Emas Mengalami Lompatan Harga Tinggi

Penulis: Darmansyah

Senin, 4 September 2017 | 09:19 WIB

Dibaca: 3 kali

Harga emas lokal dan global hari ini, Senin, 04 September,  mencatat kenaikan bersamaan dengan berbagai prospek ekonomi dunia

Untuk emas lokal yang diperdagangkan PT Aneka Tambang atau Antam,  emas ditransaksikan di posisi Rp 618 ribu per gram

Harga ini naik Rp 7.000 dari posisi Rp 611 ribu per gram sebelum liuran panjanh Idhul Adha.

Demikian juga harga pembelian kembali atau buyback emas Antam.

Harga buyback emas Antam berada di posisi Rp 557 ribu per gram.

arga buyback ini juga naik Rp 7.000 dari perdagangan Kamis pekan lalu di kisaran Rp 550 ribu per gram.

Harga buyback ini jika Anda akan menjual emas, Antam akan membelinya di harga Rp 557 ribu per gram.

Hingga pukul 08.25 WIB, harga emas Antam sebagian masih tersedia. Sedangkan ukuran emas Antam 2,5 gram, 50 gram, 100 gram, 250 gram dan 500 gram tidak tersedia.

Pembayaran buyback dengan volume di atas 1 kilogram  akan dilakukan maksimal dua hari setelah transaksi dengan mengacu pada harga buyback hari transaksi.

Harga emas berpotensi menguat selama sepekan mendatang.

Akan tetapi, pergerakan harga emas masuk area jenuh beli dapat mendorong harga emas tertekan meski terbatas.

Analis melihat harga emas ditransaksikan di atas US$ 1.300 pada pekan lalu dapat mendorong harga emas kembali menguat.

Namun, harga emas masuk area jenuh beli sehingga diperkirakan ada tekanan. Namun terbatas lantaran dipengaruhi sejumlah sentimen.

“Risiko politik baik Korea Utara dan limit utang Amerika Serikat serta data tenaga kerja sektor non pertanian membuat dolar Amerika Serikat masih tertekan,” ujar Chief Market Strategist CMC Markets Colin Cieszynski, seperti dikutip dari laman Kitco, Senin, 04 September

Ia menuturkan, harga emas akan bergerak di kisaran US$ 1.300-US$ 1.330 dalam jangka pendek. “Ada potensi reli, tapi secara teknikal sudah jenuh beli,” ujar dia.

Pada pekan ini selain isu politik, kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau the Federal Reserve menjadi fokus pasar.

Hal ini mengingat usai data tenaga kerja non pertanian hanya bertambah seratus lima puluh enam  ribu pada Agustus dari perkiraan ekonom sekitar seratus delapan puluh ribu.

Angka pengangguran juga naik menjadi empat koma empat persen. Selain itu, pertumbuhan upah juga stagnan.

Merespons data ekonomi tersebut, harga emas pun naik ke level tertinggi dalam sebelas bulan di kisaran US$ 1.334. Kemudian harga emas ditransaksikan di kisaran US$ 1.329,40 pada Jumat waktu setempat.

Ekonom CIBC Capital Markets Avery Shenfeld menuturkan, the Federal Reserve perlu melihat data inflasi naik sebelum melanjutkan kenaikan suku bunga. Namun data upah Agustus belum dapat berkontribusi.

Hal senada dikatakan Bart Melek, Kepala Riset TD Securities. Ia melihat bank sentral AS belum akan kembali menaikkan suku bunga hingga akhir tahun. “Bank sentral AS tampaknya tidak agresif apalagi usai data ekonomi di ba

Pada penutuoan perdagangan pekan lalu harga emas melambung usai data tenaga kerja Amerika Serikat   melambat dan tidak ada pertumbuhan gaji.

Sentimen ini menimbulkan spekulasi apakah the Federal Reserve atau bank sentral AS akan menaikkan suku bunga lagi pada 2017.

Hal itu mengingat inflasi masih rendah, termasuk data upah.

Sentimen tersebut mempengaruhi harga emas menjelang akhir pekan ini.

“Data tenaga kerja AS melambat diikuti pertumbuhan upah sehingga mendorong kekhawatiran inflasi rendah,” ujar Rob Haworth, Analis Bancorp Wealth Management seperti dikutip dari laman Marketwatch.

“Menurut kami rebound yang kuat pada inflasi diperlukan sebelum harapan kenaikan suku bunga dan membantu dolar AS membalikkan tren terbaru,” ujar Analis IronFX Charalambos Pissouros.

Ia menambahkan, notulensi pertemuan the Federal Reserve pada Juli menunjukkan kalau pembuat kebijakan memperhatikan inflasi meningkat.

Setelah pertemuan itu, inflasi tetap terjaga. Namun memberikan lebih banyak keraguan mengenai inflasi melambat dapat dikaitkan dengan faktor istimewa.

Sementara itu, indeks dolar AS naik nol koma dua persen. Sebelumnya harga emas tertekan usai laporan data tenaga kerja. Melemahnya dolar AS membuat emas lebih menarik bagi investor menggunakan mata uang lain.

Akan tetapi prospek suku bunga lebih tinggi berdampak lain untuk emas. Kini ada keraguan kenaikan suku bunga cenderung dongkrak harga komoditas logam.

Komentar