Kala “Bebe Lapan Sa” Lansir di Seulimeum

Penulis: Darmansyah

Kamis, 9 Oktober 2014 | 15:43 WIB

Dibaca: 5 kali

travel story dari arminsyah, wartawan “nuga”

==========

Stasion Seulimeum di “dhuha” Selasa, pekan kedua Oktober. Hujan lebat yang mengguyur sejak tmalam sebelumnya baru saja usai. Matahari sedang malas memberi memberi sinar benderang. Langit masih saja “reudok” ketika kami takziah.

Awan hitam masih menari di renyai gerimis menjelang siang itu. Kami datang di hari itu dengan satu tujuan, menelusuri kembali “kota indatu” itu untuk menghamburkan ingatan tentang sebuah stasion “spoor” Atjeh, yang sering kami singgahi sebagai “transit” sebelum “memanjat” tanjakan Selawah, yang biasanya berlangsung setengah hari

Selasa yang tidak ramah itu kami datang lagi. “Stasion” di tumit Seulawah selalu menggoda dan mengibaskan kenangan setiap kami mengenang masa-masa indah berkereta “apui” dari Koetaradja ke Medan dengan berganti-ganti loko dan gerbong.

Kenangan yang unik. Kenangan bercampurnya adukan “kemiskinan” transportasi dengan “suasana” Atjeh yang masih “moorden” lewat suasana berhimpitan berbau apak di dalam gerbong mulai dari stasion Koetaradja hingga Besitang, di perbatasan Aceh-Sumut.

Dan ketika kami datang lagi ke “Stasion” Seulimeum ada kenangan yang terkelupas dari suasana yang hilang dari stasion lansir itu. Kami nanar untuk mengembalikan kenangan yang hinggap di memori selama empat puluh delapan tahun tentang “stasion” di tumit Seulawan itu.

Semuanya raib. Tak ada lagi bekas yang menautkan kenangan di memori kami dengan Seulmeum awal enampuluhan. Ya, semuanya sudah pergi,

Tak ada lagi bangunan berstruktur kerangka baja tempat penumpang transit untuk berganti “spoor.” Tak ada juga rel ganda tempat “bebe lapan sa” yang menjadi andalan kereta memanjat Seulawah. Semuanya sudah pergi entak kemana.

Yang ada di hari Selasa kelabu itu adalah sederet rumah berjejer dengan pos polisi dan toko-toko mini di bekas tanah milik “PNKA” atau PJKA atau pun kini KAI. Entah bagimana ia bersalin, kami tak pernah bisa menelusurinya.

Seulimeum yang kami ingat selama hampir lima puluh tahun adalah sebuah “kota” kecil dengan predikat kewedanaan. Ada Uroe Pasar di hari Minggu. Masjid besar dan batang beringin di tengahnya.

Juga ada bekas rumah “kontrolir” yang dulunya dihuni oleh wedana dan setumpuk pertokoan di sebuah lahan sempit di bukit seluas tak lebih dari sepuluh hektar itu.

Ya. Seulimeum. “Kota” penting di kaki Seulawah, dengan stasion kecil, tapi sangat penting untuk menghubungkannya dengan Padang Tiji, nun di kaki Selawan lainnya arah Sigli.

Entahlah. Tapi dihari itu kami bisa dengan sempurna mengembalikan ingatan tentang tentang “Bebe Sa,” warnanya memang hitam legam yang hanya beroperasi di stasion kecil Seulmeum. Stasion kecil yang menjadi transit setiap penumpang yang ingin memintas seulawan.

Dan stasion itulah yang menyatukan ingatak kami dengan “bebe lapan sa.” Loko bewarna hitan yang melumeri sekujur tubuhnya.

Loko serba hitam yang menjadi tunggangan kami memanjat Seulawan ketika berganti gerbong di Seulimeum. Siapa yang tidak terkagum-kagum dengan lokomotip Aceh era enam puluhan yang mampu menaklukkan Selawah?

Ya, dialah “BB 81” hasil pampasan perang yang dibayarkan Jepang dengan jumlah delapan loko, dan salah satunya dioperasikan untuk memanjat Seul;awan karena kemampuannya yang kuat.

Iya juga ketika “syedara” kita akrab menyapanya dengan liuk lidah “bebe lapan sa”.

Waktu itu, ada delapan loko yang diberikan oleh negeri matahari terbit itu untuk membayar pampasan perang. Empat unitnya dari kelas C. Kami bisa mengingatnya C72, C73, C74 dan C75 yang bertugas melayani route Bireuen – Pangkalan Susu.

Empat unit lainnya adalah jenis BB dengan empat tabung silinder uap sebagai pemutar roda di bagian kiri dan kanan loko. Nomor serial BB itu adalah BB 81, BB 82 BB 83 dan BB 84.

Sebelum kedatangan si “bebe” Jepang itu, sudah ada lima unit “bebe” buatan Jerman peninggalan Belanda, yaitu BB 72, BB 73, BB 74, BB 75 dan BB 76.

Mungkin, karena faktor usia, “bebe” Jerman kalah kuat dengan “bebe” Jepang untuk memanjat Seulawan. Maklum saja, “bebe” Jerman dibuat pada awal abad lalu. Sedangkan bebe Jepang dibuat pada awal enam puluhan.

Semula, semua jenis loko “BB” milik Jepang ini hanya bertugas di lintasan Seulimum – Sigli. Mereka disepesialkan untuk mendaki Seulawah. Ia tidak dioperasikan ke Koetaradja. Dari Koetaradja gerbang dihela oleh loko jenis C yang lebih kecil di banding BB.

Loko seri C hanya mempunyai dua tabung silinder uap di kiri kanannya. Oleh karenanya, selepas jembatan Keumireu loko C sering “sesak nafas” dan terengah-rengah ketika mendaki tanjakan Gle Kameng.

Suara “ceh coh”nya membahana, membuat lembu-lembu dan kerbau-kerbau yang ada di sawah di kiri kanan rel pada melompat-lompat ketakutan

Begitu lambatnya lok jenis C ini, membuat penumpang di gerbong depan sempat turun dulu untuk buang air kecil, lalu naik lagi di gerbong paling belakang.
Sesampainya di Seulimum, sudah menanti lok BB yang akan melanjutkan estafet berikunya sampai Sigli.

Alangkah gembiranya penumpang, jika yang menunggu itu di hitam legam tapi manis si “bebe lapan sa” alias BB 81. Bayangkan, jika “geuritan apui” dihela oleh si BB 81, bisa menghemat waktu satu sampai dua jam lebih cepat jika dibandingkan dengan BB yang lain.

Sejak awal enam puluhan loko BB mulai masuk sampai Banda Aceh. Maka, jenis lok C yang tadi melayani Banda Aceh – Seulimum, hanya melayani route-route pendek : Banda Aceh – Ulee Lheue, Sigli – Lameulo, Langsa – Kuala Langsa. Selebihnya sebagai tukang lansir di stasiun-stasiun besar .

Komentar