Emas Dunia Ambruk Dua Persen

Penulis: Darmansyah

Rabu, 27 Mei 2015 | 09:46 WIB

Dibaca: 0 kali

Harga emas global, hari ini, Rabu, 27 Mei 2015, ambruk sebesar dua persen bersamaan dengan menguatnya nilai tukar dollar yang didorong oleh komentar Kepala Federal Reserve Janet Yellen tentang pengetatan kebijakan moneternya.

Seperti di tulis “reuter” pagi ini, Rabu, 27 Mei 2015, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Juni turun lebih dari tujuh belas dollar per try ounce.

“Emas telah gagal menarik peluang permintaan dari pembelian safe haven pada hari ini, meskipun terjadi penurunan tajam di pasar ekuitas Eropa dan AS,” kata Fawad Razaqzada, Analis Forex.com.

Dolar tercatat menguat terhadap sekeranjang mata uang utama negara lainnya, setelah data ekonomi AS menunjukkan perbaikan, seperti rencana pengeluaran investasi bisnis yang meningkat untuk bulan kedua berturut-turut pada April lalu.

Di sisi lain, data penjualan rumah AS juga naik lebih dari harapan pada April dan kepercayaan konsumen naik pada Mei. Ini menambah optimisme jika The Fed segera menaikkan suku bunganya pada tahun ini.

Penguatan dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sementara suku bunga AS yang lebih tinggi akan melemahkan permintaan logam mulia yang tak menawarkan imbal hasil bunga.

“Rilis data terbesar dari AS terkait kenaikan suku bunga, saya pikir saat itulah kita akan melihat akhir dari emas,” kata Ahli Strategi Mitsubishi Corp Jonathan Butler.

Sementara Barclays dalam sebuah catatannya, mempertahankan pandangan bahwa kuartal ketiga kemungkinan akan menjadi momen terlemah bagi harga emas.

“Ini mengingat harapan Fed akan mulai meningkatkan suku bunganya pada September, namun potensi downside cenderung terbatas,” menurut catatan tersebut.

Pedagang emas dikatakan juga akan fokus pada Yunani, karena setiap memburuknya krisis utang di negara ini berpotensi memicu permintaan koin dan emas batangan.

Maklum, logam mulia biasanya menjadi alat lindung nilai terhadap risiko politik dan keuangan, meskipun dampak permintaan untuk logam dari kekhawatiran politik yang lebih luas biasanya berumur pendek.

Melemah harga emas ini memperpanjang penguatan dollar setelah beberapa data AS yang membaik dan komentar terbaru dari Chair’s Federal Reserve, Janet Yellen yang memperkuat bias pengetatan bank sentral pada kebijakan moneter selanjutnya.

Semua pelaku pasar tidak mengerti; mengapa pernyataan terakhir dari the Fed lebih dipercaya daripada yang sebelumnya.

Setelah the Fed menetapkan ekspektasi kenaikan suku bunga untuk bulan Maret, kemudian karena data ekonomi yang negative sehingga menggeser ekspektasi ke bulan Juni dan baru-baru ini, berganti ke bulan September, atau mungkin Desember.

Lebih dari setengah dari pelemahan pada pergerakan indeks dolar telah berhasil kembali di raih dan itu tidak akan membantu meningkatkan ekspor AS atau menekan defisit perdagangan yang pada gilirannya akan membuat risiko pertumbuhan ekonomi.

Perhatikan FedSpeak dari Williams dan Kocherlakota pada minggu ini yang terus menekankan ketergantungan data ekonomi.

Di lain pihak, dapat dikatakan the Fed masih akan menormalisasi kebijakannya dengan BoJ atau ECB.
Bahkan ketika BoJ telah memberikan sinyal kebijakan QE berikutnya. Tokyo secara agresif telah melemahkan yen daripada Fed, atau bahkan ECB.

BoJ terlihat memenangkan pertempuran perang mata uang yang dibuktikan dengan jatuhnya yen ke posisi terendah hampirdelapan tahun terhadap dolar. Dollar terus diperdagangkan di level tertinggi terbaru terhadap yen.

Pasar masih akan tetap fokus pada Yunani, karena setiap memburuknya krisis utang berpotensi akan memicu permintaan untuk koin dan batangan emas. Logam emas biasanya akan terlihat dengan fungsi sebagai lindung nilai terhadap risiko politik dan keuangan.

“The Fed menaikkan suku bunga tentu bukan berita mengejutkan komoditas logam. Pergerakan harga emas yang cenderung merosot bahkan mencatatkan penurunan terbesar sejak April.

Namun pernyataan Yellen memberikan sinyal kalau suku bunga akan naik. Pelaku pasar tidak menyukai sentimen tersebut,” kata Analis AvaTrade, Naeem Aslam, seperti dikutip dari laman The Australian.

Sementara itu, prospek kenaikan suku bunga pada 2015 ini juga mendorong dolar ke level tertinggi dalam sebulan terhadap sejumlah mata uang. Penguatan dolar AS dipicu dari kenaikan inflasi AS dan kekhawatiran terhadap utang Yunani.

Dengan dolar AS lebih kuat membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Hal ini mengurangi daya tarik sebagai lindung nilai terhadap risiko investasi. Untuk permintaan emas sendiri cenderung sepi di Asia. Investor lebih memilih masuk ke pasar saham yang lebih menarik

logam mulia.com, reuter, cnbc dan xinhua

Komentar