Emas Menguat Jelang Rilis Data Ekonomi

Penulis: Darmansyah

Selasa, 13 Februari 2018 | 08:03 WIB

Dibaca: 0 kali

Setelah terhempas sepanjang pekan lalu, hari ini, Selasa, harga emas bergerak naik karena dipicu oleh melemahnya dolar Amerika Serikat

Namun begitu, seperti ditulis laman “Bloomberg,” pagi ini WIB,  kenaikan tersebut diperkirakan akan teredam menjelang rilis data inflasi dari Amerika Serikat pada akhir pekan ini.

Dan itu bisa berarti suku bunga AS naik lebih cepat dari perkiraan.

Harga emas di pasar spot naik setengah  persen per ounce.

Untuk diketahui, harga emas telah jatuh lebih dari tiga persen sejak mencapai puncak dalam tujuh belas  bulan  terakhir

Selain itu harga emas berjangka AS naik nol koma delapan   persen per ounce.

Kekhawatiran tentang inflasi di Amerika Serikat muncul setelah data pertumbuhan lapangan kerja dan kenaikan upah yang keluar bulan ini, meningkatkan harapan bahwa pasar tenaga kerja AS akan membaik pada tahun ini.

Adapun data inflasi untuk bulan Januari akan jatuh tempo pada hari Rabu dan Federal Reserve rencananya akan bertemu pada pertengahan  Maret.

“Jadi cerita hari ini tentang kebijakan moneter AS dan dolar,” kata Julius Baer, Analis  Carsten Menke.

Dia mengatakan kekhawatiran yang muncul dan bisa mempengaruhi harga emas adalah pertumbuhan ekonomi yang lebih solid, kenaikan upah dan kekhawatiran The Fed akan dipaksa menaikkan suku bunga lebih tinggi dari perkiraan saat ini.

Pelemahan Dolar terhadap mata uang lainnya, digunakan oleh investor sebagai tempat aman untuk memarkirkan aset di saat volatilitas pasar keuangan.

Maklum, greenback yang lemah membuat emas berdenominasi dolar lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya dan berpotensi mendorong permintaan.

Harga emas mengalami tekanan sepanjang pekan lalu akibat data  ekonomi Amerika Serikat  yang membaik seperti inflasi dan indeks dolar AS  dan langsung berdampak ke harga emas.

Harga emas sempat tertekan ikuti bursa saham AS yang turun tajam pada pekan lalu. Bahkan indeks saham Dow Jones turun lebih dari seribu poin dalam dua sesi.

Total keseluruhan, indeks saham Dow Jones ditransaksikan di posisi dua puluh tiga ribu tujuh ratrus delapan puluh empat.

Indeks saham Dow Jones turun lebih dari enam persen sejak Jumat pekan lalu.

Harga emas pun ditransaksikan turun dua koma tujuh  persen per ounce pada pekan lalu.

“Ini bukan hal biasa melihat harga emas turun tajam. Ini pertama kali terjadi koreksi di pasar, dan kami berharap terjadi aksi jual dan dana kas investor naik. Mereka akan jual keuntungannya dan cairkan ke emas,” jelas Eugen Weinberg, Kepala Riset Commerzbank, seperti dikutip dari laman Kitco,.

Ke depan, harga emas dapat lanjutkan penurunan dalam waktu dekat. Weinberg menuturkan, tidak banyak waktu untuk harga emas dapat kembali menguat.

Oleh karena itu, ia harapkan investor jangka panjang dari harga emas berada di posisi rendah.

“Semakin lama krisis di bursa saham berlangsung, semakin banyak permintaan akan aset safe haven. Harus ada permintaan kuat di posisi US$ 1.300 per ounce,” ujar dia.

Kepala Riset London Capital Group, Jasper Lawler mengatakan, koreksi saham tidak cukup untuk memacu permintaan emas.

Dia menambahkan, koreksi sepuluh persen dipandang sehat oleh analis saham. Akan tetapi, bila saham turun dalam jangka panjang, ia menuturkan  emas dapat terlihat lebih menarik.

Lawler menambahkan, investor seharusnya tidak berharap harga emas dapat meroket dalam waktu cepat. Ini seiring ada harapan berkembang kalau bank sentral global akan perketat kebijakan moneter agresif,” ujar dia.

Ia menambahkan, investor juga bertanya-tanya reaksi bank sentral bila inflasi terbalik.

“Pasar emas butuh inflasi tinggi namun suku bunga rendah dapat menunjang hal tersebut,” ujarnya.

Komentar