“Gampong” Belanja Yang Mengoyak Ekonomi Aceh

Penulis: Darmansyah

Selasa, 19 Februari 2013 | 09:33 WIB

Dibaca: 1 kali

GARUDA PLAZA,  di Jalan Sisingamangaraja, Medan, di suatu pagi, awal  Februari lalu, kala musim penghujan menyiram kota  di tanah Deli itu, sepanjang hari. Di lobi yang terbuka dengan Gayo Cafe di sisi timurnya dan restoran di utaranya,  ada   suasana “meunasah”  bak di Gampong Aceh di sana.

“Meunasah”  yang mengaumkan  bagaikan   dzikir  “dhalail khairat.”  Dzikir paduan suara berharmoni magis yang  biasanya dilantunkan dengan intonasi tinggi, terkadang juga mendayu, di “balee meunasah gampong.”  Dzikir yang terkadang menghentak  dengan retorika yang “ribet.”  Retorika, yang hari itu kami datang sedang  bereinkarnasi  di lobi hotel bintang tiga itu dan menjalarkan   aumannya kekisi-kisi  ruang.

Simaklah riuhnya benturan kalimat  “kelat”  dari  lafadh  huruf  “t” berdetak. Huruf “t”  ber”getah”  dari aksentuasi dialog serabutan. Dialog gaduh, yang terkadang berdentam dan garang  dari  kalimat berstruktur  centangprenang. Kacau. Tak beraturan. Kalimat bersilang tanpa tatakrama pengucapan.

Hari itu,   menjalar suara gaduh di meja “reception” tentang  kealpaan pencatatan “bocking” kamar. Suara  bernada tinggi, mirip orang bertengkar, berhamburan mengiringi  kecemasan sang tamu ketika  tidak mendapatkan kamar.

Bahkan, dari sudut lain, masih di area lobi, di keremangan pagi Gayo Cafe, sekawanan orang bertampang pengusaha, dengan “stylis meugampong” asyik bercas cis dengan volume meninggi. Suara yang terekam sedang bernegosiasikan  harga sebuah proyek  sembari menghirup seduhan kopi pagi dan mengapungkan persilangan  kata,  “jeut, bereh, kah” ataupun “hana masalah.” Kata-kata yang populis berdengung hingga menjepit ke gendang telinga.

Percakapan yang sangat khas Aceh. Nuansa  yang bisa  “gentlement”    dang di ujung “haba”nya, percakapannya,  ditutup tawa  berderai.

Jangan alpa pula menyimak  celoteh berisik yang berlarian dari sudut sebuah  restoran, yang subuh  itu  di sulap sebagai tempat “breakfast,”  di sayap kiri lobi. Suara berisik  yang menaburkan kalimat pendek “peu lom,” apalagi, dan “neu cok laju,”  silakan ambil terus,  bernada perintah, dari tamu yang tergagap mengambil hidangan pagi. Kalimat  yang diucapkan tanpa basa basi itu membuat tenggelam bisik  sepasang  tamu  “bule,”  yang hanya bisa tersenyum hambar dan mengangkat kepala melongokkan pandang kearah asal suara.

Masih di ruang lobi.  Di sofa, yang melingkar di tiang tengah, teronggok rombongan tamu “gampong” meregang kantuk. Berdesakan. Mereka masih menunggu antrian kamar, dengan tas bergeletakan di lantai, sembari berceloteh mengumpat  jengkel  dalam  kalimat  “carut marut”  yang ditujukan kepada “room boy” atas pelayanan adem ayem.

Di teras depan dua keluarga berwajah kusut melintas dan  mendenguskan  suara  gerutu  dalam kalimat yang sangat Aceh, ”hana le kamar,” tidak ada lagi kamar. Keluarga ini berpapasan dengan seorang lelaki “berstelan” pejabat,  di depan pelataran, yang tampak bergegas untuk  menyeberang  Jalan Sisingamangaraja  sembari  menyeringaikan   penyesalannya dalam kalimat pendek, ” tuho bocking,”  lupa pesan. Dan ia melengos ke arah satpam minta dicarikan taksi.

