Seteguk Ie Teube Cot Gleungkeuh

Penulis: Darmansyah

Kamis, 14 Februari 2013 | 09:20 WIB

Dibaca: 0 kali

“IE TEUBE,” air tebu,”  Cot Gleungkeuh  adalah teguk  segar kenikmatan yang mengusir haus. Air tebu yang telah menusantara ketika kelezatannya  ditemani “pulot” panggang “beuleukat”  yang wanginya mendedah di uap mulut karena perpaduan berbagai “taste.”

“Ie teube” Cot Gleungkeuh, ketika kami singgah di pekan pertama Februari lalu, masih menyisakan kelatnya air tebu berwarna coklat. Air tebu yang diperas  dengan pres kayu dan ditampung pelepah pinang. Bukan air tebu yang dipres dari gilingan mesin dengan bantuan elektrik  yang menghasilkan rasa pahit.

Cot Gleungkeuh memang sudah turun pamor selama satu setengah dekade terakhir. Dekade yang mendegradasikan bukit berdataran luas itu oleh carut marutnya keamanan dan lama menjadi pusat pertarungan “swepping” tentara Jakarta dan tentara GAM. Dekade itulah yang menyebabkan Cot Gleungkeuh, bukit yang menjadi penghubung antara  Samalanga dengan Jeunib itu, dialpakan pejalan.

Kami tak bisa melupakan zaman keemasan Cot Gleungkeuh yang naik pamor ketika  Blang Lancang tumbuh menjadi “zona industri,  dan bukit berhutan perdu itu menjadi “ziarah” wajib perjalanan di lintasan utara. Bukit yang  menyediakan  kenikmatan  segelas “ie teube” dan sepotong “pulot” panggang sebagai ritual di jambo berbangku kayu, berlantai tanah dengan meja papan serpihan dan dijalari angin lembut yang sulit diungkapkan kenikmatannya.

Hari kami datang kembali ke Cot Gleungkeuh, masih ada “ie teube” beraroma manis yang dililit oleh rasa kelat, sedikit pahit dan wanginya menjalar hingga menyapu langit-langit. Rasa yang campur aduk ketika gigitan “pulot” panggang disiram tegukan air tebu.”Ini sensasi rasa yang tak akan pernah saya lupakan,” kata Budi Santoso, jenderal pensiunan, teman perjalanan kami.

Sensasi rasa, ketika mantan perwira tinggi angkatan udara itu kami ajari urut-urutan menikmati air tebu dengan “pulot” panggang.  Urutan pertama membasahi mulut dengan seteguk serupan diikuti gigitan  sepotong “pulot” panggan untuk kemudian disiram tegukan berikutnya secara berulang-ulang.

“Mate aku nikmatnya. Ini betul-betul ritual. Ada rasa campur aduk yang mengikuti makanan selingan ini,” kata Budi mengacungkan dua jempolnya kepada kami. Budi, yang biasa berkerja sistematis dan detil itu bertanya banyak kepada penjual tentang bahan baku tebu, cara pengolahan dan apa masih ada “suplemen lain yang menyertai rasanya yang campur aduk itu.

Budi yang semula risih singgah di warung terbuka dengan kebersihan, yang  semula dikatakannya di bawah standar,  sejak kami singgah  bakda ashar itu, menulis di status “blackbery”  dengan kalimat,”Saya telah menemukan sensasi air tebu di bukit “swepping.”

Saya tergelak membaca kalimat di “bbm mesenger”nya. Tergelak dengan nama bukit yang ia namakan “ buket swepping.” Bukit yang saya beritahukan kepadanya sebagai kawasan paling beresiko di dekade amuk perang.  Bukit yang  ketika kami singgah, persis di depan sebuah markas kompi tentara, yang dulunya menjadi  lokasi maut, dan sering dijadikan basis penculikan orang sipil.  Tempat “swepping” dua kekuatan bersenjata  secara bergantian ketika Aceh di amuk perang “perjuangan.” Bukit yang dikala malam, dulunya,  menjadi “hantu” karena tak ada kenderaan yang berani melintas.

Cot Gleungkeuh, kini lebih sepi ketika pusat keramaiannya pindah ke kuburan syuhada di telapan kakinya. Kuburan syhada, yang kini, sudah di tata dengan mesjid, warung kopi dan keramaian yang tak pernah sirna sebagai lokasi ziarah paling populer di kawasan itu.

Komentar