Ulos Sebagai “Pangait Ni Holong”

Penulis: Darmansyah

Kamis, 20 Februari 2014 | 12:48 WIB

Dibaca: 25 kali

Laporan Wartawan “nuga.co” Arminsyah dari Samosir

=========

Ulos, sebuah “trade mark” Samosir. Ia tidak lekang dengan panas, dan tidak lapuk dari hujan. Ulos, kini, bukan hanya menyimpan magis tradisi “batak” yang kental dan sarat makna, tapi juga prestise dari moderenisasi proses akulturasi.

Selembar kain ulos tak sekadar selembar kain tradisional kebanggaan suku Batak “an sich”. Makna ulos adalah sebagai “pangait ni holong,” yang berarti jembatan penaut kasih sayang.

Untuk mengenal ulos lebih detil inilah kami datang mencari tahu akar “histori” dan bagaimana ulos mampu melewati zaman dengan “damai” dan terpelihara. Perjalanan kami ke Toba Samosir adalah rutinitas tahunan bersama keluarga karena “dekat” dan “murah.”

Dari Medan kami sekeluarga meminta jalan lewat Brastagi, Kabanjahe dan terus menyusur pinggiran Toba.

Di sebuah rumah Toba, kami dengan takzim mendengar seorang tua menjelaskan ragam nama ulos ini dari kandangnya di Samosir. Kami diberitahu deretan nama ulos seperti Pinunsaan, Ragi Idup, Ragi Hotang, Ragi Pakko, Ragi Uluan, Ragi Angkola, Sibolang Pamontari, Sitolu Tuho Nagok, Sitolu Tuho Bolean, Suri-suri Na Gok, Sirara, dan Bintang Maratur Punsa.

Seterusnya Ragi Huting, Suri-Suri Parompa, Sitolu Tuho Najempek, Bintang Maratur, Ranta-ranta, Sadun Toba, Simarpusoran, Mangiring, Ulutorus Salendang, Sibolang Resta Salendang, Ulos Pinarsisi, dan Ulos Tutur Pinggir.

Di antara kain tenun itu, kata si tua, nilai tertinggi bagi masyarakat Batak Toba yang dikenakan dalam pesta-pesta riang gembira itu adalah Ulos Ragi Idup.

Berbeda dengan waktu pemakaian kain tenun yang juga disebut Ragi Idup ini, sang tetua mencatat dua jenis ulos yang umumnya dikenakan masyarakat Batak Toba dalam apa yang diistilahkan mereka “pesta duka” seperti saat dimana ada sanak keluarga yang meninggal.

Dialah ulos Sibolang Pamontari dan Sirara.

Ulos merupakan kain tenunan khas Batak dengan motif dan ukuran tertentu yang dijalin oleh benang-benang berjuntai di kedua ujungnya. Kain tradisional yang ditenun oleh kaum perempuan ini semula dikenakan untuk pelindung tubuh dikala sengatan dingin datang

Karena kesakralannya penggunannya merembet ke ritual adat. Mangulosi, misalnya, merupakan salah satu ritual adat pemberian ulos dan bisa juga diberikan kepada orang lain di luar suku Batak sebagai lambang penghormatan dan kasih sayang.

Pemanfaatan kain ulos tidak sembarangan untuk dijadikan produk mode dan kerajinan. Banyak orang Toba Samosir masih menjaga jenis ulos yang digunakan untuk keperluan sakral dan dijauhkan dari modifikasi menjadi turunan produk lainnya, selain untuk sarung dan selendang umpamanya.

Ulos bagi masyarakat Batak, adalah harta yang berharga yang patut dijaga sebaik mungkin. Bahkan, warisan ulos pantang dijual sembarangan karena ulos diyakini memiliki jiwa atau tondi yang dapat memengaruhi tondi si pemilik ulos.

Oleh karena itu, masyarakat Batak, terutama generasi tua, menyimpan warisan ulosnya dengan hati-hati dan jarang dikeluarkan. Bahkan, terkadang si penyimpan warisan ulos cenderung enggan menunjukkan ulos tersebut kepada orang lain. Tak sembarang orang boleh menyentuh warisan ulos leluhur tersebut sekalipun anak sendiri.

Ulos dalam perkembangan kemudian, secara subtil, tetap memancarkan aura magis yang memikat. Perpaduan beragam motif dan warna-warna dari ulos-ulos mampu membiaskan pesona yang dalam dan khidmat.

Dari beragam jenis ulos, ada sepuluh ulos yang kerap digunakan masyarakat. Di antaranya ulos ragi hotang yang diberikan mertua kepada menantu laki-laki dengan maksud agar ikatan batin kedua pengantin teguh seperti rotan.

Ulos sedum tarutung diberikan kepada anak kesayangan yang membawa kegembiraan kepada keluarga. Harapannya sang anak membawa kebaikan dan mampu mencapai cita-citanya.

Sementara ulos ragi idup, yang khusus untuk laki-laki, dapat dikenakan pada upacara dukacita dan sukacita. Ulos ini juga dapat diberikan kepada seseorang yang tengah berulang tahun atau baru memangku jabatan tertentu ataupun naik pangkat.

Saat ini, sentra penghasil ulos di daerah Batak Toba, antara lain, Bakkara, Balige, Silalahi, Paropo, Tongging, Meat, Samosir, Lumban Suhi-suhi, Toba Holbung/Uluan, Muara, dan Tarutung.
Sejatinya pembuatan ulos dimulai dari pembuatan benang. Pemintalan kapas yang disebut mamapis telah lama dikenal masyarakat Batak sejak zaman dahulu. Kapas dipintal dengan alat yang disebut sorha.

Namun, saat ini, masyarakat lebih banyak memilih benang jadi di pasaran yang populer disebut benang seratus. Kemudian, proses menenun atau disebut martonun dimulai sejak memasukkan benang ke dalam alat tenun gedokan yang terbuat dari kayu.

Komentar