Emas Lokal dan Global Ada Diposisi Statis

Penulis: Darmansyah

Senin, 13 Agustus 2018 | 09:58 WIB

Dibaca: 0 kali

Hari ini, Senin, harga emas PT Aneka Tambang Tbk  atau Antam tetap di angka Rp 645 ribu per gram sama seperti pada perdagangan Jumat minggu lalu

Adapun untuk harga pembelian kembali atau buyback emas Antam juga tetap di Rp 561 ribu per gram. Harga buyback ini adalah jika Anda menjual emas, Antam akan membelinya di harga Rp 561 ribu per gram.

Antam menjual emas dengan ukuran mulai satu gram hingga 500 gram. Hingga menjelang siang  WIB, sebagian besar ukuran emas Antam masih tersedia.

Sementara itu harga emas dunia juga belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitannya.

Pekan lalu emas kembali melemah dan mencatat gerakan mendatar dalam perdagangan di Comex Merchantil Exchange, New York.

Seperti ditulis laman media keuangan terkenal “Bloomberg,” Jumat pagi WIB, harga emas bergerak mendatar seiring penguatan dolar yang membebani momentum kenaikan logam mulia ini.

Meskipun demikian, harga emas sempat mengambil peluang dari kestabilan mata uang China, yuan.

Pasar spot mencatat harga emas mendatar ke posisi stabilnya.

dapun emas berjangka AS untuk pengiriman bulan Desember turun nol koma satu persen  per ounce.

“Kami masih berpikir emas akan bergerak lebih tinggi di babak kedua karena dolar yang sedikit melemah.”

“ Pemerintah China mencoba untuk menghentikan yuan dari pelemahannya, dan kita akan memiliki lebih banyak kekhawatiran atas perdagangan,” kata analis Bank of America-Merrill LynchMichael Widmer.

Emas sangat berkorelasi dengan yuan dalam beberapa tahun terakhir.

Selama berminggu-minggu, mata uang Cina ini bertindak sebagai proxy di tengah kekhawatiran tentang ketegangan perdagangan AS-Cina.

Kini dolar tercatat menguat terhadap sekeranjang mata uang utama dipicu memudarnya ketegangan geopolitik.

Dolar yang kuat membuat harga emas lebih mahal untuk investor non-AS. “Saat ini, emas dalam pola bertahan sampai Anda mendapatkan lebih banyak data,” kata Josh Graves, Ahli Komoditas Senior RJO Futures.

Saat ini, emas gagal mengambil manfaat dari meningkatnya ketegangan geopolitik di tahun ini. Investor lebih memilih pengamanan investasi seperti keamanan dolar ketimbang emas.

Ketegangan yang dimaksud terkait rencana China akan mengenakan tarif impor balasan sebesar dua puluh lima persen atas impor senilai enam belas miliar dollar terhadap AS.

Di sisi lain, Washington mengatakan akan memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia terkait masalah agen.

Apalagi, Federal Reserve juga telah menaikkan suku bunga AS dua kali pada tahun ini dan menargetkan dua kenaikan lagi.

Tingkat suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan dolar dan imbal hasil treasury, yang menambah tekanan pada emas.

Sementara itu pasar juga mencatat harga emas berjangka menguat seiring olar Amerika Serikat  dan imbal hasil obligasi pemerintah melemah.

Hal tersebut memberikan dukungan untuk harga emas.

“Harga emas lebih tinggi untuk hari kedua karena ketegangan perdagangan antara AS dan China meningkat dan reli dolar AS mulai mereda,” ujar Kepala Riset Saxo Bank, Ole Hansen, seperti dikutip dari laman Marketwatch.

Dolar AS yang lebih kuat dapat membuat komoditas logam yang dipatok dolar AS kurang menarik bagi pembeli.

“Dolar AS yang kuat akhirnya melemah terhadap yuan China. Kini fokus terhadap kenaikan suku bunga AS, dan bursa saham AS yang menguat. Serta kurangnya tekanan inflasi mengurangi daya tarik emas sebagai safe haven.”

“ Perubahan dalam jangka pendek terjadi terhadap dolar AS sehingga membawa risiko turun,” tambah Hansen.

Komentar