Emas Kembali Jatuh ke Harga Terendahnya

Penulis: Darmansyah

Rabu, 16 Mei 2018 | 08:14 WIB

Dibaca: 1 kali

Harga emas global hari ini, Rabu, 16 Mei, kembali mengalami tekanan usai data ekonomi Amerika Serikat  menguat.

Sentimen itu juga dorong imbal hasil obligasi AS bertenor sepuluh tahun melompat ke level tertinggi dalam tujuh tahun.

Faktor tersebut mendorong harga emas turun ke bawah posisi USD 1.300, sebuah  level terendah selama setahun ini

Selain itu, harga emas juga membukukan kerugian keenam dalam tujuh sesi seiring laporan-laporan itu menunjukkan penjualan di ritel AS naik pada April.

Hal ini menambah bukti ekonomi melaju usai melambat pada awal tahun.

“Kebanyakan berita positif secara data ekonomi. Semuanya menekan harga emas. Penjualan ritel, jumlah empire state yang baik menambah harapan kenaikan suku bunga padatahun ini”

“Dorong kenaikan suku bunga dalam jangka pendek mendorong dolar AS menguat,”kata Jeff Wright, Wakil Presiden Eksekutif Gold Mining Inc, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Rabu pagi WIB

Harga emas untuk pengiriman Juni juga  turun  sebesar dua koma satu  persen Posisi harga emas itu merupakan level terendah sejak akhir Desember.

“Yang penting harga emas di bawah level utama USD 1.300. Penurunan di bawah level itu memicu sejumlah aksi jual berhenti dalam jangka pendek untuk dorong harga masih rendah,” kata Analis Kitco Jim Wyckoff.

Sementara itu, indeks dolar AS naik nol koma tujuh persen

Indeks dolar AS naik dalam dua hari berturut-turut. Imbal hasil obligasi AS bertenor sepuluh tahun mencapai level tertinggi sejak tujuh tahun silam.

Imbal hasil obligasi AS bertenor sepuluh tahun naik delapan koma sembilan basis poin

“Secara pribadi saya sangat terkejut harga emas tekanannya tidak banyak. Seiring harga saham dan dolar AS menguat, mengapa emas tidak seratus dollar  lebih rendah, bahkan dengan ada sentiment pertemuan dua Korea,” ujar Jason Rotman.

Di sisi lain, Presiden The Federal Reserve San Francisco, John Williams menuturkan, pihaknya mendukung target the Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga secara bertahap antara tiga hingga empat kali pada tahun ini.

Di pasar logam lainnya, harga perak susut dua koma tiga persen  Harga tembaga melemah satu koma dua  persen

Sehari sebelumnya, Selasa, 15 Mei, harga emas juga tergelincir.

Namun begitu, pelemahan harga emas tidak terlalu dalam karena investor tengah menunggu data-data ekonomi AS.

Seperti ditulis laman ekonomi dan keuangan “bloomberg,” Selasa pagi WIB, , harga emas di pasar spot turun nol koma tiga  persen per ounce pada perdagangan tengah malam waktu London dan  menghapus keuntungan sebelumnya setelah dolar AS bergerak menguat.

Sedangkan untuk harga emas berjangka AS untuk pengiriman Juni  juga turun  nol koma dua persen per ounce.

Nilai tukar dolar AS naik pada perdagangan Senin dan menghapus kerugian yang telah dicetak sebelumnya.

Pelemahan dolar AS sebelumnya terjadi karena investor mempertanyakan apakah dolar AS akan kembali reli seperti yang terjadi apda pekan sebelumnya.

“Harga emas memang sangat sensitif terhadap nilai tukar dolar AS,” jelas analis senior RJO Futures, John Caruso.

Kenaikan dolar AS membuat emas yang merupakan komoditas yang diperjualbelikan menggunakan dolar AS lebih mahal bagi mereka yang bertransaksi menggunakan mata uang lainnya.

“Kami melihat banyak aksi yang akan mempengaruhi harga emas pada pekan ini,” lanjut Caruso.

Salah satunya adalah angka penjualan ritel AS yang bisa menunjukkan tingkat penguatan ekonomi sehingga membantu Bank Sentral AS untuk menentukan arah kebijakan suku bunga acuan.

Jika angka ekonomi tersebut membaik tentu saja akan menjadi sinyal bagi bank sentral AS untuk mendorong kenaikkan suku bunga.

Jika suku bunga naik akan menajdi pemberat gerak emas.

Pada penutupan pekan lalu, harga emas juga melemah karena dipengaruhi pergerakan dolar AS. Namun ditutup menguat selama sepekan.

Selama sepekan, harga emas naik nol koma lima persen, dan menandai kenaikan mingguan pertama dalam satu bulan.

Harga emas mempertahankan kenaikan moderatnya usai laporan menunjukkan kenaikan taham impor pada April.

Ini mendorong spekulasi ada sedikit risiko inflasi yang lebih tinggi. Hal tersebut dapat mempengaruhi keputusan suku bunga bank sentral AS atau the Federal Reserve.

Komentar