Emas Global Menguat dan Dolar Melemah

Penulis: Darmansyah

Selasa, 10 Oktober 2017 | 08:37 WIB

Dibaca: 0 kali

Emas dunia yang diperdagangakan di Comex Exchange New York, hari ini, Selasa, 10 Oktober, kembali mencatat kenaikan setelah terbenam selama enam pekan. Kenaikan harga emas ini dipicu oleh melemahnya dollar.

Kenaikan harga emas ini menghapus semua kerugian pada minggu sebelumnya

Selain pelemahan dollar kenaikan harga emas ini juga didorong oleh kembalinya pembelian dari China ke pasar.

Seperti ditulis laman media “reuter,” hari ini, 10 Oktober,  harga emas di pasar spot naik  nol koma enam  persen  per ounce.

Sementara emas berjangka AS untuk pengiriman Desember menetap naik nol koma delapan persen ke posisi US$ 1,285 per ounce.

Harga emas melambung setelah jatuh untuk minggu keempat dalam posisi terendah di dua bulan pada hari Jumat.

Ini imbas optimisme terhadap pertumbuhan upah dan pengangguran yang mendukung harapan kenaikan imbal hasil obligasi AS akan lebih tinggi pada Desember.

Kenaikan emas di atas rata-rata pergerakan dua ratus hari ke posisi US$ 1,253 per ounce.

Sementara itu, dolar melemah ke bawah level tertinggi dalam sepuluh minggu, di tengah kekhawatiran geopolitik di Korea Utara dan Spanyol yang mendukung harga emas.

“Saya pikir ini sebagian besar karena faktor teknis,” kata Rob Haworth, Ahli Strategi Investasi Senior Bank Wealth Management AS.

Dia menambahkan bahwa masalah geopolitik tetap ada dan ikut mendukung harga emas.

Memang pada hari minggu, Senator dari Republik A. Bob Bob Corker dalam sebuah wawancara dengan New York Times memperingatkan, bahwa Presiden Donald Trump mempertaruhkan negaranya berada di jalan untuk Perang Dunia Ketiga,  dengan memberikan ancaman sembrono terhadap negara lain.

“Untuk saat ini, emas mungkin telah mencapai titik terendah,” kata Analis ABN Amro Georgette Boele.

Ekspektasi kenaikan suku bunga Fed, Boele menambahkan, juga masih memberikan dampak ke harga emas.

Di sisi lain, Bank sentral China menahan diri untuk tidak menambah cadangan emas untuk bulan ke sebelas berturut-turut pada September.

Di pasar fisik, pembeli China mulai kembali setelah Liburan Golden Week, faktor lain yang sangat mendukung harga emas.

Sementara itu para investor masih menempat  emas masih menjadi primadona investasi yang cukup menjanjikan.

Hal ini dikarenakan emas merupakan barang dengan nilai yang cenderung terus meningkat setiap tahunnya, bahkan jarang sekali mengalami penurunan.

Tak hanya perseorangan yang bisa meraih untung, produsen emas tentu menjadi bisa yang diuntungkan.

Mengutip laporan World Gold Council, sampai dengan semester pertama tahun ini permintaan emas global tercatat sebesar du ribu ton.

Dari jumlah itu, produk emas perhiasan cukup mendominasi sebesar empat puluh delapan sedangkan emas batangan dan koin mencapai dua puluh tujuh persen.

Yang menarik adalah peningkatan yang cukup signifikan pada emas batangan dan koin yang meningkat sebelas persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu

Pemicu utamanya adalah gairah investasi emas di Tiongkok, India, dan Turki yang meningkat.

Tingginya permintaan global dan apresiasi positif harga emas ini menjadi angin sejuk bagi produsen emas seperti Antam. Dan emas nampaknya akan tetap menjadi primadona bagi Perusahaan itu.

Sementara itu sebagai BUMN pertambangan yang mengelola komoditas bisnis beragam, pendapatan Antam berasal dari emas

Direktur Keuangan Antam, Dimas Wikan Pramudhito menjelaskan bahwa Antam akan optimalkan produksi dan penjualan emas di sisa tahun  ini.

“Kami menyambut positif momentum trend kenaikan harga ini dan akan optimalkan kinerja produksi dan penjualan emas” katanya. Dimas berharap optimasi itu akan meningkatan pendapatan Perusahaannya pada semester kedua.

Dimas juga menyampaikan telah bekerjasama dengan PT Pos Indonesia untuk mempermudah akses masyarakat dalam mendapatkan emas Antam. “Sekarang pembelian emas Antam dapat dilakukan pada 205 Kantor Pos di Indonesia.” tutur Dimas.

Tak hanya kemudahan akses yang diberikan Antam, kelebihan lainnya adalah emas Antam satu-satunya yang bersetifikasi LBMA. Meski sempat mengalami penurunan volume penjualan emas pada semester pertama tahun ini, Dimas tetap optimis Perusahaannya akan mampu memenuhi target penjualan tahun ini.

“Momen positif ini juga akan dimanfaatkan dengan menjaga level biaya tunai tetap rendah untuk meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.” katanya.

Komentar