Emas Masih Bertahan di Harga Tertingginya

Penulis: Darmansyah

Selasa, 12 September 2017 | 09:14 WIB

Dibaca: 0 kali

Harga emas turun lebih dari satu persen usai menyentuh level tertinggi dalam tiga belas bulan terakhir usai  Korea Utara  menghentikan  uji coba rudalnya  dan  mengangkat saham global, dolar AS, dan imbal hasil obligasi

Semua itu  berdampak ke harga emas.

Seperti ditulis laman kantor berita “reuter,” hari ini, Selasa, 12 September, harga emas di pasar Spot turun

Pada hari Jumat, emas menyentuh  posisi tertinggi sejak Agustus tahun lalu.

Sementara harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember juga turun untuk  ouncenya.

Permintaan untuk aset termasuk emas melemah, juga setelah ternyata Badai Irma menimbulkan sedikit kerusakan di Florida daripada yang dikhawatirkan sebelumnya.

Harga emas telah melaju satu koma enam persen minggu lalu karena kekhawatiran peluncuran rudal Korea Utara dan dampak badai Irma secara ekonomi, mendorong dolar melemah sejak Januari dua tahun silam.

Bahkan imbal hasil obligasi AS mencapai level terendah sepuluh bulan.

“Kedua peristiwa ini gagal terwujud secara besar-besaran. Tahap jangka pendek akan ada beberapa konsolidasi dengan harga emas. Banyak tergantung di mana dolar dan obligasi,” kata Analis Saxo Bank Ole Hansen.

Memang, penguatan dolar membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya dan berpotensi mengurangi permintaan.

“Draghi tidak menyebut penguatan euro sebagai rem normalisasi kebijakan. Inilah yang memicu reli  laju Euro dan reaksi harga emas,” ujar Ole Hansen.

Di Jackson Hole, Ketua Federal Reserve AS Janet Yellen juga tidak memberikan acuan tentang kebijakan moneter AS, namun berfokus pada peraturan keuangan.

Pedagang mengharapkan kenaikan suku bunga akan lebih lambat.

“Saya pikir itu mungkin membuat investor lebih nyaman. Kemudian soal inflasi juga membuat keraguan apakah The Fed akan menaikkan suku bunga, “kata Ryan McKay dari TD Securities.

Sebelumnya harga emas sempat melemah usai pemerintah Amerika Serikat  dan anggota kongres AS mencapai kesepakatan untuk memperpanjang tenggat waktu batas utang pemerintah AS.

Presiden AS Donald Trump dan kongres sepakat untuk memperpanjang batas utang dan anggaran pemerintah hingga 15 Desember.

“Perkembangan itu memudahkan tekanan ke harga emas dalam waktu dekat, tetapi dampaknya terhadap jangka panjang kecil,” ujar Nico Pantelis, Kepala Riset Secular Investor, seperti dikutip dari laman

Sementara itu pergerakan indeks dolar AS tak pengaruhi pergerakan harga emas. Indeks dolar AS berada di kisaran sembilan puluh dua koma sebelas.

Biasanya dolar AS berbanding terbalik dengan harga emas.

Menjelang sesi terakhir perdagangan, respons pasar terhadap prospek kenaikan suku bunga the Federal Reserve melambat telah bebani dolar AS dan mengangkat harga emas.

Ini lantaran pernyataan pejabat bank sentral AS soal suku bunga. Pimpinan the Federal Reserve Dallas Robert Kaplan mengatakan, kalau the Federal Reserve mampu bersabar karena inflasi rendah.

Pimpinan the Federal Reserve lainnya Brainard mengatakan kalau bank sentral harus memperlambat laju kenaikan suku bunga mengingat data inflasi yang rendah.

Sedangkan pejabat the Federal Reserve lainnya yaitu Neel Kashkari mengatakan, kalau kenaikan suku bunga memungkinkan meski berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Kumpulan komentar ini akan membuat data indeks harga konsumen menjadi perhatian selanjutnya.’

“ Data itu keluar pada 14 September. Yang lebih penting lagi dipikirkan yaitu meningkatkan pandangan kalau inflasi menjadi penentu utama apakah the Federal Reserve akan melanjutkan kenaikan suku bunga lainnya,” ujar Charalambos Pissouros, Analis IronFX Global, seperti dikutip dari laman Markjetwatch.

 

Komentar