Emas Global Naik di Atas Satu Persen

Penulis: Darmansyah

Kamis, 11 Agustus 2016 | 08:26 WIB

Dibaca: 0 kali

Hari ini, Kamis, 11 Agustus 2016, harga emas global yang diperdagangkan di Comex Exchange New York, mencatat kenaikan lebih dari satu persen sebagai jawaban atas melempemnya kebijakan The Federal, atau Bank Sentral Amerika Serikat, dalam mengambil keputusan kenaikan suku bunga.

”Dollar kembali melemah dan emas pesta dengan harga yang lebih tinggi,” tulis laman situs “bloomberg,” Kamis pagi WIB, 11 Agustus 2016.

Kenaikan ini, masih menurut “bloomberg,”  terjadi lantaran harapan lebih rendah untuk kenaikan suku bunga acuan AS setelah data ekonomi lebih lemah.

Di pasar spot, harga emas naik satu koma satu persen per ounce usai menguat  pada sesi sebelumnya

“Tren keseluruhan adalah positif untuk logam platinum. Ada pemogokan tambang dan masalah serikat buruh di Afrika Selatan mendukung harga platinum dan paladium,” ujar trader di Hong Kong seperti dikutip dari laman Reuters

Kenaikan harga emas terjadi setelah laporan produktivitas pekerja Amerika Serikat jatuh secara kuartal tiga kali terturut-turut.

Dengan penurunan tak terduga itu mengkonfirmasi kekhawatiran bank sentral AS atau the Federal Reserve kalau ekonomi tumbuh melambat.

Hal ini dapat mengurangi kesediaan the Federal Reserve untuk naikkan suku bunga.

“Ini adalah perdagangan tanpa tren. Dengan dolar AS yang jatuh pelaku pasar akan melihat kenaikan jangka pendek untuk harga emas dan perak,” ujar Jiang Shu, Analis Shandong Gold Group.

Adapun indeks dolar Amerika Serikat  terhadap sejumlah mata uang utama turun

Dengan makin moncrengnya harga emas di pasar global para investor kini berlomba menjadikan komoditi ini sebagai pilihan utama investasinya.

Seperti diungkapkan laman situs  investopedia.com, pilihan terhadap emas dimungkinkan oleh nilai sejarah yang kuat terhadap komoditi ini.

Berbeda dengan uang, koin atau aset dalam bentuk lain, emas merupakan salah satu instrumen investasi yang bisa mempertahankan nilainya selama bertahun-tahun.

Sejak jaman dahulu kala, orang-orang menganggap emas sebagai alat untuk menyimpan dan menjaga kekayaannya.

Selain faktor sejarah, pelemahan dollar juga menjadi pemicunya Seperti Anda tahu dolar AS merupakan mata uang paling berpengaruh di dunia.

Namun ketika mata uang ini melemah seperti layaknya terjadi di delapan belas dan delapan tahun silam, orang akhirnya beralih untuk mencari instrumen investasi yang lebih aman.

Emas menjadi pilihan banyak diambil orang.

Emas telah lama diketahui memiliki nilai lindung yang sangat baik terhadap inflasi.

Hal ini dikarenakan harga emas yang cenderung meningkat ketika biaya hidup meningkat.

Selama lima puluh tahun terakhir investor telah melihat harga emas melambung di tengah jatuhnya pasar saham selama akibat inflasi yang tinggi.

Faktor deflasi juga merupakan alasan orang memburu emas. Deflasi merupakan periode dimana harga menurun, aktivitas bisnis melambat dan ekonomi terbebani akibat utang yang banyak.

Hal ini belum pernah terjadi lagi sejak Great Depression di tahun sembilan tiga puluhan. Di masa itu, harga emas tetap stabil ketika harga lain justru menukik rendah dengan tajam.

Emas juga bisa mempertahankan nilainya di tengah ketidakstabilan kondisi geopolitik di suatu negara. Di masa ini, banyak orang yang akan keluar dari negara tersebut.

Alhasil, hal itu pun akan berpengaruh terhadap keadaan ekonomi dan nilai investasi.

Namun emas tetap bisa mempertahankan nilai yang dimiliki. Ini terlihat dari kondisi krisis yang tengah dialami Uni Eropa beberapa hari lalu.

Selain faktor di atas, penurunan produksi emas juga menjadi alasan para investor.

Data yang didapat mengungkapkan bahwa jumlah produksi emas tahunan dunia turun  sejak sembilan tahun silam.

Ini berkebalikan dengan jumlah permintaan yang terus meningkat. Alhasil, harga emas pun meningkat.

Emas telah banyak dikenal sebagai instrument yang memiliki korelasi negatif dengan investasi lain seperti saham dan keuangan.

Hal ini menjadikan emas sebagai instrumen diversifikasi harta yang baik

Komentar