Emas Melonjak Usai Ketegangan di Korea

Penulis: Darmansyah

Kamis, 10 Agustus 2017 | 08:45 WIB

Dibaca: 0 kali

Harga emas global hari ini, Kamis, 10 Agustus, melonjak karena dipicu oleh kecamasan terjadi “perang” di Korea akibat ngototnya Korea Utara yang terus mengembangkan senjata kimia dan dikecam  keras Presiden Amerika Serikat  Donald Trump

Harga emas untuk pengiriman Desember naik tinggi, lebih dari satu persen. Atau pasnya satu koma tiga persen.

Dan ini merupakan kenaikan u terbesar sejak pertengahan  Mei.

Ancaman terbaru Korea Utara untuk melancarkan serangan rudal ke AS, telah meningkatkan aksi beli di pasar keuangan global.

Pernyataan Korea Utara itu mengikuti pernyataan Presiden AS Donald Trump yang akan melakukan tindakan seiring sikap Korea Utara yang mengancam.

“Ini benar-benar emas sebagai aset safe haven,” ujar Ross Norman, Chief Executive Officer Sharps Pixley Ltd, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Kamis, 10 Agustus.

Norman menuturkan, kalau harga emas perlu bergerak di atas US$ 1.295 per ounce agar meyakinkan kalau harga emas itu telah memasuki fase penguatan yang signifikan.

“Saya selalu curiga terhadap pergerakan harga emas seperti ini karena isu menyebabkan ketegangan politik antara Korea Utara dan AS jarang bertahan,” ujar dia.

Sementara itu, indeks dolar AS cenderung bergerak mendatar

Dolar AS mendatar itu seiring sentimen harga komoditas menguat. Adapun aset investasi cenderung aman bergerak menguat.

Aset investasi itu mulai dari surat berharga dan mata uang franc Swiss.

Selain masalah Korea, harga emas naik juga karena dipicu oleh kekhawatiran suku bunga AS.

Harga emas dipengaruhi dolar juga naik karena investor konsolidasi sebelum data inflasi keluar pekan ini yang menjadi sinyal turnaround Dolar di tahun ini.

Biasanya melemahnya dolar AS mendukung harga komoditas seperti emas. Sebab pelemahan greenback, menurunkan biaya pembelian emas di luar Amerika Serikat.

Di sisi lain, investor juga tetap mewaspadai data pekerjaan yang tak terduga menguat pada hari Jumat lalu.

“Kami pikir laporan pekerjaan cukup baik bagi Fed tapi pasar tetap skeptis bahwa akan ada kenaikan tarif di tahun ini, “kata Rob Haworth, Senior Strategi Investasi Bank Wealth Management.

Dalam minggu mendatang, harga emas bisa mendapatkan dorongan jika AS memilih untuk meningkatkan pengurangan plafon utang, tanpa menghubungkan ke belanja atau pajak, menurut Analis ICBC Standard Bank, Tom Kendall.

Masalah tenaga kerja di Amerika Serikat juga ikut memengaruhi harga emas.

Pelaku pasar juga bertaruh kalau data tenaga kerja AS itu akan membuat the Federal Reserve atau bank sentral AS menaikkan suku bunga pada akhir tahun

Kenaikan suku bunga itu juga tanpa melihat inflasi dan upah.

“Laporan data tenaga kerja AS kemungkinan sedikit mengubah posisi the Federal Reserve soal suku bunga. Namun dolar AS segera sambut sentimen positif dari data tenaga kerja AS,” kata Craig Erlam, Analis Senior Oanda, seperti dikutip dari laman Marketwatch.

Di bursa saham AS juga mencatatkan rekor imbas penguatan data tenaga kerja AS. Investor beralih dari emas ke aset investasi berisiko.

Komentar