Emas Kembali Ditendang Penguatan Dollar

Penulis: Darmansyah

Kamis, 15 Maret 2018 | 09:11 WIB

Dibaca: 3 kali

Setelah sehari sebelumnya sempat menggeliat, hari ini, Kamis, 15 Maret, emas global kembali mengalami tekanan karena menguatnya nilai tukar dollar terhadap segepok mata uang dunia lainnya.

Seperti dicatatkan oleh laman “bloomberg,” pagi ini, Kamis WIB, harga emas untuk pengiriman April susut nol koma satu persen untuk tiap  ounce.

Pada perdagangan Rabu kemarin, harga emas sempat naik setengah persen  dan merupakan penguatan terbesar sejak awal Maret.

Selain itu, dolar AS juga menekan harga emas meski data ekonomi menunjukkan inflasi naik nol koma dua persen.

Penjualan ritel turun pada Februari. Indeks dolar AS naik tipis. Sepanjanbg Maret, indeks dolar AS malah melemah satu persen.

“Dengan kekhawatiran seputar aksi proteksi dagang AS dan drama politik membuat investor terdesak, emas bisa kembali bangkit,” ujar Lukman Otunuga, Analis FXTM, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Kamis pagi WIB

Ia menambahkan, harga emas bisa naik dalam jangka menengah hingga panjang. Namun, harapan kenaikan suku bunga lebih tinggi cenderung memberi tekanan buat pergerakan harga logam termasuk emas.

“Dalam jangka pendek investor bisa ambil untung dari ketidakpastian,” ujar dia.

Pada data awal pekan ini menunjukkan, inflasi cenderung melambat.

Kenaikan inflasi bisa menambah tekanan untuk the Federal Reserve atau bank sentral AS mempercepat kenaikan suku bunga sehingga mengangkat dolar AS.

Kemudian dapat menekan pasar saham dan emas. Di sisi lain, ada permintaan lindung nilai terhadap inflasi sehingga menguntungkan emas.

“Emas dapat menjadi safe haven jika pasar saham mendapat tekanan lagi, dan dolar AS kembali turun jika terjadi pembalasan terhadap kebijakan proteksi Trump,” kata Analis Forex, Fawad Razaqzada.

Ia menambahkan, pergerakan harga emas dalam jangka pendek tergantung proyeksi inflasi dan kenaikan suku bunga the Federal Reserve pada pekan depan.

Sentimen lainnya, harga emas acuan London sentuh posisi US$ 1.000 per ounce untuk pertama kali pada 14 Maret

Jadi sudah sepuluh tahun harga emas menyentuh posisi US$ 1.000. Harga emas sempat di atas itu dalam perdagangan dua hari lalu.

Kemarin, setelah tersungkur oleh penguatan dollar dan kenaikan suku “the fed,” di awal pekan, harga emas global mengalami penguatan karena terdorong oleh  berita pergantian Menteri Luar Negeri  AS, Rex Tillerson.

Seperti ditulis laman ekonomi dan bisnis “bloomberg,” pagi ini, Rabu,  harga emas di pasar spot mendaki nol koma tiga  persen per ounce.

Sementara harga emas berjangka AS untuk pengiriman April melesat setengah  persen .

Di perdagangan sebelumnya, harga emas di pasar spot tertekan nol koma dua persen dan harga emas berjangka untuk pengiriman yang sama turun dengan persentase yang sama pula

Kenaikan harga emas ini terjadi setelah Trump menunjuk Direktur CIA, Mike Pompeo sebagai Menlu AS yang baru, menggantikan Tillerson. Tillerson dipecat Trump karena alasan tidak sepaham lagi.

“Dolar melemah dan harga emas naik menyusul berita (pergantian) Tillerson. Kami telah melihat pola ini, karena tidak ada faktor kuat lainnya yang menyebabkan pembelian emas sekarang,” kata Pendiri Logic Advisors, Bill O’Neill.

Indeks dolar AS terhadap mata uang utama jatuh, sehingga membuat beberapa harga komoditas lebih murah, termasuk emas.

Sementara data inflasi AS masih sejalan dengan perkiraan, dan kenaikan suku bunga acuan cenderung bertahap.

Selain harga emas, harga perak juga diperdagangkan mendaki lebih setengah  persen

Sedangkan harga platinum terkeren naik nol koma empat persen  mendekati harga tertinggi satu pekan .

Beberapa investor mengkhawatirkan inflasi lebih kuat dari prediksi dan dapat memicu rencana kenaikan suku bunga acuan lebih banyak, yakni sebanyak empat kali di tahun ini dibanding perkiraan sebelumnya tiga kali.

“Mendekati pertemuan The Fed atau FOMC minggu depan, kami melihat harga emas akan berada di bawah tekanan,” ujar Ahli Strategi Komoditas di TD Securities, Daniel Ghali.

Kemarin harga emas global masih  mengalami tekanan bersamaan dengan penguatan nilai tukar dollar dan para pelaku pasar optimis aka nada kenaikan suku bunga dari Bank Sentral Amerika serikat atau The Fed.

Komentar