Harga BBM Naik, Pembeliannya Dibatasi

Penulis: Darmansyah

Senin, 13 Mei 2013 | 15:47 WIB

Dibaca: 0 kali

Harga bahan bakar minyak naik? “So,” pasti. Presiden sudah sepakat dengan DPR untuk mendongkrak harga ini untuk membebaskan gelembung subsidi yang makin menciutkan anggaran pembangunan infrastruktur dan menghalangi pengucuran dana untuk  penurunan angka kemiskinan.

Menurut bocoran yang diterima “nuga.co,” BBM subsidi untuk dua jenis pemakaian  kenderaan, bensin premium dan solar akan naik masing-masing  menjadi Rp6.500/liter dan Rp5.500/liter.

“Iya, premium naiknya Rp2.000, solar naiknya Rp1.000,” ungkap Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Alishjabana. Armida menuturkan, finalisasi terkait kenaikan harga BBM subsidi akan dibahas dalam Sidang Kabinet Terbatas yang dipimpin oleh Presiden SBY. Kemudian baru diserahkan ke DPR RI dalam bentuk RAPBN Perubahan 2013.

“Nanti persisnya. Besok kan finalisasi di pemerintah baru nanti dibahas lagi di DPR,” ujar Armida. Salah satu finalisasi yang ikut dibahas adalah kompensasi akibat kenaikan BBM bersubsidi kepada rakyat miskin. Salah satunya adalah bantuan langsung tunai yang namanya menjadi bantuan langsung sementara masyarakat.

“Berapa-berapanya besok ya, tapi intinya penguatan yang ada itu kan sudah bolak balik diceritain. Program keluarga harapan, beras miskin, beasiswa miskin, lalu program khususnya BLSM 5 bulan Rp 150 ribu, rumah tangga sasarannya 15,5 juta, kemudian infrastruktur pedesaan,” kata Armida.

Kenaikan harga BBM subsidi ini targetnya dilakukan awal Juni 2013, bila pembahasan RAPBN-P 2013 telah disahkan oleh DPR. Harga bensin premium dan solar subsidi memang akan berbeda, karena solar masih digunakan nelayan.

Untuk kenaikan harga dan pengendalian pemakaian bahan bakar minyak ini bulan Juli 2013 pemerintah dan PT Pertamina  mulai menerapkan Radio Frequency Identification dalam rangka pengendalian pembelian. Pengelola SPBU butuh sosialisasi termasuk memasang spanduk, namun mereka trauma kasus gagalnya sosialisasi spanduk BBM premium dua harga.

Pengawas  sebuah BBM SPBU  di Banda Aceh,  menyatakan sebelum hal itu dilaksanakan, harus ada sosialisasi terlebih dahulu kepada masyarakat. “Selain ke petugas SPBU-kan butuh informasi juga ke masyarakat,” katanya.

Ia mencontohkan bentuk sosialisasi antaralain seperti spanduk pada setiap SPBU, beberapa iklan di media massa dan lainnya. “Kita pasti butuh spanduk sosialasi lagi,” ujarnya lagi.

Sebab, jika tidak ada sosialisasi atau pemberitahuan dan petunjuk maka masyarakat sulit memahami aturan yang dikeluarkan. “Bakal kesusahan juga kita buat menjelaskan,” sebutnya.

Akan tetapi, sebelumnya semuanya dilakukan, menurutnya perlu ada kepastian terlebih dahulu. Pasalnya, jangan sampai spanduk sudah terpasang, namun kebijakan akhirnya dibatalkan.

Rencananya terkait pengendalian BBM subsidi, pembelian BBM subsidi untuk kendaraan bermotor roda dua hanya boleh sebesar 0,7 liter per hari. Sementara untuk kendaraan roda empat mobil  dalam sehari hanya dibatasi membeli 2,7 liter – 3 liter.

Komentar