Emas Mencatatkan Rekor Harga Tertinggi

Penulis: Darmansyah

Jumat, 8 September 2017 | 08:31 WIB

Dibaca: 0 kali

Setelah mengalami penurunan selama satu hari, hari ini, Jumat, 08 September, harga emas kembali mencatat kenaikan lewat harga tertinggi selama setahunj terakhir.

Harga ini adalah rekor yang dicapai oleh harga emas setelah pada perdagangan Kamis kemarin terjadi pelemahan mata uang dolar.

Kenaikan harga emas itu menandakan penutupan tertinggi selama setahun menyusul mata uang euro menguat terhadap dolar.

Itu semua merupakan imbas dari pertemuan para petinggi Bank Sentral Eropa.

Bank Sentral Eropa berencana untuk kembali meluncurkan program stimulus fiskal mereka.

Seperti ditulis “marketwatch,” Jumat pagi WIB, emas untuk kontrak Desember naik hampir satu persen per ounce

Sehari sebelumnya harga emas sempat turun hampir setengah persen

Untuk Anda tahu, harga hari ini adalah yang tertinggi sejak 6 September 2016 lalu, untuk kontrak yang paling aktif, menurut FactSet Data.

Euro menguat terhadap dolar menyusul keputusan dari Bank Sentral Eropa untuk tidak mengubah suku bunganya.

Pada konferensi persnya, Kepala Bank Sentral Eropa Mario Draghi mengindikasikan stimulus akan dilakukan pada Oktober.

“Draghi enggan untuk menguraikan bulan, tanggal dan kecepatan proses program itu,” kata Naeem Aslam, analis pasar utama di ThinkMarkets

Pasar emas dipengaruhi dolar yang melemah usai muncul komentar resmi Federal Reserve tentang inflasi AS yang rendah.

Dolar mencapai titik terendah satu minggu melawan yen Jepang dan berada di jalur penurunan terbesar dalam delapan hari terhadap sekeranjang mata uang.

Harga emas juga dibayangi kesepakatan Korea Selatan dengan Amerika Serikat untuk merespons ancaman dari Korea Utara setelah Pyongyang melakukan uji coba nuklir terbesar untuk keenam kalinya, dua hari lalu.

“Emas masih menuai permintaan sebagai safe haven,” kata Commerzbank
dalam sebuah catatan.

Sebagian besar menguatnya harga emas baru-baru ini dikaitkan dengan
ketidakpastian geopolitik yang telah dipicu kejadian di semenanjung Korea.

Namun, Goldman Sachs mengatakan bahwa peristiwa di Washington selama dua bulan terakhir, memainkan peran yang jauh lebih besar dalam laju harga emas baru-baru ini diikuti oleh melemahnya dolar.

Sebelumnya harga emas memang sudah diprediksi akan menguat selama pekan ini

Akan tetapi, di awal  pergerakan harga emas masuk area jenuh beli dapat mendorong harga emas tertekan meski terbatas.

Analis melihat harga emas ditransaksikan di atas US$ 1.300 pada pekan lalu dapat mendorong harga emas kembali menguat.

Namun, harga emas masuk area jenuh beli sehingga diperkirakan ada tekanan. Namun terbatas lantaran dipengaruhi sejumlah sentimen.

“Risiko politik baik Korea Utara dan limit utang Amerika Serikat serta data tenaga kerja sektor non pertanian membuat dolar Amerika Serikat masih tertekan,” ujar Chief Market Strategist CMC Markets Colin Cieszynski, seperti dikutip dari laman Kitco

Ia menuturkan, harga emas akan bergerak di kisaran US$ 1.300-US$ 1.330 dalam jangka pendek. “Ada potensi reli, tapi secara teknikal sudah jenuh beli,” ujar dia.

Pada pekan ini selain isu politik, kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau the Federal Reserve menjadi fokus pasar.

Hal ini mengingat usai data tenaga kerja non pertanian hanya bertambah 156 ribu pada Agustus dari perkiraan ekonom sekitar 180 ribu. Angka pengangguran juga naik menjadi 4,4 persen. Selain itu, pertumbuhan upah juga stagnan.

Ekonom CIBC Capital Markets Avery Shenfeld menuturkan, the Federal Reserve perlu melihat data inflasi naik sebelum melanjutkan kenaikan suku bunga.

Namun data upah Agustus belum dapat berkontribusi.

Hal senada dikatakan Bart Melek, Kepala Riset TD Securities. Ia melihat bank sentral AS belum akan kembali menaikkan suku bunga hingga akhir tahun.

“Bank sentral AS tampaknya tidak agresif apalagi usai data ekonomi di bawah harapan,” kata dia

Komentar