Testur Arabica Yang “Tebal” di Kopi Gayo

Penulis: Darmansyah

Rabu, 10 September 2014 | 15:34 WIB

Dibaca: 5 kali

Sebut saja “Gayo Mountain Coffe.” Pasti, sebagai pencinta kopi, Anda akan mengingat jalaran testur “arabica” yang kelat, tapi menohokkan “taste” yang dipahatkan dengan lembut di syaraf perasa. Ada satu kata yang bisa dihembuskan “nikmat.”

Kopi gayo dengan cita rasanya yang rendah asam, ”tebal”, beraroma kuat, dan jejak rasa kecokelatan. Begitu sedapnya kopi dari dataran tinggi Gayo ini lantas menjadikan nama Gayo berasosiasi dengan jaminan kenikmatan kopi. Yang sudah merasakan kopi gayo akan selalu ingin minum lagi.

Dengan cepat pula Anda akan menyadari adanya sentuhan “kafein” yang hinggap dan menyentuh di kala mereguknya. Anda pasti tahu itulah salah satu “heritage” rasa dari kopi yang sudah menduian.

Ya, “Gayo Mountain Coffe” adalah sebuah “heritage” rasa dari ladangladang “arabica’ milik petani di dataran tinggi Gayo. Mulai dari Bener Meriah hingga Gayo Lues.

Sebuah “heritage” yang berusia hampir seratus tahun ketika “arabica” tumbuh subur di lahan-lahan bergelombang dataran seputar laut tawar hingga ke Bener Meriah dan Gayo Lues.

“Kopi Gayo,” begitu yang selalu diucapkan dalam aksentuasi Aceh ketika produknya bersentuhan dengan “kelat”nya lidah “aneuk nanggroue.” Dan “Kopi Gayo” pula yang menjadi “ikon” arabica kopi Indonesia yang menyentuh lidah “dunia” lewat seduhannya yang mengasikkan.

“Kopi Gayo,” hari-hari ini, di Jakarta, ketika diadakan pameran “taste” kopi nusantara kembali merebut perhatian lewat produk “luwak liar”nya yang mengantarkan wewangian aroma serta sentuhan rasa yang membasuh lidah dan langit-langit penikmatnya.

Bagi saya, “Kopi Gayo” selalu mengingatkan sebuah proyek besar dari kerjasama Belanda-Aceh di tahun tujuh puluhan ketika nama “LTA-77” menjadi begitu popularnya.

“LTA-77,” seperti komentar seorang teman kami Mochtar Amin, anak Bireuen yang menamakan dirinya sebagai Aceh-Gayo, adalah lompatan besar ketika “Kopi Gayo” bersalin rupa menjadi “Gayo Mountain Coffe.”

Ia tahu persis bagaimana LTA 77 mendatangkan roasting berkapasitas besar untuk dioperasikan di Bener Meriah. Itulah roasting bermerek Gayo Mountain Coffee yang pernah dikeluarkan LTA 77.

Bermula ditahun 1976 Belanda mengirim dua orang guru besar yang merupakan pakar tanaman kopi ke Aceh, Prof. Menez dan Prof. Boss, dari Rotterdam, untuk meneliti lebih jauh tanaman kopi yang ada di daerah seribu gunung ini.

Waktu itu kedua ahli kopi untuk melakukan penelitian di Aceh Tengah. Dari hasil penelitian tersebut, di tahun 1983 hasil kerja sama Pemerintah Belanda dengan Aceh membangun pabrik processing kopi dengan nama LTA 77 yang berlokasi di Kampung Pondok Gajah, Kecamatan Bandar.

Program Belanda sendiri waktu itu adalah melakukan pembangunan jalan-jalan desa yang diidentifikasi sebagai sentral kopi, membangun pabrik pengolahan kopi basah, serta pembinaan petani kopi. Produksi kopi milik petani yang ditampung oleh LTA 77 yang selanjutnya diproses menjadi kopi biji kering dengan label Gayo Mountain Coffee.

Selain biji kopi kering, perusahaan itu juga memproduksi bubuk kopi dengan label yang sama. Nah, itulah label arabica coffe mountain gayo.

Karena sejak hadirnya pabrik pengolahan kopi basah, nama kopi Gayo dikenal oleh negara-negara konsumen kopi dunia. Salah satu negara pertama sasaran eksport kopi Gayo adalah Jepang.

Perusahaan melalui Mitsui Company mengeksport kopi ke negara Sakura tersebut. Di pasaran di negara itu Gayo Mountain Coffee menduduki urutan kedua setelah Blue Mountain Coffee dari Jamaika.

Sebenarnya dari segi cita rasa dan aroma, Gayo Mountain Coffee lah yang paling enak”.

Mayoritas masyarakat Gayo berprofesi sebagai Petani Kopi. Varietas Arabika mendominasi jenis kopi yang dikembangkan oleh para petani Kopi Gayo. Produksi Kopi Arabika yang dihasilkan dari Tanah Gayo merupakan yang terbesar di Asia

Tanaman kopi jenis arabica telah mulai dikembangkan oleh Belanda di Aceh Tengah pada tahun 1926
Empat tahun lalu terjadi konflik kepentingan dalam pemasaran kopi gayo. Sebuah perusahaan kopi berbasis di Belanda bernama Holland Coffee mematenkan nama Gayo dalam kopi dagangannya yang bernama Gayo Mountain Coffee.

Apa akibatnya bagi kopi lokal Gayo sendiri?

Alih-alih kopi gayo kian mendunia, petani dan usaha kopi lokal di Aceh malah tidak bisa lagi menggunakan nama Gayo dalam kopi produksi mereka. Jika melawan, mereka akan berisiko menanggung tuntutan hukum dari Holland Coffee.

George Willekes, pemilik Holland Coffee, dalam wawancara dengan The Sydney Morning Herald enam tahun lalu mengatakan, pihaknya telah mengenalkan kopi gayo ke penjuru dunia dan telah menjadikannya trademark.

Oleh karena itu, pihak mana pun di dunia ini tidak dapat menggunakan merek dagang Gayo. Lagi pula, menurut Willekes, nama Gayo tidak harus terkait pada suatu area, namun terkait kualitas kopi.
Menurutnya, jika siapa pun dapat menggunakan nama Gayo, hal itu malah akan merusak citra kualitas premium dari kopi gayo dagangannya.

Tentu saja hal ini membuat perlawanan dari masyarakat Gayo. Perlindungan Indikasi Geografis adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena faktor lingkungan geografis, termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan.

Di negara-negara Eropa, PGI diberlakukan pada komoditas seperti keju, wine, sosis, hingga bir. SIG mencerminkan sebuah sistem, bersifat hak kolektif, yang merupakan hubungan antara produk, produsen, dan kawasan produksi.

Di Indonesia, selain kopi gayo, kopi kintamani dari Bali juga telah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis

Kopi gayo pun dikenang dengan cita rasanya yang rendah asam, ”tebal”, beraroma kuat, dan jejak rasa kecokelatan. Begitu sedapnya kopi dari dataran tinggi Gayo ini lantas menjadikan nama Gayo berasosiasi dengan jaminan kenikmatan kopi. Yang sudah merasakan kopi gayo akan selalu ingin minum lagi.

Komentar