“Verboeden Tugang,” Anak “Carocok”

Penulis: Darmansyah

Jumat, 4 April 2014 | 17:05 WIB

Dibaca: 1 kali

Dermaga itu menjorok jauh ke laut. Melintasi tubir karang, tempat gelombang menghempas dengan suara berdebam sembari membentuk buih putih memanjang dari “sawang” di Balakang Tokoh hingga ke bukit batu Gunung Lampu.

Buih putih pecahan ombak, membuat tongkang SBPP dan Surya oleng, dan sampan bercadik yang dilabuhkan di bibir pantai antara komplek “bekwe,” atau PU, dengan “surau,” mundasah milik Muhamadijah, berjoget bak irama “serampang duabelas” digelitik alunan gelombang yang naik turun.

Dermaga itu, sejak lahirnya, tidak pernah kesepian. Ia tak pernah terlelap sepanjang waktu. Ada jala dan juaran yang menjulur dengan lauak yang manggetuih di pagi hari. Ada cangkuak bermata pancing empat yang menyeret mansi-mansi dengan semburan “dawat” hitamnya ketika di “elak,” ditarik, ke teras dermaga.

Ketika malam menjalar ada “karuah” yang menjadi bagian musik basamo kacipak ayia di tiang basi dermaga ditambah “lasia” angin malam manampa paga panyangga.

Jangan lupa pantun yang dinyanyikan dengan irama kaba oleh ninikmamak kito yang menjadi bujang tuo karano saku sarawa’e balun barisi.

Kaba Taluak tentang anak gadih yang dicinto’an’e,

“Kapa balayie ka Siboga
Panuah muatan bungo palo
Walau carocok jauh tatingga
Taci samo Noni takana juo”

Ya, sebuah pantun yang juo didendangkan panumpang dari biduak bacadiak atau boat Fajar Harapan atau Gunung Kawi ketika meninggalkan dermaga itu.

Sebuah dermaga monumental yang dihubungkan oleh sebuah jembatan panjang berpapan “tim,” papan setebal 10 sentimeter, yang didatangkan dari Pucuk Lembang.

Pantatnya disangga silangan besi berkarat sebagai tiang pancang untuk tempat duduknya besi siku agar papan tim bisa disusun diselangkangnya. Di tahun limapuluhan, ketika kami kanak-kanak masih terdapat silangan rel di permukaannya untuk lintasan lori, peninggalan zaman KPM, guna mengangkut barang dari ujung dermaga hingga ke gudang “boom” dan di dorong oleh buruh pelabuhan.

Silangan rel, lori dan buruh pelabuhan itu menjadi “koor” kegaduhan di hari-hari kapal membuang sauh dan sering mengapungkan kembali ingatan kita sembari membiarkannya mengembara ke kenangan tahun limapuluhan ketika sebagai paja-paja Tapaktuan masih bergaul dengan komunitas carocok itu.

Tidak hanya sebagai penghubung jarak dari perjalanan waktu yang sangat panjang, dermaga itu atau carocok itu, bagi kebanyakan anak Tapaktuan bisa menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan berbagai kreasi, baik dalam bentuk karya lukisan, prosa maupun puisi. Ia menjadi sebuah kenangan “yang indak lapuak di-ingatan dan indak panah lakang untuk dicuritokan. “

Tak percaya?

Bacalah himpunan puisi dan cerita pendek Hasyim KS, seniman berayah keturunan India dan ibu dari Twi Lhok, Sawang, terakhir wartawan Serambi, yang mengambil setting carocok dan mampu mengembalikan ingatan kita tentang detil dermaga itu ketika ia menuliskannya di harian “Berjuang.”

Dan coba pula baca puisi-puisi Basri Emka, anak Lhok Ketapang yang pensiunan birokrat yang kemudiannya menetap di Banda Aceh dan rajin menulis di usia tua.
Jangan pernah lupa dengan Darwin Baharuddin, anak Susoh yang sewaktu hidupnya melanglang buana ke satangah donya dan mengikrarkan

Taluak lah nagari nomor satu dihatinya, sembari menceritakan dermaga ini sebagai alur dari banyak karya-karya sajak prestiseus yang dilahirkannya. Bahkan, ketika hari-hari menjelang kematiannya, dari Pengalengan, Bandung, Jawa Barat, ia masih sempat mengirim beberapa tulisan berisi “joke” kepada Basri Emka untuk menjadi bagian dari khazanah “Kapa Pasuak……..”

Tidak terbatas di komunitas para penulis, carocok itu lebih heboh lagi bila diceritakan secara bergerombolan dengan suara keras seakan-akan ingin melawan suara deburan ombak menghempas.

Tanyakan kepada tiap kepala anak Tapaktuan, tidak tua maupun muda, yang merantau kepelosok manapun tentang kenangannya terhadap dermaga yang bernama “carocok” itu. Monumental. Itu selalu jawaban final satu kata tentang dermaga itu. Dan itu juga yang kami rekam dari banyak dialog atas kenangan mereka terhadap carocok.

Monumental, adalah kata tunggal untuk mengukuhkan eksistensi carocok sebagai “trade mark” kota pantai. Kota di sebuah Teluk dengan dua ujung, atau tanjung, mengapitnya. Ujung Raban dan Ujung Tapak. Ujung Raban di kawasan Tangsi Tentara dan Ujung Tapak, di telapak kaki Gunung Lampu.

Yang pasti carocok tidak hanya sekadar bangunan bisu sebuah dermaga kayu yang bersilangan besi sebagai konstruksinya, tapi juga sebuah lenguh panjang dan menjadi cerita klasik untuk dikenang. Ia menjadi metamorfosa bagi beranak pinaknya kenangan ketika disentuhkan ke komunitas buruh “boom,” penjala ikan, pemancing, penghuni hotel “angin malam,” sampai arena plesir.

Kenanglah ketika buruh Surya dan SBPP merapatkan tongkangnya memunggah barang dan penumpang di dermaga kecil dengan ongkos seringgit. Ingat ketika si Kayak, si Debak dan si Suman merentang kail mencangkuak mansi-mansi dan tamban. Jangan lupakan Kakek dan Mak Sidik ketika menabur jala dan panuah tambam, tandeman dan sisik kareh di mato jalonya.

Lain lagi jika usai maghrib, puluhan orang tua dan anak muda dengan kain sarung baliliek’an ka lihia berbaur dalam suara “kretak” kupeh kacang asin Mak Abu dan kubak pisang dari kadai Mak Abeh di Kadai Pauah, baselo memenuhi pinggiran jembatan dan sudut dermaga sembari marantang ota

Kenanglah ketika malam merangkak ke ujungnya pelukannya, puluhan anak muda seputar perkampungan Taluak, dari Ujung Gantiang sampai ka Kadai Aru, mangapik gulungan tika sembari menyusun bantal dan dilanjutkan dengan “karuah” sampai matahari pagi tabiak dan melupakan shalat subuh dengan alasan tak mampu mengusir kantuak di dermaga utama.

Itulah sekelumit catatan permulaan untuk mengantar kami kepenulisan dermaga sentimentil bernama carocok

Komentar