Masih di area lobi, di depan kotak “lift,” tiga pejabat sebuah kabupaten asyik berdiskusi  cas,  cis, cus sesukanya dalam bahasa daerah berdialek “jamee,”  tanpa peduli  sorot  keheranan  tamu di sekitarnya. “Rapat kerja,” ujarnya dengan nada risih ketika pandangan kami bertabrakan. Jawaban  “pembenaran”  dari sikap  salah kaprah karena tidak ada pertanyaan  yang kami lontarkan  tentang kegiatannya di hotel “meunasah” Aceh itu.

Rapat kerja,” dalam tanda dua petik, di hotel berbintang tiga itu, yang sekaligus menyertakan anak istri  atas nama rekreaksi dan  “nyambi”  wisata  belanja di  mall “Sun Plaza” di Kampung Keling atau pun super market “Carefour” di Medan Fair, kawasan Jalan Gatot Subroto, untuk menyebut,  dua dari sekian banyak, tempat “shoping” paling digandrungi keluarga ekonomi “pejabat” Aceh jika berada  di Medan.

***

Garuda Plaza,  ketika hari kami  “ziarah” sedang melimpah pengunjung.  Padahal, saat  itu bukan  pekan liburan. Tidak pula di bulan promosi yang biasanya di iklankan secara rutin di koran lokal terkenal Banda Aceh. Hari itu, Garuda Plaza Hotel,  memang sedang “booming” tamu. “Booming” dengan “okupansi” atau tingkat hunian “overload,” melebihi kapasitas. Tingkat hunian yang mengharuskan tamu mengantri untuk mendapatkan  jatah kamar. Atau mem”bocking” seminggu  sebelumnya.

Dan ketika kami konfirmasi suasana  melimpah  ini dengan Hendra Arbie, pemilik sekaligus pengelola  hotel,  ia menjawab dengan enteng,” biasa.”

Ya, biasa.

Biasa, ketika hotel milik keluarga Minang, yang mengidentikkan usahanya  sebagai rumah  “syedara,”  sekaligus  “meunasah” Aceh  tempat tumpangan para “aso lhok,” penghuni asli.

“Meunasah”  yang melekatkan  nama ruangan dan ornamen khas Aceh di banyak sudutnya sebagai  tali pengikat  kekerabatan dengan tanah “indatu.” Tali kekerabatan yang menyebabkan  para  “aso lhok”   sumringah ketika nongkrong di   Gayo Kafe sembari menyeruput  kopi Aceh berlabel “Ulee Kareng Kupi”  atau “Gayo Mountain Cafe.”

Atau pun mendecakkan lidah kala menyantap kuliner “beu gurih,”  semacam nasi uduk, ber“eungkot kayee,” ikan tongkol yang diproses lewat perebusan dan dijemur sampai keras,  di waktu makan pagi.

Bahkan, untuk memelihara harmoni emosional dengan “gampong,”  para syedara, panggilan tamu asal Aceh, diberikan secara gratis koran lokal terbitan Banda Aceh yang  setiap paginya  disorongkan ke pintu  kamar-kamar. “Pokoknya,  segala bau “Aceh”  didekatkan kepada tamu  untuk betah di rumah keluarganya,” ujar Parlaungan Lubis, wartawan koran lokal di Aceh yang berkantor di sebuah ruang di hotel itu sejak duapuluh tahun terakhir.

Tidak hanya  sekadar menjadi “rumoh keluarga,” Garuda Plaza  juga  “menyantuni”  tamu Acehnya dengan  diskon “besar,” asal  bisa menyodorkan “ka-te-pe” lokal. Ka-te-pe, yang ketika “perang,”  dulu, berwarna merah putih selebar telapak tangan, dan mendiskriminasikan pemegangnya  sebagai warga antah berantah.

