Blang Lancang, “Texas” Yang Kembali ke Kasta Paria

Penulis: Darmansyah

Selasa, 5 Februari 2013 | 11:57 WIB

Dibaca: 0 kali

BLANG Lancang direnyai gerimis, awal pekan pertama Februari. Rengek hujan  yang berlangsung sejak petang tadi, ketika kami bertandang ke sebuah kedai kopi lusuh di malam yang dingin itu, berisyarat tentang telah usainya sebuah “fiesta” panjang berdurasi dolar. “Fiesta” yang  telah terbang ke langit mimpi  ketika angin  lembut mengibaskan derai rintik hujan  ke meja kami.

Malam itu tak ada lagi auman gemuruh yang bersahutan dari “train” pengolah gas alam yang menjadi “trade mark” negeri setengah “Texas” di tengah komunitas perkampungan “indatu” itu. Tak ada pula benderang api dari cerobong enam kilang yang membuat benderang bekas tanah “neheun” yang dibayar ganti ruginya, saat itu, dengan harga selangit.

Blang Lancang, seperti yang kami lalui malam itu, sedang menjalani ritual di senja kehidupannya, di usia tigapuluh delapan  tahun. Kilang uzur itu, dimasa kejayaannya, lebih tiga dekade lalu,  memang pernah mencatatkan prestasi gemilang. Prestasi dari u enam “train”nya  mengaumkan  produksinya dengan mengapalkan sebanyak  224  gas alam cair ke Kobe dan  Osaka di Jepang serta ke  Busan di Korea Selatan.

Blang Lancang,  kini, adalah  sebuah pabrik gas masa lalu..

Kala  kami singgah di sana, di sebuah malam temaram,  langit  Batu Phat tidak lagi di basuh cahaya benderang. Ketika  kami  menengadah ke langit timurnya, perasaan getir menyengat diselangkang memori kami.  Perasaan getir yang datang  menggelitik kepiluan hati kami  menyaksikan  cahaya lidah apinya yang meliuk lunglai dan sesekali berkelebat, raib,  dipeluk angin timur.

Lidah api yang menari sendirian tanpa ditemani lagi lima  cerobong asap tetangganya. yang sudah lama mampus.  Sisa lidah api yang hanya bersungut ketika  mengibaskan jilatan cahaya “peusijuek”nya  ke langit kelam.

Malam itu pula, dari  sebuah kedai kopi di pasar Batu Phat, kami tak melihat lagi gairah Blang Lancang dengan kesibukan pekerja “shift” dua dan tiganya berjalan  dipelukan malam  dan melarikan truk serta pikap berlabel PTA ke arah Rancung.

Juga telah raib pula  cahaya benderang yang selama puluhan tahun membasuh langit  Paloh Lada, Batu Phat  maupun Blang Lancang sendiri. Semuanya telah tamat.  Telah usai.

Dan ketika seruputan  kopi terakhir kami  terasa pahit,  seorang kawan  mendadak berceloteh dengan bibir bergetar menahan gumam.“Sudah usai lima pemakaman di Blang Lancang  tanpa melantunkan doa samadiah berjamaah ……..”

Kawan itu, Rusdi, anak Paloh Lada,  yang dulu pernah  menjadi “orang penting”  dan mendapat  jatah sebagai “stringer” mengurus  community  development di sana. Ia  tak mampu melanjutkan kalimatnya. Kerongkongannya tercekat ketika bianglala kenangan  Blang Lancang singgah  dalam ingatannya. Blang Lancang  tahun delapanpuluhan. Blang Lancang  yang dihuni oleh enam unit kilang pengolah gas dan mecuat  bagaikan  “enklaf”  di sebuah  negeri siluman, negeri antah berantah, bertabur  cahaya dan tak pernah digenggam sebagai milik anak “nanggroe” sebagai bagian  tanah “ware’eh” pusaka indatunya.

