Emas Menghadapi Ujian Keperkasaan Dollar

Penulis: Darmansyah

Senin, 21 November 2016 | 09:59 WIB

Dibaca: 0 kali

Harga emas yang terpelanting akibat penguatan dollar pada pekan lalu, hari ini, Senin, 21 November 2016,  tetap bertahan dalam fase konsolidasi setelah memperpanjang tekanan dengan bergerak ke arah yang sedikit lebih rendah mendekati level USD 1200 per troy ounce.

Dolar sendiri  terus cenderung bergerak ke level yang lebih tinggi sehingga mendorong indeks lebih ke atas dan  tertinggi sejak April 2003.

Persepsi yang berkembang bahwa kebijakan Presiden terpilih Donald Trump terhadap ekonomi AS akan mengangkat harga konsumen dan terus mendorong dolar ke tempat yang lebih tinggi.

Sentimen terhadap emas masih tetap bertumbuh setelah mengalami tekanan tajam karena peningkatan besar dalam risk appetite yang terllihat pada rally harga saham AS.

Selain itu, patokan imbal hasil obligasi global juga meningkat dan mengangkat dollar agar bergerak ke atas serta merusak daya tarik logam emas karena tidak memberikan keuntungan investasi.

Tetapi, kendala yang sangat negatif pada surat utang global kemungkinan akan menahan pertumbuhan ekonomi.

Dollar berada pada level tertinggi tiga belas tahun terakhir dan memiliki implikasi yang agak mengerikan bagi pendapatan perusahaan eksportir AS.

Sejak pasca pemilu AS reflation gebrakan terus terjadi dan membuat pedagang mulai mencatat keuntungan pada dolar.

Kondisi mata uang akan menjadi cerminan kebijakan moneter.

Perkiraan, kenaikan suku bunga Fed pada bulan Desember 2016 akan memberikan indikasi bagi percepatan dalam proses normalisasi.

Tetapi, forward guidance dari The Fed masih sangat diperlukan ketika dolar terus “merangsek” bergerak ke atas dan membuat kemungkinan bubble pada obligasi.

Menguatnya dolar akan meningkatkan bunga pembayaran utang dan komoditas seperti emas akan menjadi invetasi safe haven yang dicari ketika pertumbuhan tertahan.

Investor hadapi tekanan harga logam dalam beberapa pekan terakhir seiring data ekonomi AS membaik. Hal itu membuat spekulasi bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve menaikkan suku bunga pada Desember. Ditambah ketidakpastian memudar setelah pemilihan presiden AS.

Beberapa investor pun masuk ke emas seiring aset investasi aman di tengah pasar diliputi gejolak.

“Setelah penurunan delapan persen dari level tertinggi baru-baru ini membuat harga emas menarik di level ini,” ujar Bob Haberkom, Broker RJO Futures

Ia menuturkan, investor akan salah beli emas jika merasa harganya murah. Hal itu lantaran dolar AS terlalu menguat.

Sementara itu, Analis Capital Economics mengatakan, harga logam dapat meningkat seiring pertumbuhan global dan perdagangan proteksionis sehingga mendongkrak harga konsumen.

Emas cenderung menarik minat pelaku pasar selama terjadi inflasi.

Selain itu, ketidakpastian politik di zona Euro pun memicu minat terhadap aset investasi aman termasuk emas.

Italia akan menggelar referendum pada 4 Desember yang dapat goyang pemerintah.

Sedangkan Prancis, Jerman dan Belanda akan gelar pemilihan umum (pemilu) tahun depan.

Sementara itu harga emas PT Aneka Tambang Tbk  atau Antam, Senin pagi WIB, 21 November 2016, tetap bertahan di level harga Rp 590 ribu per gram.

Begitu pula dengan harga pembelian kembali atau buyback  emas Antam tetap di kisaran Rp 519 ribu per gram.

Itu artinya, jika Anda menjual emas yang Anda miliki, maka Antam akan membayar Rp 519 ribu per gram.

Pembayaran buyback dengan volume di atas 1 kilogram  akan dilakukan maksimal dua hari setelah transaksi dengan mengacu pada harga buyback hari transaksi.

Antam menjual emas dengan ukuran mulai 1 gram hingga 500 gram. Hingga menjelang siang WIB, beberapa ukuran emas Antam tidak tersedia antara lain ukuran 2 gram, 3 gram, 25 gram, dan 250 gram.

Komentar