Emas Global Kembali ke Harga Tertingginya

Penulis: Darmansyah

Kamis, 22 November 2018 | 08:39 WIB

Dibaca: 1 kali

Sehari setelah mengalami pelemahan akibat perkasanya dollar Amerika Serikat, hari ini, Kamis, 22 November, harga emas kembali moncreng dan  naik ke level tertinggi dalam dua minggu terakhir.

Kenaikan harga emas ini seiring dolar Amerika Serikat  yang melemah.

Seperti ditulis laman keuangan “bloomberg,” Kamis pagi WIB, harga emas  untuk pengiriman Desember di Comex naik  lebih setengah persen atau pasnya, nol koma enam persen per ounce.

Harga emas itu juga termasuk kontrak paling aktif sejak awal November.

Sementara itu, harga perak  juga naik atu koma enam  persen per ounce.

Harga perak sudah naik nol koma delapan  persen pada pekan ini.

Harga emas melemah pada perdagangan Selasa usai menguat dalam empat hari. Hal tersebut juga didorong terjadi aksi jual di bursa saham.

Namun, perdagangan cenderung pendek pada pekan ini karena ada perayaan Thanksgiving di AS pada Kamis waktu setempat.

“Dengan harga lebih rendah dalam emas pada Selasa yang terjadi dalam hadapi penurunan tajam dalam saham dan meningkatnya kecemasan. Ini jelas emas juga bukan alat investasi yang safe haven,” ujar Analis Zaner Metals, dikutip dari laman Marketwatch, Kamis pagi WIB.

Oleh karena itu, para analis tidak terkejut seiring kenaikan harga emas pada Rabu pekan ini. Penguatan harga emas seiring pemulihan bursa saham global.

“Namun, dolar AS melemah sehingga menekan emas dan perak,” tulis analis.

Dolar AS melemah sebagian besar terhadap sejumlah mata uang utama lainnya. Indeks dolar AS turun hampir nol koma dua persen. Akan tetapi, pada pekan ini, dolar AS naik nol koma dua persen.

Pergerakan harga emas seiring berbalik terhadap dolar AS. Pelemahan dolar AS dapat membuat emas lebih menarik bagi pengguna mata uang lainnya.

Sehari sebelumnya, Rabu 21 November, harga emas dunia di Comex Merchantil Exchange, New York, mengalami tekanan kuat bersamaan dengan penguatan dollar Amerika Serikat.

Seperti ditulis laman media keuangan terkenal “blomberg,” Rabu pagi WIB, harga emas melemah pada perdagangan Selasa karena tekanan kenaikan nilai tukar dolar AS.

Pelemahan harga emas ini tidak terlalu dalam karena volume perdagangan juga kecil menjelang libur Thanksgiving.

Harga emas di pasar spot turun nol koma dua puluh lima5 persen per  ounce. Sedangkan harga emas berjangka AS juga turun .

“Perdagangan relatif sepi pada saat ini. Emas tidak memiliki momentum kali ini dan lebih terdampak faktor sektoral seperti penurunan di sektor energi,” jelas Ross Norman, CEO Sharps Pixley.

“Kami melihat harga emas dalam kisaran  yang sempit untuk sisa tahun ini,” tambah dia.

The dollar index yang merupakan indeks yang mengukur nilai tukar dolar AS terhadap beberapa mata uang utama lain naik dari posisi terlemah dalam dua minggu setelah komentar yang cukup hati-hati pejabat Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed).

The Fed memperkirakan bahwa prospek global dan data ekonomi AS yang lemah meningkatkan keraguan tentang laju kenaikan suku bunga mendatang.

The Fed telah menaikkan suku bunga tiga kali sepanjang tahun ini. Hal ini membuat harga emas mengalami tekanan karena harus bersaing dengan instrumen investasi seperti surat utang.

Selain itu, kenaikan suku bunga The Fed juga membuat nilai tukar dolar AS menguat dan berdampak buruk kepada emas karena harganya akan lebih mahal bagi mereka yang bertransaksi dengan mata uang di luar dolar AS.

Sementara kenaikan suku bunga keempat diharapkan bulan depan dan tiga lagi tahun depan. Mayoritas ekonom yang disurvei oleh Reuters mengatakan risikonya adalah bahwa Fed akan memperlambat laju itu.

Di luar itu, ada sedikit prospek yang mampu mendorong kenaikan harga emas.

Tren penurunan saham global selama dua bulan terakhir memicu aliran terbatas ke dalam logam mulia. Emas menjadi instrumen safe haven pada saat ketidakpastian ekonomi atau politik.

“Ketegangan perdagangan tetap tinggi antara AS dan China, ekuitas global berada di bawah tekanan, sementara negosiasi Brexit terus menciptakan ketidakpastian di pasar, menjaga status safe haven emas tetap utuh,” jelas analis MKS PAMP dalam sebuah catatan.

Komentar