounce.

“Dolar AS yang menguat menjadi penghambat untuk emas. Begitu pecah di atas level  sembilan puluh vs indeks dolar, maka emas tertekan,” kata Analis dari Dillon Gage Metals, Walter Pehowich.

Pergerakan harga emas juga tertahan setelah Gubernur ECB, Mario Draghi mengisyaratkan setiap normalisasi kebijakan di zona Eropa akan dilakukan bertahap.

Bahkan mata uang Euro terhadap dolar AS melemah pasca Draghi mengatakan kebijakan moneter di Eropa akan tetap reaktif.

Fokus investor masih tertuju pada rencana bank sentral Eropa untuk menghentikan program stimulus senilai dua setengah  triliun Euro, termasuk kekhawatiran perang dagang di dunia.

“Investor mengawasi apakah ada tanda-tanda kebijakan pelonggaran kuantitatif ECB mereda. Jika ada tanda-tanda begitu, maka Euro akan menguat sedikit,” ujar Analis dari EverBank, Chris Gaffney.

Pelaku pasar juga menunggu kabar tentang rencana Amerika Serikat (AS) terhadap pengenaan tarif bea masuk pada beberapa barang impor.

Draghi mengkritik tajam rencana proteksi dagang yang diluncurkan Presiden AS, Donald Trump. Pasalnya Trump dijadwalkan menandatangani aturan pengenaan tarif impor pada pukul pagi ini waktu Amerika serikat.

Seperti diketahui, Trump akan memungut bea masuk impor baja sebesar dua puluh lima persen dan aluminium sebesar sepuluh persen.

Selain oleh menguatnya dollar dan kebijakan ekonomi, harga emas melemah karena didorong data tenaga kerja sektor swasta pada Februari dan dolar Amerika Serikat  yang menguat.

Harga emas merosot usai the Federal Reserve atau bank sentral AS merilis the Fed Beige Book yang menunjukkan aktivitas ekonomi AS.

Harga komoditas ini seiring berlawanan dengan dolar AS lantaran pengaruhi investor yang memegang mata uang lain.

“Dolar AS masih pengaruhi harga emas,” ujar Managing Partner Altavest, Michael Armbruster seperti dikutip dari laman Marketwatch,

Dolar AS merosot ke level terendah dalam  enam belas bulan terhadap yen pada pekan lalu. Investor pun mencari aset investasi aman seperti logam dan yen.

Sedangkan harga emas sempat menguat ketika dolar AS melemah dan penasihat ekonomi AS Gary Cohn mengundurkan diri imbas rencana kebijakan pengenaan tarif impor baja.

“Cohn mengundurkan diri menandakan Presiden AS Donald Trump serius soal tarif impor baja. Jika dolar AS bereaksi terhadap hal itu ada kemungkinan harga emas dapat menguat,” kata Armbruster.

Rilis data ekonomi AS juga pengaruhi harga emas.

Pada Rabu waktu setempat, ADP melaporkan penambahan tenaga kerja dua ratus tiga puluh lima ribuu pada Februari.

Sementara itu, defisit perdagangan naik lima persen.

“Kenaikan data tenaga kerja ADP akan kembali mendorong fokus investor terhadap kenaikan bunga bank sentral AS pada tahun ini8. Jika data ini konsisten data tenaga kerja AS akan lebih baik,” ujar Jeff Wrights, Chief Investment Officer Wolfpack Capital.

Komentar