Sepotong Senja di Sabang Hill

Penulis: Darmansyah

Jumat, 20 Desember 2013 | 15:45 WIB

Dibaca: 2 kali

Teluk Sabang, tempo doeloe, di lihat dari Sabang Hill, dengan dermaga, puluhan kapal api dan gudang-gudang barang ekspor impor milik Sabang Maatschpaij

Sabang Hill. Ketika mentari jingga mulai menjalar di Teluk Sabang dan membasuh lautnya dengan binar pantulan matahari senja yang digelitik oleh tepis angin lembut, hingga menjingkrakkan gelombang sampai kegelian, kami baru saja mengambil posisi di halaman hotel “heritage” itu.

Sabtu itu, pekan pertama Desember. Untuk kesekian “puluh” kalinya kami datang lagi ke bukit yang di”cacah” ketiaknya di masa “Sabang Maatschapaij,” hanya untuk sebuah kenikmatan menyaksikan “siluet” dan “sunset,” serta sebuah kemilau sebuah kemilau relung senja

Hampir satu jam kami duduk untuk menanti sepenggal senja disemlir angin di Sabang Hill, sebelum hari berangkat temaram, gelap dan sepi. Sebelumnya, dua jam lalu, kami sudah blusukan ke Iboh, Gapang dan Rubiah.

“Diving, snorkelling” dan bercanda dengan ikan napoleon serta menyiginya hingga ke rumah di hamparan terumbu karang, yang ketika tsunami dahsyat, sembilan tahun lalu berantakan, untuk kemudian “di jahit” oleh almarhum Dodent, sang professor kecil, bersama komunitasnya. Dan kini terumbu karang itu sedang berbiak mencari posisi awalnya.

Meski hari mulai gelap, pendar cahaya lampu dari dermaga masih tampak menarik kami yang di”paksa” beringsut karena azan Maghrib telah menjalar. Dengan panorama siluet laut bening Teluk Sabang, pendar cahaya itu bak kunang-kunang terus hinggap dan mengesankan suasana romantis.

Di pergantian hari, di Desember itu, Sabang Hill dan Teluk Sabang bak ikataan pertemanan yang memberi kami ”surga” kecil kenikmatan.. “Surga” kecil untuk untuk melepas lelah.

Sabang, sebenarnya bukan hanya Hill, adalah sebuah kawasan kota tua yang tampak seperti lukisan masih bertahan hingga kini. Bangunan-bangunan kuno, di pasar bawah dan rumah-rumah di pebukitan seperti kastil. Masih berdiri dan terawat.

Berdiri tegak sejak 1920, Sabang Hill awalnya merupakan sebuah bangunan milik Belanda yang dibangun khusus sebagai tempat komunikasi kabel atau telegram. Pada masa itu komunikasi tersebut hanya dapat dilakukan dari Sabang Hill karena okasinya dapat menjangkau area Teluk Sabang.

Kala itu Teluk Sabang dipenuhi oleh kapal dagang dari berbagai belahan dunia.Sejak saat itu lokasi dan tempat Sabang Hill menjadi pusat perhatian para pendatang yang mengunjungi Sabang.

Selain lokasinya berada tepat di dataran tinggi Teluk Sabang, Sabang Hill juga menyimpan keindahan alamnya yang luar biasa.Bahkan, ada sebuah foto pemandangan keindahan masa silam dari keluarga Belanda yang tinggal di tempat tersebut.

Foto dengan latar potret Teluk Sabang dengan belasan kapal api yang mesinnya digerakkan batubara dan asap hitamnya mengepul sepanjang hari..

Nama keluarga Belanda yang tinggal di tempat itu adalah Nyonya Colon. Ia memiliki seorang anak perempuan bernama Clary. Sahihnya, foto-foto milik Nyonya Colon itu kini juga terdapat di museum resmi di Belanda.

Sabang Hill, Teluk Sabang dan Kota Sabang sampai saat ini adalah perpaduan keindahan yang asri.
Sabang Hil sudah beberapa kali mengalami pemugaran termasuk pada 1980-an ketika otorita pelabuhan bebas, Kp4BS merstorasinya. Saat itu beberapa kali saya pernah diinapkan di Sabang Hill. Waktu itu pula Sabang Hill adalah kemewahan dengan fasilitas yang lengkap.

Walau sempat ditelantarkan selama beberapa tahun, Sabang Hill akhirnya dupugar kembali. Ya, Sabang Hill tetap tegak dengan keindahan dan nilai sejarahnya yang cukup tinggi.

Menurut penelusuran kami, Sabang Hill masih bedrada ditrek yang benar dengan tidak membuang bentuk asli dan suasana alaminya

Jika Anda berkesempatan mengunjungi kota paling barat di Indonesia ini, Sabang Hills bisa menjadi pilihan untuk melepas lelah sehabis menikmati indahnya alam di sana.

Sabang Hill terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda, Kebun Merica, Kota Sabang, Aceh. Kenyamanan hotel ini prima. Lokasinya yang hanya berjarak tiga puluh menit dari pelabuhan Balohan.

Hal ini membuat hotel dengan dominasi warna krem tersebut menjadi mudah diakses bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Panorama laut dan perbukitan hijau pun menjadi santapan mata ketika pengunjung membuka pintu kamar. Rasanya tak sabar saja kita ingin cepat-cepat bercumbu dengan indahnya alam Sabang.

Kota Sabang sendiri memiliki beragam destinasi wisata alam dan pengetahuan yang bisa dipilih pengunjung untuk dinikmati. Seluruh obyek wisata tersebut pun dapat dijangkau dengan mudah dari Sabang Hills karena tempatnya yang strategis. Paling lama, jarak tempuhnya sekitar 45 menit.

Anda tak perlu susah mencari tempat penginapan jika berwisata ke Aceh. Cukup tanya penduduk sekitar mengenai lokasi hotel tersebut dan nikmati kenyamanan dan keindahan Sabang dari Sabang Hills.

Komentar