Emas Kembali Ambruk dan Dollar Menguat

Penulis: Darmansyah

Rabu, 10 Januari 2018 | 08:02 WIB

Dibaca: 1 kali

Harga emas dunia, terutama di Comex Merchantil Exchange, New York, selama dua hari terakhir mengalami tekanan kuat bersamaan dengan makin perkasanya dollar terhadap mata uang asing.

Harga emas sejak Senin terus turun .

Hari ini, Rabu, 10 Januari, harga emas kembali turun tipis  karena terbebani oleh penguatan dolar Amerika Serikat  dan kekhawatiran akan ketidakpastian politik di Eropa.

Selain itu, bursa saham yang terus positif juga menekan harga emas.

Sementara, harga paladium mencatatkan rekor tertinggi sepanjang Januari didorong oleh kenaikan permintaan dari industri otomotif.

Seperti di tulis laman “Bloomberg,” pagi ini, Rabu WIB, harga emas di pasar spot turun nol koma enam  persen per ounce

Pada pekan lalu, harga emas sempat menyentuh level tertinggi

Sedangkan harga emas berjangka AS untuk pengiriman Februari  juga turun setengah  persen  per ounce.

Untuk paladium diperdagangkan naik tipis nol koma satu persen per ounce setelah menyentuh rekor baru tertinggi kamerin.

Nilai tukar dolar AS naik nol koma dua  persen terhadap kesepanjang mata uang utama lainnya pada perdagangan Selasa waktu New York

Kenaikan dolar AS tersebut membuat harga komoditas menjadi mahal bagi investor yang melakukan transaksi dengan mata uang lainnya.

“Dolar AS telah bangkit kembali karena pelemahan euro,” jelas Jonathan Butler, analis komoditas Mitsubishi di London.

Selain itu, reli di pasar saham juga menekan harga emas. “Semua sentimen tersebut membuat harga emas sedikit goyah pada pekan ini,” tambah dia.

Kemarin, Selasa,  09 Januari, harga emas juga mengalami penurunan dan menjauh dari level tertingginya dalam tiga setengah bulan terakhir

Selain itu, harga emas juga dipengaruhi para pedagang yang bertaruh pada kenaikan suku bunga AS usai keluarnya data gaji pada Jum’at pekan lalu.

Seperti ditulis di laman “bloomberg,”  pagi ini WIB,  harga emas di pasar spot turun nol koma satu  persen  per ounce. Sementara emas berjangka AS untuk bulan Februari  juga turun dengan angka yang sama.

“Emas telah mengikuti dolar selama ini meski berat. Kami mengamati dolar dipengaruhi defisit. Defisit yang lebih tinggi, seiring pemangkasan pajak akan membuat dolar lebih lemah, jadi ada ruang untuk emas,” kata Rob Haworth, Ahli Investasi Senior Bank Wealth Management AS.

Dolar tercatat masih melemah usai mencatat penurunan tahunan terbesar sejak lima belas tahun silam.

Hal ini membantu mengangkat aset dalam mata uang AS.

Harga emas pada pekan lalu mencatat kenaikan mingguan keempat berturut-turut untuk pertama kalinya sejak April.

Adapun dolar menguat setengah persen terhadap euro pada Senin ini. Ini usai keluarnya data gaji di AS, dan para investor yang tetap bertaruh jika Federal Reserve akan menaikkan suku bunga AS setidaknya dua kali pada tahun ini.

Harga emas memang sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga AS, yang meningkatkan peluang terjadinya kenaikan bullion karena tak memberikan imbal hasil.

Sementara pelaku pasar masih sedang menunggu data Indeks Harga Konsumen AS pada akhir pekan ini, yang diperkirakan akan menunjukkan kenaikan inflasi sebesar nol koma dua persen pada Desember setelah naik nol koma satu persen di bulan November.

Adapun untuk harga logam mulia lainnya, seperti perak juga turun nol koma tujuh persen  per ounce, setelah mencapai titik tertinggi dalam satu setengah bulan terakhir  .

Komentar