Emas Kembali Lakukan Lompatan Harga

Penulis: Darmansyah

Kamis, 10 November 2016 | 10:57 WIB

Dibaca: 0 kali

Harga emas lokal dan global hari nini, Kamis, 10 November 2016, mengalami kenaikan bersamaan dengan berakhirnya pesta pemilihan Presiden Amerika serikat.

Di pasar lokal, harga emas PT Aneka Tambang Tbk atau Antam, melakukan lompatan besar dengan kenaikan  Rp 5.000  per gram dan berada di posisi  Rp 605 ribu per gram

Hari  Rabu kemarin, harga emas Antam berada di angka Rp 600 ribu per gram

Sementara harga pembelian kembali atau buyback emas Antam juga turun Rp 5.000 menjadi Rp 537 ribu per gram.

Itu artinya, jika Anda menjual emas yang Anda miliki, maka Antam akan membayar Rp 537 ribu per gram.

Di pasar global, harga emas diproyeksi meningkat seiring dengan terpilihnya Presiden Amerika Serikat  Donald Trump.

Lantaran terpilihnya Donald Trump dianggap sebagai sesuatu yang tidak terduga seperti halnya Inggris yang keluar dari Uni Eropa atau disebut Brexit. Katalis itu menimbulkan ketidakpastian pasar.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, harga emas juga berpeluang kembali menguat apabila The Federal Reserve  menunda kenaikan suku bunga.

Ketidakpastian pasar membuat para investor mencari instrumen investasi yang aman untuk menempatkan dananya.

“Habis ini pasar fokus ke kenaikan suku bunga. Orang banyak menganggap kalau Republik menguasai pemerintah, parlemen itu bisa jadi The Fed akan menunda kenaikan suku bunga. Itu mendorong kenaikan emas ke depan,” jelas dia.

Dia mengatakan, jika hal tersebut terjadi maka harga emas diperkirakan menyentuh kisaran US$ 1.300 sampai US$ 1.350 per ounce sampai akhir tahun.

“Sekarang kesempatan emas US$ 1.300-US$ 1.350 per ounce, kalau The Fed benar-benar tidak jadi menaikan suku bunga. Komoditas melesat lagi menuju area US$ 1.350,” ungkap dia.

Sebaliknya, jika The Fed menaikan suku bunga maka harga emas cenderung stabil. Lantaran pasar menginginkan kenaikan suku bunga segera terealisasi.

“Sekarang ekspektasi pasar memang akan naik, berarti sesuai akan stabil di US$ 1.300 sekitara angka US$ 1290-an per ounce. Tidak ada yang mengejutkan itu,” tutur dia.

Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS akan mendukung pergerakan emas karena ada potensi defisit anggaran akan menjadi lebih besar, peningkatan proteksionisme perdagangan, shake-up di Federal Reserve dan inflasi.

Kebijakan Trump adalah inflasi. Pasar akan melihat bahwa harga akan tertekan meskipun harga nominal akan lebih tinggi.

Kenaikan suku bunga AS akan menjadi perhatian pasar pada pertemuan FOMC di bulan Desember.

Tidak ada yang benar-benar yakin, kebijakan ekonomi mana yang mungkin akan dilaksanakan. Volatilitas pasar cenderung akan bertahan dengan kemungkinan ada perubahan di pucuk pimpinan The Fed.

Jadi sementara ini, harga emas bereaksi terhadap rebound di pasar saham, dolar dan jatuhnya pergerakan obligasi. Ketidakpastian dan inflasi akan menjadi dasar pengambilan keputusan untuk investasi safe haven.

Investor cenderung akan “off-balance” untuk beberapa waktu, yang dapat menyebabkan pasar bergerak tak menentu.

Namun, jatuhnya harga emas akan memberikan kesempatan yang besar untuk mendapatkan harga yang wajar menjelang tutup buku di akhir tahun 2016.

Komentar