“Dulu kami hidup bagaikan di Texas. Semburan cahaya benderang sepanjang tahun dan kesibukan pekerja pabrik hilir mudik dengan mobil bertulis PTA sebagai simbol status sosial para pekerja. Dan kami sendiri tidak pernah sebagai tuan di sini”

Rusdi pantas mengenang masa keemasan pabrik gas alam cair bernama PT Arun NGL itu dengan dada sesak. Ketika pabrik gas yang  usianya   tersisa dua tahun lagi. Pabrik gas yang sering diocehkan entah milik siapa di tanah milik kakek moyangnya dan limpahan dollarnya berserak  tanpa pernah memberikan kesejahteraan anak Blang Lancang atau Batu Phat yang terusir ke pucuk Mbang sebagai kasta “paria” atas nama relokasi.  Kasta “paria” yang di “rodi” siklus kehidupannya dari nelayan dan petambak “neuheun” menjadi petani sayur dengan penyuluh yang didatangkan dari negeri “bule” untuk kemudian bubar tanpa pernah mendapat ujung cerita yang “happy ending.”

Dan anak-anak Blang Lancang, Rancung maupun Batu Phat, kini, usai “fiesta” gas alam itu  setelah perut buminya kempis,  melata menjadi penganggur, dan bagian lainnya terlunta-lunta mengikis lumut “rasueki”  di seputar tanah bertuah milik “ayah-moyangnya.”  Tanah bertuah yang ketika “pipa line”nya menyisakan tetesan terakhir mendapat jatah pengembalian bagi hasil sebesar 70 persen.

“Apalah arti pembagian tujuh puluh persen distribusi pendapatan  setelah jumlah pengapalannya  22 kali setahun. Bukan 224 pengapalan. Inilah zaman, ketika tipu Aceh tidak lagi menjadi milik anak negeri,” ujar seoeang pengamat di Banda Aceh.  Tipu menipu yang memanipulasi angka “cost recovery”  yang arus kasnya pembiayaannya, “operational cost” berada diselangkah celana bule Amerika.

Itulah penggalan kisah anak Blang Lancang dan Rancung maupun Batu Phat yang  awalnya mendapat ganti rugi pembebasan tanah  dengan  ikatan duit berlimpah  menyembul di kantong dan  membeli “Honda CB”  sampai ke Medan. Anak Blang Lancang yang kemudiananya, setelah hamburan duitnya berceceran membeli kemiskinan,  kembali menjadi “buruh” dengan panggilan keren “bang bechtel” dan di hari-hari  kami bertandang masih  terbata-bata menceritakan ceceran kisah “sukses” duit ganti rugi yang dibelanjakan kakek dan ayahnya untuk  membasuh daki kemiskinan.  Sabun daki kemiskinan Honda CB, Kijang pikap kotak sabun dan rumah di Pulaubrayan serta mencampakkan keranjang “meuge” berbau anyir “engkot muloh dan udang wat.

Itulah sebuah ironi  pengajaran masa lalu yang yang tak pernah kembali untuk  kemudian ingin ditebus anak cucu mereka dengan  menuntut balik tanah ulayat milik “indatu”nya dengan berkemah di jalur pipa.

***

2014,  Blang Lancang, kilang yang pernah menyandang predikat “Terbesar di Dunia” itu akan tutup buku bersamaan dengan berakhirnya kontrak ekspor gasnya dengan Korea Selatan. Sisa kontrak yang tersisa sekitar 30-an pengapalan akan dipenuhi sepanjang  tahun ini, dan kemudian tutup buku.

Untuk tahun ini, menurut manajemen PT Arun, ekspor gas ke Busan, Korsel  tidak akan lebih  dari 22 kapal, yang berarti sama dengan  ekspor tahun 2011. Sedangkan ekspor gas ke Kobe dan Osaka telah tamat tahun 2010 lalu yang sekaligus pula memensiunkan lima train Blang Lancang.

Blang Lancang, usai “fiesta”  panjang dollar berbau amis yang mengalir ke pundi-pundi APBN selama tiga dekade lebih, tahun 2014, menyisakan baris pertanyaan yang belum seluruhnya terjawab tuntas. Pertanyaan menggelitik tentang pepatah  plesetan, “habis gas besi dibangkaikan.” Pertanyaan yang juga membangkitkan  koreng di luka tak berparut sepanjang  tanah bekas “neuhun” milik anak nanggroe yang ditendang domisilinya  ke bukit Mbang.

