Harga Emas Antam Kembali Menggeliat

Penulis: Darmansyah

Selasa, 15 September 2015 | 09:58 WIB

Dibaca: 0 kali

Setelah ambruk sebesar Rp 3.000 per gram dalam perdagangan kemarin, Senin, 14 September 2015, hari ini, Selasa, 15 September 2015, harga emas yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk, atau Antam, kembali bergeliat sebesar Rp 2.000 per gram.

Kenaikan harga ini belum mampu menyentuh batas psikologis harga karen masih berada di posisi Rp 559.000 per gram. Batas psikologis emas yang dijual Antam adalah 560.000 per gram.

Selain kenaikan harga jual, kenaikan juga terjadi pada harga pembelian kembali atau “buyback” logam mulia ini.

Dibanding perdagangan kemarin, harga buyback merangsek naik Rp 2.000 per gram menjadi Rp 499.000 per gram.

Semua emas berbagai pecahan mulai dari satu hingga 500 gram masih tersedia di Antam.

Sementara mengingat tingginya animo masyarakat, transaksi pembelian emas batangan yang datang langsung ke Antam dibatasi hingga maksimal seratus lima puluh nomor antrean per hari.

Di pasar global, pergerakan harga emas berjangka sedikit bergerak lebih tinggi pada hari Senin waktu New York.

Dengan menutup sebagian kerugian di sesi sebelumnya, ketika investor melayangkan pandangan mereka pada keputusan suku bunga Federal Reserve yang akan di rilis pada akhir pekan ini.

Jika bank sentral AS memberikan pernyataan dovish pada hari Kamis maka pergerakan saham akan bergerak naik dan melemahkan mata uang dolar AS.

Emas terus berkonsolidasi sebelum pertemuan FOMC pada minggu ini. Pernyataan kebijakan akan dirilis pada hari Jumat subuh WIB, yang diikuti dengan proyeksi ekonomi terbaru dan konferensi pers Janet Yellen.

Banyak yang mengusulkan agar the Fed harus menaikkan suku bunga, meskipun pertumbuhan dan inflasi berjalan di tempat tetapi sebagaian percaya bahwa kenaikan suku pada saat ini dapat menyebabkan krisis ekonomi di pasar negara berkembang.

Mantan deputi Gubernur bank sentral Swedia, Lars Svenson mengatakan, “peningkatan suku bunga AS pada saat ini akan memiliki implikasi yang sangat besar.”

Apakah the Fed siap untuk menanggung resiko yang mungkin akan muncul dan menimbulkan gejolak di pasar negara berkembang?

Menariknya, pada saat ini banyak media keuangan terus menunjukkan bahwa emas tidak akan menghasilkan sesuatu apapun jika the Fed menaikkan suku bunga.

Harga emas melonjak pasca krisis tujuh tahun lalu karena kebijakan moneter tidak konvensional yang diadopsi oleh the Fed dan bank sentral utama lainnya di seluruh dunia yang berpotensi menyebabkan inflasi.

Namun, faktanya inflasi hanya terjadi di aset keuangan daripada angka CPI pemerintah, yang sampai hari ini masih jauh di bawah dua persen di semua negara maju.

Komentar