Dengarlah bagaimana resepsionis perempuan menanyai seorang tamu yang mengaku dari Aceh. “Tolong katepenya” Dan sang tamu gelagapan merogoh dompet mengeluarkan katepe untuk mendapatkan diskon limapuluh persen bagi pemegang katepe Aceh.  Promosi siip!! Promosi “gampong” belanja yang mengoyak ekonomi Aceh hingga termehek-mehek.

Sebagai bisnis  yang mengidentifikasikan dirinya sebagai “ meunasah,”  Garuda Plaza tidak hanya “membocorkan” dompet “syedara”  tapi juga menyimak secara seksama   lengkok ekonomi “seudati” di tanah “indatu.” Lengkok ekonomi  Aceh,  yang hari-hari ini bagaikan, “roller coaster,” dari  pasang  naik pertumbuhan duit yang digelontorkan Jakarta atas nama dana otonomi khusus, dana bagi hasil migas dan dana alokasi umum untuk memadamkan “birahi” kemerdekaan.

Sebagai “syedara, juga,  Garuda Plaza takzim membaca “resam” kesantunan “adat peuteumerohom”  dengan menghindar  kesan meraup  laba  ketika  banjir  “raseuki”  menggenangi “buya gampong .”  Dan dalam posisi lain, “meunasah” Aceh ini tak ingin menjadi “buya lua.”

Mereka hafal sebuah adagium yang hidup sebagai “joke” di tahun tujuhpuluhan hingga awal duaribuan, yang  mencabik hati keluarga Batu Phat atau keluarga Syamtalira Aron, ketika perut bumi mereka dihisap gasnya untuk mensejahterakan elite Jakarta, “buya gampong ta dong-dong, buya lua ba reseuki.” Buaya kampung kebingungan, buaya luar menangguk rezeki.

Adagium, yang kini, ketika mobil “CRV, Innova ataupun Mitsubhisi double cabin, berseliweran di selangkang rangkang  dipelesetkan  dengan kalimat, “buya gampong beuraseuki, buya lua meucok laba,” buaya kampung mendapatkan rezeki,  buaya luar mengumpulkan laba.

Adagium “plesetan” yang muncul usai perdamaian Aceh. Adagium yang populer ketika “syedara glee,” saudara gunung, bekas kombatan GAM, turun ke kota dan mendapat  rezeki dari jatah proyek dan menimba “fee” untuk kemudian dibelanjakan ke Medan atau Jakarta membeli simbol “gengsi.” Simbol menunggang mobil New CRV dan  bepergian dengan pesawat bertiket  klas bisnis.

Sebuah adagium yang tidak lagi dilontarkan dengan emosional, seperti beberapa dekade sebelumnya, ketika ekonomi Aceh tumbuh menanjak dan masyarakatnya terpuruk ke dasar kemiskinan,  dan memunculkan sinisme  menggemaskan di setiap “haba,” pembicaraan,  di keude kupi, balee meunasah  hingga menjadi diskusi di setiap “bakda” maghrib.

Adagium, yang kemudian, menjadi kalimat perlawanan yang menyulut “prang sabil,” perang kemerdekaan, dengan Jakarta akibat ketimpangan  distribusi pendapatan. Distribusi dari penghasilan minyak dan gas yang menyembur di perut Perueulak  dan Syamtalira Aron untuk kemudian membuat liarnya adagium,   “buya gampong ta dong-dong, buya tamong beurasueki.” Adagium yang menghela  perlawanan atas nama keadilan dengan label tuntutan “kemerdekaan.”

Sebuah adagium,  yang kala itu,  dan kini, disimak secara khidmat oleh pengelola  Garuda Plaza untuk mendekatkan jarak dengan para syedara dengan menukarkannya lewat  jasa pelayanan penginapan.

Komentar