Akan jadi rongsokankah kilang,  turbin gas pembangkit 120 megawat, pelabuhan, dan tanki serta pipa-pipa gas milik Blang Lancang itu? Akankah raib nilai buku kekayaan, hasil audit internal Pertamina, Rp. 6,5 triliun itu dari tanah Rancung, Batu Phat dan Blang Lancang?

Itulah pertanyaan paling mengusik sepanjang hari-hari ditahun terakhir kehidupan kilang gas itu. Pertanyaan akan dicampakkan kemana onggokan “besi tua” yang berkahnya untuk negeri ini telah dilumat secara bancakan antara pemodal, spekulan dan pemerintah pusat yang mengatasnamakan kepentingan fiskal.

Kepentingan pembangunan yang wujudnya tak pernah dinikmati anak-anak Blang Lancang, Batu Phat, Paloh Lada hingga melingkar, nun jauh ke sana, ke Syamtalira Aron maupun Syamtalira Bayu yang api “point A” maupun “point B”nya telah padam. Dan kantor Exxon Mobil telah dialih pinjamkan ke Pemda Aceh Utara atas kemura-hatian PT. Pertamina.

Di ujung tahun kemarin terdengar skenario baru tentang nasib akhir Blang Lancang. Skenario untuk memungsikan sebagai terminal gas yang bahan bakunya didatangkan dari Bontang dan Tangguh. Terminal berdurasi investasi 175 juta dollar yang akan mengalirkan gasnya melalui pipa sepanjang 250 kilometer ke Medan dan akan menghabiskan belanja mendekati angka 300 juta dollar.

Terminal yang kelak akan membangkitkan gairah birahi PT PIM mengejar kapasitas penuh produksi. Terminal yang juga menunda pembangkaian PT AAF menjadi potongan besi tua. Dan juga menghidupkan harapan kehidupan bagi PT KKA menjalani ritual sebagai sebuah pabrik kraft peling prestiseus.

Kita belum tak tahu secara persis apakah janji mengubah Blang Lancang menjadi terminal gas  ini mimpi halusinasi atau ekstase “cet langet” model baru. Sebab, sebelum godaan menjadikan Blang Lancang sebagai terminal gas, sudah terbit sebuah Perpres tentang penunjukan Belawan sebagai terminal  suplai untuk kawasan Sumatera bagian Utara.

Kita mengingatkan dengan keras, kepada siapapun dia,  jangan paksa lagi Aceh mencabut pedang atas nama “perjuangan” untuk menegakkan harga dirinya sebagai “bangsa” bermartabat untuk merebut muntahan janji keadilan. Jangan lagi bangun jalan tak berujung yang  ketika menggapainya harus di aplaus dengan sorak-sorai perjuangan dan harus direbut  dengan salakan  bedil dan banyak jirat  yang kuburnya tak bernisan.

Blang Lancang ketika kami memunggunginya  usai menyantap nasih gurih Batu Phat,  menunduk kalem di ujung dhuha yang langitnya masih  bewarna kelabu,  “reudok

di glee”  Awan hitam yang berlari digelitik taifun kecil.  Hujan, entah tumpah atau tidak, kami tidak lagi pernah tahu.  Tapi, yang kami tahu,  setelah beringsut dari tanah penuh janji itu, proposal terminal refagas Blang Lancang masih belum dibumikan. Masih dalam hitung-hitungan. Masih negosiasi gas dari Tangguh. Dan ketika itu terwujud Blang Lancang akan berganti peran dari produsen menjadi konsumen. Sebuah peran, yang dikatakan, oleh seorang kawan kami, pengamat ekonomi, dengan kalimat “nyelekit,” waktu menjalani peran produsen saja meninggalkan kemiskinan apalagi setelah jadi konsumen.”

Komentar