Ulee Lheue Masih Ada Di Koetaradja

Penulis: Darmansyah

Kamis, 7 Februari 2013 | 09:41 WIB

Dibaca: 4 kali

Ulee Lheue di Koetaradja//

Boleh tak boleh di bawa saja….

ITULAH penggalan bait nanyian irama keroncong Abraham Titaley. Nyanyian anak  “kolong”  asal Ambon yang  besar di asrama Dipo dan kemudian dikenal dengan nama “pop” Bram Atjeh. Bram yang kakek Harvey Malaiholo. Bram yang buaya keroncong. Bram yang menyebabkan nama Ulee Lheue melambung keseluruh negeri  dalam dendang keroncong di RRI Jakarta.

Ulee Lheue, nama yang mudah didendangkan dengan kata, Olele, dan sulit di eja dalam bacaan  setengah pakemnya, Ulee Lheue.

Kini  tak banyak yang hafal  syair  nyanyian  “Olele di Koetaradja.”   Tersisa sedikit orang  yang bisa mengenang  seorang Bram Atjeh yang parlente dan dikelilingi wanita aduhai di masa jayanya. Dan kini pun, setelah berselang delapan tahun humbalang  laut menggulung tanah ulayatnya,   tak banyak lagi orang yang bisa dengan sempurna meningat  “enklaf”  kampung bertuah itu  satu dekade lalu.

Ulee Lheue,  memang sudah lama dilupakan. Sudah lama  bangkrut. Usai  “vrij haven” berlabel nama “maatschapaij”  punah  dan peran   “hub port”nya  terkapar.   Ulee Lheue juga sudah  tercerabut sebagai “kota pelabuhan”  bersamaan dengan dikuburnya  “free port” Sabang dan  gampong sagoe Meuraxa itu pun  mati.

Ulee Lheue kini adalah pelabuhan ferry, rekreasi setengah hati dan palang larangan menjelang maghrib. Ulee Lheue hari ini adalah  kenangan yang sudah lama lekang tentang  sebuah “metropole”  masa dan pasca penaklukan Aceh. Ulee Lheue hari kami berkunjung hanya menyisakan  sejumput tanah undakan yang daratannya sudah terjungkal ke tubir laut.

Ulee Lheue  di Koetaradja hari ini  adalah dilemma yang saling  bertabrakan antara kepentingan  syariat dengan   kebebasan pergaulan anak muda  dengan  cirri  moderenitas pergaulan  yang dituduh sebagai biang khalwat sehingga ia di palang menjelang maghrib

Ulee Lheue awal pecan kedua Januari, ketika kami datang hanya sebuah teluk dengan sejumput tanah sisa di makan gergasi laut. Tanah di ujung jembatan, tempat kantor polsek dan asrama polisi berdiri, dan dua bangunan milik angkatan darat, yang di zaman kolonial dulu bernama “mariner soceited” dan balai nelayan di muara sungai.

Selebihnya jalan utama menuju pelabuhan feri dan kapal cepat, yang sewaktu tsunami tercabik bersama terjungkalnya PLTD Apung milik PLN yang kini “labuh”  di Punge Blang Cut dan dipoles oleh Pemko Banda Aceh sebagai  taman heritage untuk mengenang dahsyatnya  humbalang itu menerjang.

Delapan tahun berlalu sejak ia dimakan gergasi laut, langit “gampong aso di pagi itu ketika kami datang sebagai peziarah, digelayuti awan hitam. Sunyi menghampar ditelapak kampung pantai, tempat  masjid bertuah, Baiturrahim,  berdiri.  Masjid yang menjadi “heritage” dan di “jual” sebagai pusaka kebesaran Illahi. Masjid yang tak mampu digulung gergasi bergigi gelombang yang kecepatannya bagaikan  kecepatan jet tempur.

Itulah masjid yang tetap kukuh  dengan cat putih disekujur dindingnya pertanda  ia pernah mengalami rehabilitasinya. Di pagi itu seorang lelaki baya, ketika kami menjejakkan kaki di pelataran kirinya, baru saja keluar dari pintu samping selepas menunaikan shalat dhuha. Modin masjid, berwajah tirus, baru saja berlalu setelah membersihkan dinding kaca, merapikan sajadah, mengepel lantai dan menggelontorkan air disaluran wudhuk.

Masjid berkubah papan segi empat, dengan jendela vertikal susun pakis bercat hijau dipuncaknya  itu, masih  menebar pesona tanpa menimbulkan kesan angkuh. Bagian depan bangunan, menyerupai serambi,  bertangga empat jenjang dengan keramik mengelupas, memaklumatkan kesengsaraannya ketika gempa dan humbalang laut mengayaknya. Humbalang berjegala hitam  dan  menyisakan Rumah Allah itu sebagai simbol di kampung syuhada itu.

Memang, setelah direnovasi dan diperluas ke bagian depan, ditambah menara setinggi tigapuluh meter di ketiak kirinya, ia nampak mentereng. Kaca dua milimeter penutup sekat dindingnya  dengan pintu sorong alumunium seakan kedodoran menampung proses akulturasi kemodernannya. Apalagi, lantai keramik coklat mengiyakan perubahan bangunan menjadi lebih apik, tapi sedikit norak. Bahkan, halaman depan, yang dulunya tanah berpasir dengan rumput liar, kini, ditutupi “paving block” menjalarkan uap panas dan merenggangkan keintimannya dengan bangunan keramat itu.

Masjid di pinggir jalan raya itu, dulunya, ditabiri “bak mee,” pohon asam jawa, rindang, peninggalan zaman perang. Ada deretan toko kayu doyong  melingkar pinggangnya, tempat orang “jiep kupi” dan  makan  “eungkot karang,” masakan “asam keung” dan “pae’h bileh,” seusai dzuhur.   Di bagian kanan masjid, kini, dipagari dengan beton setinggi leher, tegak sebuah rambu-rambu bercat biru dengan tulisan putih, “Awas!!! Bahaya Tsunami.” Rambu untuk mengingatkan setiap orang tentang dahsyatnya derita gelombang laut sejauh lima kilometer dan membuat Masjid Raya Baiturrahman di pusar kota bagaikan bangunan di tengah kolam.

“Semuanya raib,” kata Muhajir, ketika kami temui sedang menimba air, sedikit lagang,  dari sumur masjid, yang dulunya tawar dan jernih bak mata air, tentang hilangnya atmosfir tata ruang masjid.  Muhajir masgul dengan pemugaran masjid yang mengebelakangkan arsitektur aslinya. “Cantik,” ujarnya ringkas dengan mimik kecewa mengomentari masjid pusaka itu.  Pria empat puluhan itu mencoba menyegarkan  ingatannya ke empat tahun lalu ketika wajah  masjid masih “meugampong.” Sebuah masjid yang teduh, nyaman,  walaupun  “kampungan.” Itulah masjid kami. Masjid tempat ayahnya bershalat jamaah lima waktu dan tempat moyangnya mengkhatamkan Al Qur’an di setiap ramadhan.

Muhajir  yang rumahnya menjadi jiran di bahu masjid dan mepet ke tempat wudhuk, baru saja menikah lagi, setelah istri dan empat anaknya dikunyah jegala hitam itu tanpa pernah ia temukan mayatnya. Ia sendiri, waktu itu, terkepung air di Blang Padang, ketika hendak pulang setelah diayak gempa di Pasar Aceh, dan hanyut ke Tamansari, di depan Balaikota. Ia baru bisa mudik seminggu sesudahnya, setelah engsel kakinya sembuh dari “meukilah” ditampar “bubong” hanyut  dan menangisi kepergian seluruh rumpun keluarganya.

Kini,  masjid itu, seolah-olah tegak sendirian dengan letaknya menjorok ke tumit muara dimana dermaga pelabuhan kecil untuk kapal ke Pulau Aceh bersandar, dan menjadikannya “landskap” penanda kota  pelabuhan dengan nama Ulee Lheue itu.

Masjid itu,  Baiturrahim, untuk kemudian dikenal  dan terkenal  dengan sebutan  Masjid Ulee Lheue, yang di pasca tsunami  mencacah “donya” untuk menghiasi lembaran koran, layarkaca  televisi dan di “save” pengguna internet, sebagai  sebuah masjid bertuah yang tetap  kokoh setelah humbalang laut memandikannya.  Bangunan yang menjadi sisa gelombang dahsyat setelah  seluruh kampung “aso” diseputarnya, di pagi Minggu kelabu, 26 Desember 2004,  musnah dan porak poranda menjadi timbunan sampah tempat mayat bergelimpangan.

Masjid itulah  yang  mengundang tanya Bill Clinton dan membuatnya terkesima dalam decak takjub. Masjid itu pula yang dicantumkan dalam acara kunjungan Thayyip Erdogan, Perdana Menteri Turki, yang  mengusap tiang tengahnya sembari bergumam dengan suara lirih dalam tengadah doa khusuk. Bahkan, Kofi Annan,  Sekjen PBB,  menyapanya dengan  sepatah kata “miracle,” keajaiban. Dan berjibun tokoh “donya” bertakziah, sembari bershalat sunat dihamparan lantai berdaki bekas lumpur hitam berbau belerang itu.

Baiturrahim memang keajaiban setelah tsunami, humbalang laut, tidak hanya mengubah wajah masjid bertuah itu, tapi juga mencerai beraikan tanah dan isi negeri ini. Tanah tempat pijakan sejarah ketika  pendaratan tentara “khapee,” Belanda, di tahun 1873,  menumpahkan darah beribu pejuang Aceh untuk syahid di ujung bedil si Kohler, jenderal yang tersungkur di pelataran Meuseujid Raya Baiturrahman, oleh peluru “sniper” pejuang. Tanah pantai, saksi dari lintangpukangnya tentara Holanda di ujung rencong dan meriam “made in”   Bitay di pendaratan pertamanya. “Khapee” yang menyebabkan Aceh berperang puluhan tahun dan si van Heutz, jenderal yang membantai anak-anak Gayo, dalam ekspedisi penaklukannya, menuding para pejuang  dengan kata “pungo” karena keberaniannya menyongsong hujan peluru dengan “jimat” hikayat “Prang Sabil,” tuah Tengku Hasan di Krueng Kalee.

Komentar